Meski Beda Pilihan, Begini Cara Agar Ukhuwah Tetap Terjaga

Assalamu’alaykum. Pak Aam, akhir-akhir ini umat Islam dihadapkan pada situasi yang sangat memprihatinkan. Hanya karena wadah politik yang berbeda, kemudian beda pilihan capres kita menjadi saling bermusuhan, menebar fitnah bahkan di sejumlah daerah saling menyerang fisik. Apa yang harus kita lakukan menghadapi situasi seperti ini? Mohon nasihatnya. ( Ade via fb )

 

 

 

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Apa yang Anda sampaikan tentunya menjadi keprihatinan kita bersama khususnya kaum muslimin. Pada umat Islam adalah bersaudara. Hal ini seperti yang difirmankan Allah Swt,

 

(10). إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

 

Sesungguhnya, orang-orang mukmin itu bersaudara. Karena itu, damaikanlah antara kedua saudaramu yang berselisih dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” ( QS. Al Hujurat : 10 )

 

 

Dalam ayat tersebut Allah menegaskan bahwa “Sesungguhnya, orang-orang mukmin itu bersaudara”. Ini yang harus menjadi point. Kemudian selanjutnya “ Damaikanlah antara kedua saudaramu yang berselisih dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”

 

 

Jadi kalau ada perselihan termasuk beda pendat atau beda pilihan maka sikap kita harus mendamaikan, bukan malah memperkeruh perselisihan menjadi perpecahan. Beda pilihan tidak masalah, tetapi dalam ayat tersebut pesannya tetap damai. Kemudian tetap menjaga dan mengajak kepada ketakwaan sehingga sesama muslim mendapat rahmat Allah.

 

 

Bersikap lemah lembut, saling menghargai, menghormati, dan lapang dada terhadap sesama muslim merupakan modal penting kokohnya ikatan Ukhuwah Islamiyah.  Sebesar apa pun jumlah kita, kalau tidak ada kesatuan, akan jadi bumerang. Sebaliknya, walaupun jumlah kita sedikit, tetapi kalau kuat akan menjadi kekuatan yang luar biasa.

 

 

Idealnya, jumlah yang besar didukung oleh soliditas yang mantap, insya Allah akan menjadi kekuatan yang dahsyat! Umat Islam di Indonesia jumlahnya mayoritas, namun karena ukhuwah hanya sebatas khotbah, saling menghargai sebatas hiasan bibir, ta’awun (tolong menolong) sekadar motto, dalam tataran praktis justru merasa paling benar, paling Al-Qur’an-Sunnah, so suci, dengki kalau orang lain maju.

 

Pada akhirnya, kita menjadi permainan orang lain, tidak punya bargaining power (posisi tawar) yang kuat. Nabi Saw. mengingatkan,

 

Seorang muslim adalah saudara bagi sesama muslim. Karena itu, janganlah menganiayanya, jangan membiarkannya teraniaya, dan jangan menghinanya. Takwa tempatnya di sini! (sambil beliau menunjuk dadanya tiga kali). Alangkah besar dosanya menghina saudara sesama muslim. Setiap muslim haram menumpahkan darah sesama muslim, haram merampas hartanya, dan haram mencemarkan kehormatan dan nama baiknya.” ( H.R. Muslim, Jilid IV, No. 2193)

 

 

Kemudian dalam haidts yang Rasul bersabda, “Hindari prasangka buruk, karena dia berita paling bohong. Jangan saling mencari keburukan, jangan saling mengorek aib, jangan bersaing secara tidak sehat, jangan saling mendengki, jangan saling marah, dan jangan saling tidak peduli. Tetapi jadilah kamu semua bersaudara sebagai hamba-hamba Allah.” ( H.R. Muslim, jilid IV, No. 2119)

 

 

Untuk itu, marilah kita implementasikan (terapkan) Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan seiman) menjadi darah daging kehidupan kita. Mulailah dari hal-hal kecil, di antaranya adalah sebagai berikut.

 

  1. Tunjukkan keramahan

 

Dalam haditsnya Rasul bersabda,

“Janganlah kamu menganggap sepele (remeh) pada kebaikan, walaupun sekadar menampakkan wajah yang ramah saat bertemu saudaramu (sesungguhnya itu kebaik an).” ( HR. Muslim)

 

Dalam hadits yang lain juga dipesankan ,  “Wajah yang ramah saat bertemu saudaramu, itu shada qah.” ( HR. Tirmidzi)

 

Dalam pengakuan sahabat Jarir bin Abdullah r.a. yang memaparkan pengalamannya selama bergaul dengan Rasulullah Saw., “Sejak masuk Islam, saya menyaksikan wajah Rasul selalu tersenyum ramah.” ( H.R. Bukhari dan Muslim)

 

 

  1. Nasihati secara bijak

 

Jarir ibnu Abdullah r.a. menerangkan, “Saya bersumpah setia kepada Rasulullah Saw. untuk mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, dan memberi nasihat kepada sesama muslim.” ( H.R. Bukhari dan Muslim). Persahabatan yang sesungguhnya harus dibangun di atas cinta, kejujuran, dan nasihat. Kalau sahabat kita benar, dengan cinta, jujur, dan ikhlas kita mendukungnya, dan kalau keliru, dengan cinta dan jujur kita menasihatinya.

 

 

Semua orang punya harga diri dan kehormatan. Karena itu, nasihatilah dengan tetap menjaga kehormatannya. Walaupun nasihat kita benar, namun kalau dilakukan dengan menginjak-injak harga diri dan kehormatannya, kemungkinan besar orang tersebut bakal menolak. Maha benar firman Allah yang menyatakan,

 

Serulah manusia pada jalan Tuhan mu dengan hikmah dan peng a jar an baik dan berdebatlah de ngan mereka dengan cara yang baik…” ( Q.S. An- Naĥl : 125)

 

  1. Doakan

 

Doa yang paling tulus yaitu tatkala kita mendoakan orang lain tanpa sepengetahuannya. Doa seperti ini akan di-amin-kan malaikat dan akan segera dikabulkan Allah Swt. sebagaimana sabda Rasulullah Saw.,

 

Sesungguhnya doa seorang muslim yang dipanjatkan tanpa sepengetahuanorang yang didoakan pasti dikabulkan karena di atas kepalanya ada malaikat. Setiap kali orang itu mendoakan kebaikan untuk orang lain, malaikat itu menyahutnya, ‘Amin! Mudah-mudahan Allah mengabul kan dan memberikan kebaikan yang sama kepadamu.’” ( H.R. Bukhari dalam Adabul Mufrad)

 

 

Bertolak dari keterangan ini, hendaklah kita selalu mendoakan orang lain tanpa harus dipinta. Begitu tahu sahabat kita sedang punya masalah, segera doakan agar ia bisa menyelesaikan masalah yang dihadapinya, ini bukti bahwa kita bersikap lembut terhadap sesama muslim.

 

 

 

  1. Ringankan beban hidupnya

 

Di antara bukti bahwa kita bersikap lembut terhadap sesama mukmin adalah membantu meringankan beban hidupnya. Kalau dia butuh modal untuk pengembangan usahanya, bantulah kalau kita punya. Kalau dia butuh biaya untuk menyekolahkan anaknya, berilah beasiswa bila kita mampu.

 

 

Kalau dia butuh dana untuk berobat, berilah kalau memang ada. Jadi, apa pun yang bisa kita lakukan untuk meringankan beban orang lain, lakukanlah. Kalau tidak bisa meringankan bebannya dengan harta, minimal kita mau mendoakannya. Ingatlah, Allah Swt. akan senantiasa menolong kita selama kita suka menolong orang lain.

 

“Siapa yang menolong kesusahan seorang muslim dari kesusahankesusahan dunia, pasti Allah akan menolongnya dari kesusahan-kesusaha akhirat. Siapa yang meringankan beban orang yang susah, niscaya Allah akan ringankan bebannya di dunia dan akhirat. Siapa yang menutup aib seorang muslim niscaya Allah akan tutup aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya selama si hamba itu suka menolong orang lain.” ( H.R. Bukhari)

 

Itulah di antara usaha-usaha konkret untuk sampai pada persaudaraancyang hakiki. Kalau kita mampu bersikap lembut, saling menghargai,clapang dada, pemaaf, sibuk memperbaiki kekurangan sendirichingga lupa kelemahan dan aib orang lain, insya Allah jasad kita tidakcakan disentuh api neraka dan akan mendapatkan pertolongan-Nya. Ibnu Mas’ud r.a. berkata, Rasulullah Saw. bersabda,

 

 

Maukah kalian aku beritahu orang yang jasadnya tidak akan disentuh api neraka? Yaitu, setiap muslim yang bersikap lunak dan lemah lembut terhadap saudara seiman.” ( H.R. Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Hibban)

 

 

Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah Swt. berfirman pada hari kiamat, ‘Mana orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Hari ini akan Aku naungi (tolong) mereka, di mana tidak ada naungan (pertolongan) yang lain selain dari-Ku.’” ( H.R. Muslim, jilid IV, No. 2197).

 

 

Jadi sekali lagi, beda pilihan itu hal yang biasa tetapi menjaga ukhuwah atau persaudaraan sesama muslim itu harus menjadi hal atau prioritas yang utama. Beda pilihan politik hanya urusan dunia tetapi jika sampai memutuskan ukhuwah atau silaturrahmi maka bisa menjadi urusan dunia akhirat. Ingat pesan Rasulullah,

 

 

 

“ Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan persaudaraan (silaturrahmi).” ( HR. Bukhâri dan Muslim, dari Jubair bin Muth’im )

 

 

 

Hadits ini menunjukkan bahwa memutuskan kekerabatan atau persaudaraan sesama muslim merupakan dosa besar, dan bisa menghalangi seseorang untuk masuk surga. Mari kita tetap jaga persaudaraan atau ukhuwah sesama muslim. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu’alam bishshawab. [ ]

 

 

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

783

 

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

 

(Visited 1,119 times, 25 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment