Hukum Amalan Malam Nisfu Sya’ban, Adakah Contoh Dari Rasul ?

Assalamu’alaykum. Pak Aam, sebenarnya ada tidak amalan yang dilakukan pada malam Nisfu Sya’ban? . Mohon penjelasannya. ( Revita via fb )

 

 

Wa’alaykumsalam. ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Begini, sebenarnya saya sering mengatakan disini, bahwa agama itu ukurannya benar bukan sekedar baik menurut kita. Benar kalau ada dalilnya baik dari Al Quran atau hadits. Dalilnya tentu harus shahih, karena tidak semua dalil itu bisa dipertanggungjawabkan. Kemudian bukan sekedar benar menurur kita.

 

 

Menurut penelitian para ahli hadist, hadist yang berkaitan dengan amalan-amalan nisfu sya’ban, seperti shalat pada pertengahan malam, shaum secara khusus di nisfu sya’ban dan sebagainya, menurut penelitian itu hadistnya dhaif. Nah, tidak mengikuti standar benar dalam metodologi ilmu Islam.

 

 

Tentu saja saya mengatakan demikian, dengan tidak mengurangi rasa hormat saya kepada mereka yang melaksanakan amalan nisfu sya’ban, saya tetap menghargainya. Tetapi secara ilmiah saya perlu menunjukkan bahwa kalau saudara-saudara sekalian serius mengamati dalil-dalil tentang nisfu sya’ban, itu tidak ada dalil yang shahih menjelaskan harus membaca yasin tiga kali, harus shalat bahkan hingga 100 rakaat. Jadi amalan-amalan khusus yang dilaksanakan di nisfu sya’ban itu yang saya kritisi.

 

 

Sementara, hadist shahih tentang sya’ban sendiri memang ada. Rasulullah menyuruh kita untuk meningkatkan amal ibadah di bulan sya’ban sebagai bentuk persiapan di bulan Ramadhan. Misalnya, sebelumnya saya tidak pernah shaum Senin atau Kamis, nah di bulan sya’ban itu coba untuk rajin shaum Senin atau Kamis untuk membiasakan diri mengahadapi Ramadhan.

 

 

Jika biasanya jarang membaca Al-Qur’an, maka diharapkan di bulan sya’ban itu meningkatkan bacaan Al-Qur’an, misalnya yang bacanya seminggu sekali menjadi setiap hari, yang biasanya sehari 1 halaman meningkat menjadi 10 halaman bahkan bisa sampai 1 juz. Tapi jangan khusus dipertengahan Sya’bannya saja.

 

 

Jadi menimbulkan kesan bahwa pertengahan Sya’ban adalah waktu yang istimewa. Padahal seluruh bulan Sya’ban itu utama. Itu yang saya kritisi, jadi saya tidak menistakan teman-teman yang melakukan ibadah nisfu Sya’ban, itu hak Anda. Tetapi secara ilmiah, saya harus berbicara dalam wilayah keilmuan.

 

 

Sebab dalam wilayah keilmuan, harus apa adanya. Oleh sebab itu saya katakan semua disiplin ilmu itu ada metodologinya. Dalam berbagai bidang ilmu tentu ada beragam metodologi sesuai dengan disiplin ilmu masing-masing. Karena untuk menemukan sebuah kebenaran itu butuh metoda, filosofi, dan cara masing-masing. Nah agama pun seperti itu.

 

 

Jadi kalau kita mengatakan suatu hal adalah benar, maka harus merujuk ke dalilnya apa, dalilnya itu ada dalam Qur’an dan sunnah. Nah kalau Al-Qur’an sudah pasti shahih, begitu bicara sunnah, kita harus lihat hadistnya itu shahih atau tidak? Maka, orang yang belajar agama secara serius, mereka harus tahu level-level hadist.

 

 

Hadist shahih itu ada variannya, begitupun hadist dhaif juga ada variannya. Level berikut ada hasan, itu pun ada lagi variannya. Jadi ada metoda yang harus kita mengerti. Ketika saya mengatakan bahwa hadist tentang Nisfu Sya’ban itu banyak yang dhaif, tentu saja secara ilmiah saya harus membuktikannya. Tentu rujukannya adalah metodologi ilmu hadist.

 

 

Jadi saya melakukan pendekatannya lebih bersifat keilmuwan. Saya tidak menistakan satu faham atau suatu pemikiran tapi saya menunjukkan pembanding. Kalau Anda setuju dengan pendapat pembanding dari saya, ya alhamdulillah, tapi kalau tidak sependapat ya tidak apa-apa.

 

 

Dunia ilmu itu adalah dunia yang dinamis. Kalau ada orang yang berbeda pemahaman dengan kita atau berbeda cara dengan kita, tidak usah marah, ini kalau kita berbicara dengan pendekatan ilmiah. Dalam dunia ilmiah itu selalu ada perbedaan.

 

 

Ada orang yang belajar di sekolah dengan guru yang sama, tapi tetap saja cara berfikirnya berbeda. Jadi itu yang harus kita garis bawahi. Berbeda pandangan itu tidak apa-apa, yang tidak boleh adalah saling menghinakan, saling menyalah, menganggap diri atau kelompoknya yang benar dan yang lain salah hingga timbul sikap saling bermusuhan. Ini yang tidak boleh.

 

 

 

Jadi sekali lagi kalau ada perbedaan pendapat maka harus kembali mengacu pada sumber hukum utama dalam Islam yakni Allah ( Al Quran ) dan Rasul-Nya ( Hadits). Dalam Al Quran, Allah Swt berfirman,

 

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

 

Hai, orang-orang beriman! Taati Allah, taati Rasul, dan Ūlil Amri (pe­megang kekuasaan) di antara kamu. Apa­bila kamu berbeda pendapat ten­tang sesuatu, kembalikanlah ke­pada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sun­nahnya) jika kamu benar-benar ber­iman kepada Allah dan Hari Kemudian. Hal itu lebih utama dan lebih baik akibatnya bagimu.” (QS. An Nisa: 59).

 

 

Dalam ayat tersebut Allah mengingatkan,

(فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ)

Jika kalian berselisih dalam suatu hal, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya

Maksudnya kembali kepada Allah adalah kembali kepada Al Qur’an dan kembali kepada Rasul adalah kembali kepada As Sunnah atau hadits. Dan yang menguasai hal itu adalah para ulama yang mengkhususkan diri dalam ilmu agama.Didalamnya ada ahli hadits, ahli tafsir dan sebagainya.

 

 

BACA JUGA: Hukum Puasa Nazar

 

 

Jadi sekali lagi dalam beribadah itu dalil atau dasarnya benar menurut Allah dan Rasul-Nya, bukan baik menurut kita atau ukuran manusia. Jangan beramal dengan bersumber pada ungkapan atau berdasarkan  “katanya-katanya”. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat.  Wallahu ‘alam bishawab. [ ]

 

 

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

860

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

(Visited 2,299 times, 3 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment