Hanya Allah Tempat Meminta dan Memohon

berdoa berdzikir

 

 

Tafsir surat Al Ikhlas ayat 2

 

Oleh: Dr. Aam Amiruddin, M.Si

 

 

PERCIKANIMAN.ID – – Setiap manusia pastinya mempunyai masalah atau problem hidup yang harus diselesaikannya. Namun yang membedakannya antara orang satu dengan yang lainnya dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah adalah sudut pandang dan cara mensikapinya.

 

 

Dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah, ada orang yang emosi dan selalu menyalahkan keadaan, orang lain bahkan Allah Swt sendiri disalahkan sebagai “pembuat” masalah. Namun ada juga yang bersikap pasrah menerimanya sebagai sebuah cobaan hidup.

 

 

Sebagai orang yang beriman maka kita diajari dan diperintahkan untuk senantiasa bermohon dan berdoa kepada Allah Swt atas segala ujian hidup. Bermohon jalan keluar jika sedang bermasalah dan senantiasa sabar atas ujian tersebut. Maka kuncinya adalah senantiasa memohon dan meminta kepada Allah. Dalam Al Quran Allah Swt telah tegaskan,

 

 

(2). اللَّهُ الصَّمَدُ

 

 

Allah tempat meminta segala sesuatu.” ( QS. Al Ikhlas: 2)

 

 

Ayat ini menegaskan, hanya Allah yang harus menjadi tumpuan harapan. Hanya kepada-Nya kita bergantung dan memohon pertolongan. Rasululullah Saw. pernah berwasiat,

 

 

“Apabila kamu memohon, mohonlah kepada-Nya, dan bila kamu meminta perto longan, mintalah pertolongan kepada-Nya.” (H.R. Tirmidzi)

 

 

Muhammad Abduh dalam karyanya Tafsir Al-Qur’an Al Karim menyatakan, kata ash-shamad meng isyaratkan pengertian bahwa kepada Allahlah secara langsung bermuara setiap permohonan, tanpa harus ada perantara atau pemberi syafaat. Penegasan Allaahushshamad merupakan antitesis (perlawanan) terhadap keyakinan kaum musyrikin dan penganut agama-agama lainnya yang berkeyakinan bahwa Tuhan harus didekati melalui perantaraan orang-orang saleh.

 

 

Sesungguhnya kaum musyrikin yang memusuhi Islam percaya kepada eksistensi Allah Swt. Namun, me reka tidak pernah langsung berdoa atau beribadah kepada-Nya. Mereka membuat perantara yaitu dalam bentuk berhala atau orang-orang saleh yang sudah meninggal. Saat mereka ditegur, “Mengapa kalian me nye mbah berhala-berhala ini?” Jawabnya, “Kami tidak pernah beribadah pada berhala ini, kami hanya men jadikannya perantara untuk menyampaikan permo honan kami kepada Allah.”

 

 

 

“…Orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah berkata, ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan berharap agar mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat mungkin…’” (Q.S. Az-Zumar [39]: 3).

 

 

 

Kalau kita cermati, saat ini masih ada sebagian ka um muslimin yang keyakinan dan perilakunya seper ti kaum musyrikin jahiliah. Mereka datang ke kub u ran orang saleh, lalu shalat dan berdoa, “Ya Auliyaa Allah (wahai para kekasih Allah), sampaikan permo honan kami kepada Allah agar anak kami segera men da patkan jodoh.”

 

 

Sewaktu ditegur, “Mengapa Anda minta kepada orang-orang saleh yang telah wafat? Mengapa tidak langsung saja meminta kepada- Nya?” Jawabnya, “Kami tidak meminta pada para wali, tapi hanya menjadikannya sebagai perantara agar doa kami segera disampaikan kepada-Nya. Mereka itu kan orang-orang saleh, sementara kita hanya orang biasa.” Coba Anda amati, substansi jawabannya tidak berbe da dengan jawaban kaum musyrikin seperti tertera pada Q.S. Az-Zumar ayat 3 di atas.

 

Seorang Badui pernah bertanya kepada Nabi Saw.,

 

 

“Ya Rasulullah, apakah Tuhan itu dekat atau jauh? Kalau dekat, saya akan minta dengan suara pelan dan kalau jauh saya akan minta dengan suara keras.”

 

 

Mendengar pertanyaan itu Rasulullah Saw. terdiam menunggu wahyu, hingga turun ayat berikut,

 

 

“Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, jawablah bahwa Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa jika ia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka menaati perintah-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 186).

 

 

 

Merujuk pada ayat ini, para ahli tafsir mene gaskan, sudah sepatutnya seorang hamba berdoa dengan suara lembut, tidak perlu keras, karena Allah itu Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Juga tidak perlu pakai perantara karena Allah itu qariib (sangat dekat). Adapun terkabul dan tidaknya suatu doa, sangat ditentukan oleh kesalehan diri kita, bukan kesalehan orang lain, karena pada ayat itu ada kalimat

 

 

Hendaklah mereka itu (orang yang memohon) memenuhi segala perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku.”

 

 

Jelaslah bahwa Al-Qur’an mengarahkan agar kita selalu memohon, berdoa, dan beribadah secara langsung kepada-Nya,tanpa perantara, karena ini merupakan refl eksi dari Allaahushshamad. [ ]

 

Wakaf Al Quran Untuk Sentani Papua, info: 087738883558

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

704

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

(Visited 304 times, 2 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment