Allah Lebih Dekat Dari Urat Leher, Begini Penjelasannya

 

Assalamu’alaykum. Pak Ustadz, mohon maaf sebelumnya barangkali bisa dijelaskan dengan ungkapan “Allah itu lebih dekat dari urat leher manusia.”. Lalu tentangkan ungkapan, “Ketika kita berdua, Allah yang ketiga. Apakah ini semacam ungkapan para sufi ? Terima kasaih ( Danu via fb )

 

 

 

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dana sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Ungkapan yang pernah Anda dengar tersebut bukan perkataan sufi melainkan ungkapan Allah dalam Al Quran. Coba simak

 

 

(16). وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

 

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang terbersit dalam hatinya, dan Kami ( Allah ) lebih dekat ke padanya daripada urat lehernya.” ( QS. Qāf : 16 )

 

 

Dalam ayat yang lain dalam Al-Qur’an, Allah Swt berfirman,

 

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۖ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَىٰ ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَىٰ مِنْ ذَٰلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ۖ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

 

“Tidakkah kamu perhatikan bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Allah yang keempatnya. Tidak ada lima orang, melainkan Allah yang ke enamnya. Tidak ada yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Allah pasti ada bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian, pada hari Kiamat, Allah akan memberitakan apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Mujādalah : 7 )

 

 

 

Pada surat Qāf di atas, ada kalimat mengetahui apa yang terbersit dalam hatinya dan pada surat Al-Mujādalah di atas, terdapat kalimat Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumii. Penggalan ayat-ayat di atas merupakan keyword (kata kunci) untuk memahami substansi (hakikat) kedua ayat tersebut secara benar. Artinya, inti dari kedua ayat itu menjelaskan bahwa Allah Maha Mengetahui apa pun yang diperbuat manusia khususnya dan semua makhluk ciptaan-Nya.

 

 

 

 

Ini menjadi pemahaman tentang akidah bahwa Allah Maha Tahu atas apa yang kita perbuat bahkan sekedar niat saja Allah sudah pasti tahu. Jangankan perbuatan lahir, perbuatan batin pun Allah mengetahuinya. Sementara kalimat berikutnya yang menyatakan Kami lebih dekat ke padanya daripada urat lehernya dan kalimat Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Allah yang keempatnya merupakan penekanan dan penjabaran atau ilustrasi dari kata-kata kunci tersebut.

 

 

 

Dengan demikian, Anda tidak perlu bingung berada di manakah Allah itu, karena substansi ayat itu bukan membicarakan tentang pengetahuan Allah Yang Maha Luas tak berbatas. Dalam kajian tauhid ada yang disebut Muraqabatullah, artinya suatu kondisi psikis seseorang yang kapan dan di mana pun berada, merasakan tatapan Allah atau dalam pengawasan Allah.

 

 

 

Muraqabatullah menjadi jantung keimanan seorang Mukmin. Artinya, bila Muraqabatullah dirasakan kuat oleh kita, ini menunjukkan kadar iman yang sedang meningkat. Namun, bila Muraqabatullah ini terasa melemah, menunjukkan iman juga sedang lemah.

 

 

 

Kalau kita renungkan lebih jauh, salah satu penyebab utama permasalahan bangsa ini adalah lemahnya Muraqabatullah. Kebohongan sudah menjadi kultur bangsa kita; mahasiswa nyontek, pejabat korup, bisnis penuh tipu, dan banyak kasus lainnya, bersumber dari lemahnya Muraqabatullah. Orang hanya merasa takut dan malu dilihat dan diketahui orang lain. Ia merasa yang melihat dan mengawasi tingkah laku atau perbuatan hanya manusia. Padahal Allah Maha Melihat atas semua yang dilakukan dan akan dilakukan manusia.

 

 

 

Karena itu, betapa pentingnya kita merenungi, menghayati, dan mengamalkan ayat di atas. Jadilah kita individu yang selalu merasa ditatap dan dilihat Allah Swt. Dengan demikian kita akan senantiasa berbuat baik baik dilihat atau tidak dilihat orang. Kita akan menghindari perbuatan munkar dan tercela, baik tidak ada orang maupun ada orang.

 

 

BACA JUGA: Mendidik Anak Berakidah dan Berakhlak

 

Ayat yang Anda tanyakan berbicara mengenai pengetahuan Allah Yang Maha Luas tak terbatas. Apa pun yang kita lakukan, baik pekerjaan lahir maupun batin, sesungguhnya senantiasa dalam pantauan-Nya dan diketahui-Nya.  Dan ingat segala yang kita lakukan akan mendapat balasan dari Allah, baik perbuatan baik maupun yang buruk,

 

 

(7). فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ

 

(8). وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

 

 

Maka, barang siapa mengerjakan kebaikan seberat żarrah, niscaya ia akan melihat balasannya, dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat żarrah, niscaya ia akan melihat balasannya.” ( QS. Az-Zalzalah  : 7 – 8 )

 

 

Semoga dengan memahami dan menyadari hadir-Nya Allah dalam setiap diri kita akan menjadikan kita bertambah keimanannya dan lebih meningkatkan ketakwaan dan amal shalih.  Demikian penjelasannya semoga bermanfaat.  Wallahu a’lam bishshawab.

 

 

4

 

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

730

 

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

(Visited 145 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment