Hukum Puasa Kifarat dan Sebabnya

Assalamu’alaykum.Pak Aam, kalau hukum puasa kafarat/kifarat itu apa? Bagaimana cara melaksanakannya dan berapa jumlahnya? Mohon penjelasannya. ( Nenny via fb )

 

 

 

 

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Puasa atau shaum kifarat/kafarat adalah shaum yang wajib dilaksanakan sebagai denda atas pelanggaran tertentu. Shaum ini wajib dilakukan apabila seseorang melakukan atau melanggar :

 

 

  1. Tidak mampu memenuhi nazar

 

 

Apabila kita bernazar (bersumpah) untuk melakukan sesuatu, namun karena satu dan lain hal sumpah tersebut tidak bisa dilaksanakan, kita akan terkena sanksi kifarat (denda). Misalnya, saat sakit saya bersumpah, “Demi Allah, kalau sembuh, saya akan berinfak sepuluh juta rupiah.” Setelah sembuh, ternyata saya tidak mempunyai uang sebanyak itu maka saya harus membayar kifarat (denda) dari sumpah yang tidak dilaksanakan. Bagaimana caranya? Perhatikan ayat berikut.

 

لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَٰكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُمُ الْأَيْمَانَ ۖ فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ ۖ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ ۚ ذَٰلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ ۚ وَاحْفَظُوا أَيْمَانَكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

 

“Allah tidak menghukum mu karena sumpah-sumpahmu yang tidak disengaja, tetapi Allah menghukummu karena sumpah-sumpah yang kamu sengaja. Maka, kafaratnya (denda pelanggaran sumpah) adalah memberi makan sepuluh orang miskin dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, memberi mereka pakaian, atau memerdekakan seorang hamba sahaya. Siapa pun yang tidak mampu melakukannya, maka kafaratnya berpuasa selama tiga hari. Itulah kafarat sumpah-sumpahmu apa bila kamu melanggar sumpahmu. Jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan hukum- hukum-Nya kepadamu agar kamu bersyukur.” ( Q.S. Al-Mā’idah : 89)

 

 

Ayat ini menerangkan kalau kita bersumpah, kemudian tidak mampu melaksanakan sumpah tersebut, kita harus membayar kifarat (denda) dengan tiga alternatif. Pertama, memberi makan atau pakaian kepada sepuluh fakir miskin. Kedua, memerdekakan hamba sahaya (budak) –saat ini perbudakan sudah dihapuskan. Ketiga, shaum tiga hari.

 

Kifarat (denda) ini bersifat pilihan, terserah mana yang paling memungkinkan untuk diri kita. Kalau kita memilih shaum, cara melaksanakannya bisa berturut-turut bisa juga tidak, karena ayat tersebut tidak menjelaskan secara rinci. Pokoknya shaum tiga hari, terserah mau berturut-turut atau tidak, semua dikembalikan pada kemungkinan/kemampuan kita yang akan melaksana kannya. Shaum ini disebut shaum kifarat.

 

  1. Batal shaum Ramadhan karena hubungan intim

 

 

Di antara pembatal shaum adalah makan, minum, dan hubungan seks pada siang hari. Kalau seseorang batal shaum Ramadhan karena melakukan hubungan seks, wajib membayar kifarat (denda).

 

Perhatikan keterangan berikut, Seorang laki-laki berhubungan intim (seks) dengan istrinya pada waktu shaum Ramadhan. Ia minta fatwa kepada Rasulullah Saw. tentang hal itu. Beliau bertanya,

 

Apakah kamu memiliki hamba sahaya?” Jawabnya, “Tidak.” Beliau bertanya lagi, “Sanggupkan engkau shaum dua bulan?” Jawabnya, “Tidak.” Maka beliau bersabda, “Berilah makan enampuluh orang miskin.” ( H.R. Muslim)

 

 

 

Hadits ini menjelaskan, kalau kita batal shaum Ramadhan karena melakukan hubungan seks, kifarat (denda)-nya bersifat pilihan. Pertama, memerdekakan hamba sahaya/budak (zaman sekarang sudah tidak ada). Kedua, shaum enampuluh hari. Ketiga, memberi makanan kepada enampuluh fakir miskin. Kalau kita mengambil kifarat shaum, pelaksanaannya harus berturut-turut selama dua bulan.

 

 

  1. Membunuh secara tidak sengaja

 

 

Dalam Q.S. An-Nisā’ ayat 92 dijelaskan, kalau kita membunuh sesama muslim dengan tidak sengaja, misalnya menabrak atau menembak binatang buruan tapi malah mengenai orang, kita harus membayar kifarat (denda) dengan cara memerdekakan hamba sahaya yang muslim sambil memberikan santunan kepada keluarga korban. Karena sekarang ini tidak ada lagi hamba sahaya, kita harus melaksanakan shaum dua bulan berturut-turut. Dalilnya sebagai berikut.

 

 

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ أَنْ يَقْتُلَ مُؤْمِنًا إِلَّا خَطَأً ۚ وَمَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَأً فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَىٰ أَهْلِهِ إِلَّا أَنْ يَصَّدَّقُوا ۚ فَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ عَدُوٍّ لَكُمْ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ ۖ وَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ فَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَىٰ أَهْلِهِ وَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ ۖ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ تَوْبَةً مِنَ اللَّهِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

 

 

“Tidak patut seorang beriman membunuh orang beriman lainnya, kecuali karena tidak sengaja. Siapa pun yang membunuh seorang beriman karena tidak sengaja, hendaklah ia memerdekakan seorang hamba sahaya beriman serta membayar tebusan yang diserahkan kepada keluarga yang terbunuh itu, kecuali jika keluarga yang terbunuh membebaskan pembayaran. Jika yang terbunuh itu dari kaum yang me musuhimu, padahal ia orang beriman, hendaklah yang membunuh me merdekakan hamba sahaya beriman. Jika yang terbunuh itu dari ka um kafi r yang ada perjanjian damai antara mereka dan kamu, hendaklah yang membunuh membayar tebusan yang diserahkan kepada keluarga yang terbunuh serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman. Jika tidak mendapatkan hamba sahaya, hendaklah yang membunuh berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai tobat kepada Allah. Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.” ( Q.S. . An-Nisā’ : 92)

 

 

  1. Menzihar istri

 

 

Dalam kebiasaan Jahiliah, kalau seorang suami sudah bosan dengan istrinya namun tidak tega untuk men talaknya, mereka menggunakan bahasa sindiran untuk menceraikannya dengan kalimat Anti kadhari ummi (engkau seperti ibuku). Cara seperti ini disebut menzihar istri.

 

Pada zaman Rasulullah Saw., ada seorang wanita yang merasa dizalimi dengan cara ini, dia datang menemui Nabi Saw. meminta fatwanya. Sebagai jawaban, turunlah ayat berikut,

 

 

(3). وَالَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُوا فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا ۚ ذَٰلِكُمْ تُوعَظُونَ بِهِ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

 

 

فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا ۖ فَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَإِطْعَامُ سِتِّينَ مِسْكِينًا ۚ ذَٰلِكَ لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ۚ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ ۗ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ

 

Mereka yang menzihar istrinya, ke mudian menarik kembali apa yang telah mereka ucapkan, diwajibkan untuk memerdekakan seorang budak sebelum suami istri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepadamu dan Allah Ma ha Mengetahui apa yang ka mu kerjakan. Siapa yang tidak dapat memerdekakan hamba sahaya, maka diwajibkan berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Tetapi, jika tidak mampu, ia wajib memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah agar kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Itulah hukum-hukum Allah dan orang-orang yang mengingkarinya akan mendapat azab yang sangat pedih.” ( Q.S. Al-Mujādalah : 3-4)

 

 

Ayat ini menegaskan bahwa menzihar istri itu hukumnya haram. Namun kalau sudah terlanjur dan ingin kembali lagi kepada istrinya, harus membayar kifarat (denda) dengan cara memerdekakan hamba sahaya/budak atau shaum dua bulan terus menerus atau memberi makan kepada enampuluh miskin. Nah, shaum ini disebut shaum kifarat.

 

 

Ada yang mengatakan bahwa ayat di atas melarang suami memanggil “mama, ibu, ummi, dan lain-lain” kepada istrinya. Kalau kita cermati maksud ayat itu tidaklah demikian. Kita diperbolehkan memanggil istri dengan panggilan “mama, ibu, ummi, dan lain-lain” selama niatnya bukan menzihar istri (menceraikan istri), tapi sekadar panggilan sayang.

 

 

  1. Mencukur rambut ketika ihram

 

 

Orang yang sedang ihram, baik haji ataupun umrah, wajib menaati hal-hal yang terlarang dalam ihram, salah satunya adalah dilarang mencukur rambut sebelum tahallul.

 

 

Apabila orang yang sedang ihram mencukur rambutnya, padahal belum tahallul, akan terkena kifarat (denda), yaitu dengan shaum tiga hari atau sedekah kepada enam miskin atau menyembelih binatang. Silakan pilih mana yang paling memungkinkan. Allah berfirman,

 

 

“…Jika kamu bercukur karena sakit atau ada gangguan di kepala, kamu wajib membayar fidyah, yaitu berpuasa, bersedekah, atau berkurban…” ( Q.S. Al-Baqarah : 196)

 

 

 

  1. Berburu ketika ihram

 

Orang yang sedang ihram dilarang berburu. Apabila larangan ini dilanggar, wajib membayar kifarat (denda) dengan cara menyembelih binatang sebesar binatang buruannya atau memberi makan kepada beberapa miskin atau shaum beberapa hari.

 

Besarnya binatang yang disembelih, banyaknya shaum, dan banyaknya fakir miskin yang harus diberi makan, ditentukan oleh hakim yang jujur. Jadi jenis kifaratnya bersifat pilihan, namun jumlah kifaratnya ditentukan oleh hakim yang dinilai jujur.

 

Nah, kalau kita mengambil kifarat (denda) shaum yang jumlah harinya ditentukan hakim, shaum ini disebut shaum kifarat. Berkaitan dengan kasus ini, Allah Swt. berfirman,

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْتُلُوا الصَّيْدَ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ ۚ وَمَنْ قَتَلَهُ مِنْكُمْ مُتَعَمِّدًا فَجَزَاءٌ مِثْلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ يَحْكُمُ بِهِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ هَدْيًا بَالِغَ الْكَعْبَةِ أَوْ كَفَّارَةٌ طَعَامُ مَسَاكِينَ أَوْ عَدْلُ ذَٰلِكَ صِيَامًا لِيَذُوقَ وَبَالَ أَمْرِهِ ۗ عَفَا اللَّهُ عَمَّا سَلَفَ ۚ وَمَنْ عَادَ فَيَنْتَقِمُ اللَّهُ مِنْهُ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ

 

“Hai, orangorang beriman! Janganlah kamu membunuh hewan buruan ketika kamu sedang ihram (haji atau umrah). Siapa pun di antaramu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ada lah menggantinya dengan hewan ternak yang sepadan de ngan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antaramu, sebagai hadyu yang dibawa ke Ka‘bah. Atau, dendanya dengan memberi makan orang-orang miskin seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu atau berpuasa agar ia merasakan akibat buruk dari perbuatannya.Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. Dan barangsiapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Allah Maha Kuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa.” ( Q.S. Al-Mā’idah : 95)

 

  1. Tidak mampu menyembelih hadyu.

 

Ada beberapa cara pelaksanaan ibadah haji, yaitu Haji Ifrad, Haji Qiran, dan Haji Tamattu. Orang yang melaksanakan Haji Tamattu wajib menyembelih hadyu (semacam kurban) di tanah suci.

 

Jika karena satu dan lain hal tidak mampu melaksanakannya (misalnya tidak punya dana untuk menyembelih binatang sembelihan), wajib membayar kifarat (denda) dengan shaum sepuluh hari. Caranya, shaum tiga hari saat melaksanakan haji (masih di tanah suci) dan shaum tujuh hari setelah kembali ke tanah air. Hal ini dijelaskan dalam fi rman Allah,

 

 

“…Apabila dalam keadaan aman kamu mengerjakan haji tamattu, yaitu melaksanakan umrah sebelum haji, kamu wajib menyembelih hadyu yang mudah didapat. Namun, jika tidak mendapatkannya, kamu wajib berpuasa tiga hari dalam musim haji dan tujuh hari setelah kembali ke tanah air. Jadi, seluruhnya sepuluh hari…” ( Q.S. Al-Baqarah : 196)

 

 

Kesimpulannya, shaum kifarat adalah shaum yang wajib dilaksanakan sebagai denda atas pelanggaran tertentu. Shaum ini wajib dilakukan apabila kita melaksanakan salah satu pelanggaran berikut. (1) Tidak dapat memenuhi nazar. (2) Batal shaum Ramadhan karena hubungan intim (seks). (3) Membunuh secara tidak sengaja. (4) Menzihar istri. (5) Mencukur rambut ketika ihram. (6) Berburu ketika ihram. (7) Tidak mampu menyembelih hadyu.

 

 

Adapun jumlahnya bergantung pada jenis pelanggaran yang dikerjakan, dan cara pelaksanaan shaumnya sama dengan shaum wajib. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bishshawab.[ ]

 

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

890

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

(Visited 387 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment