Wali Allah, Ini Pengertian dan Ciri-Cirinya Dalam Al Quran

0
259

Assalamu’alaykum. Pak Ustadz, saya sering mendengar ceramah tentang wali Allah, bahkan orang pintar atau ulama juga digolongkan sebagai wali Allah. Sebenarnya siapa wali Allah itu ? Seperti apa ciri-cirinya mereka? Apakah selain ulama atau orang biasa bisa menjadi wali Allah. Mohon penjelasannya. ( Gun via fb )

 

iklan

 

 

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang di rahmati Allah. Kata Al Waliy diambil dari akar kata wau, lam dan ya, makna dasarnya adalah dekat. Tentu disini yang dimaksud adalah, dekat dengan Allah.

 

 

 

Dengan demikian maka sebutan atau istilah Wali Allah adalah orang-orang yang selalu dilindungi dan diberi pertolongan oleh Allah Swt. Dalam Al Quran sendiri dapat kita baca tentang kalimat waliy,

 

(257)……اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ

 

“Pelindung orang-orang beriman adalah Allah yang mengeluarkan mereka dari kegelapan pada cahaya iman…” ( Q.S. Al-Baqarah : 257).

 

 

 

Allah akan melindunginya saat akan terjerumus pada jebakan setan sehingga terhindar dari bahaya yang akan merusak kehidupannya.

 

 

(201). إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ

 

 

“Sesungguhnya, orang-orang bertakwa, apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat dari setan dan mereka segera ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” ( Q.S. Al-A‘rāf : 201).

 

 

Wali Allah adalah orang yang beriman dan bertakwa sehingga hidupnya tidak ada kekhawatiran dan ketakutan karena yakin akan pertolongan dan perlindungan Allah. Dalam Al Quran Allah Swt berfirman,

 

(62). أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

 

(63). الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

 

“Ingatlah wali-wali Allah. Mereka tidak takut dan tidak bersedih hati. Yaitu, orang-orang beriman dan senantiasa bertakwa.” ( Q.S. Yūnus : 62-63).

 

(55). إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ

 

“Sesungguhnya, penolongmu hanya lah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, seraya tunduk kepada Allah.” ( Q.S. Al-Mā’idah : 55).

 

 

Kemudian Wali Allah itu bukanlah disebabkan karena keturunan atau warisan dari orang tuanya yang menjadi wali. Siapa pun yang bersungguh-sungguh di jalan Allah dalam keadaan iman dan takwa, maka insya Allah, Allah akan selalu memberikan hidayah (petunjuk) dan perlindungan-Nya. Dalam Al Quran disebutkan,

 

(69). وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

 

“Orang-orang yang berjihad untuk mencari keridhoan Kami, akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami kepada mereka. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” ( QS. Al-‘Ankabūt : 69).

 

 

Orang yang mendapatkan hidayah dan anugerah Allah hidupnya senantiasa ada dalam kebaikan dan kebenaran (ada dalam keadaan fitrah/suci). Wali Allah adalah orang yang dicintai Allah, dan cinta Allah dapat diraih oleh orang yang menyucikan dirinya. Coba perhatikan firman Allah,

 

 

…Sesungguhnya, Allah menyukai orang yang tobat dan menyucikan diri.” ( QS. Al-Baqarah[2]: 222)

 

 

Memang ada sebagian masyarakat beranggapan bahwa wali Allah itu biasanya memiliki kemampuan-kemampuan supranatural atau kemampuan yang tidak biasa dimiliki oleh manusia keumuman, misalnya mampu berangkat haji tanpa naik pesawat, dalam sekejap sudah ada di tanah suci atau bisa mengetahui kapan seseorang itu mati atau mendapat jodoh.

 

 

Inilah keyakinan yang kurang benar dari sebagian masayarakat kita tentang para wali Allah. Barangsiapa menjalankan ibadah atau melakukan amalan-amalan saleh dengan sengaja ingin mencari kekuatan supranatural, amalamalannya itu tidak diterima Allah Swt. Sebab untuk diterima Allah, amalan apa pun harus dilakukan dengan tulus ikhlas dan niat yang murni.

 

(5). وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

 

“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena menjalan kan agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itu lah agama yang lurus.” ( QS. Al-Bayyinah : 5)

 

 

Banyak penegasan dalam Al-Qur’an bahwa para Nabi pun adalah manusia biasa yang pada mereka berlaku hukum-hukum kemanusiaan biasa seperti makan, minum, nikah, sakit, bahkan terbunuh.

 

(20). وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الْأَسْوَاقِ ۗ وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ ۗ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا

 

“Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu (Muhammad), melainkan mereka pasti memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Kami jadi kan sebagianmu sebagai cobaan bagi se bagian yang lain. Maukah kamu ber sabar? Tuhanmu Maha Melihat.” ( Q.S. Al-Furqān : 20)

 

 

 

Nabi Muhammad sendiri beberapa kali diperintahkan Allah untuk menyatakan bahwa beliau sebagai manusia biasa, hanya mempunyai kelebihan sebagai utusan Allah yang menerima ajaran tentang kebenaran abadi. Kemudian Nabi sendiri melarang umatnya mengultuskan beliau sebagaimana kaum Nasrani mengkultuskan Isa putra Maryam.

 

 

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا ۗ وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

 

“ Muhammad hanyalah seorang rasul yang sebelumnya telah berlalu beberapa rasul. Apakah jika ia wafat atau dibunuh, kamu akan murtad? Siapa pun di antaramu yang murtad, maka sedikit pun Allah tidak akan rugi. Allah akan memberi balasan kepada orang yang bersyukur.” ( Q.S. Āli ‘Imrān : 144)

 

 

Katakan Muhammad, ‘Sungguh, aku hanya manusia seperti kamu yang telah menerima wahyu bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.’ Barang siapa mengharap pertemuan de ngan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan kebajikan dan jangan mem per sekutukan dengan sesuatu apa pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” ( Q.S. Al-Kahf [18]: 110)

 

 

Kemudian dalam hadits beliau sendiri bersabda,

 

 

Janganlah kamu mengultuskan aku sebagaimana kaum Nasrani mengultuskan Isa putra Maryam. Katakanlah, bahwa aku ini manusia biasa yang diangkat mejadi seorang Rasul.” ( H.R. Bukhari)

 

 

 

Karena beliau seorang manusia biasa, terdapat logika bahwa beliau adalah teladan yang baik bagi umat manusia biasa, sebab tidak logis kita sebagai umat biasa dituntut untuk meneladani seorang tokoh yang bukan manusia biasa.

 

Peneladanan hanya terjadi dan berlangsung dengan baik antara dua pihak yang pada dasarnya memiliki kesepadanan atau kesamaan.

 

 

(21). لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

 

 

“Sungguh, pada diri Rasulullah itu ada suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharapkan rahmat Allah dan yakin akan kedatangan hari Kiamat serta banyak mengingat Allah.” ( Q.S. Al- Aĥzāb : 21).

 

 

(6). لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيهِمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ ۚ وَمَنْ يَتَوَلَّ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

 

 

“Sungguh, pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) terdapat teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang meng harap pahala Allah dan keselamatan pada Hari Kemudian. Siapa pun yang berpaling, se sungguhnya Allah Maha kaya, Maha Terpuji.” ( Q.S. Al-Mumtaĥanah : 6).

 

 

Bertolak dari penelaahan ini, jelaslah bahwa para nabi itu seperti kita, manusia biasa. Kelebihannya, mereka diberi wahyu, tapi mereka tidak memiliki kemampuan-kemampuan mistik atau supranatural .

 

BACA JUGA: Keutamaan Shalat Sunnah

 

Namun Nabi dan Rasul diberikan mukzijat oleh Allah, misalnya Nabi Muhammad Saw dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj, lalu Nabi Musa yang bisa membelah lautan, Nabi Isa yang bisa menghidupkan orang meninggal dan yang lainnya. Akan tetapi itu bukan kekuatan mistik melain sebuah mukzijat yang Allah berikan kepada para Nabi dan Rasul-Nya.

 

 

 

Kalau kemudian para wali yang kedudukannya di bawah para nabi, tentu mereka tidak identik dengan orang-orang yang mempunyai kekuatan mistik seperti yang banyak dipahami oleh sebagian masyarakat kita. Ini adalah anggapan yang salah. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu’alam bishshawab. [ ]

 

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

960

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman