Pentingnya Memahami Tauhid Rububiyyah,Mulkiyyah dan Uluhiyyah Bagi Seorang Muslim

 

Tafsir Surat An-Nās ayat 1 – 3

 

 

 

Oleh: Dr.Aam Amiruddin,M.Si

 

 

 

PERCIKANIMAN.ID – – Tauhid atau ketauhidan adalah prinsip dasar dalam keimanan seorang muslim. Ia harus terus dipertahankan dan dijaga hingga akhir hayat. Prinsip tauhid ini terdapat dalam Al Quran khususnya dalam surat An Nas pada awal ayat,

 

(1). قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ

 

(2). مَلِكِ النَّاسِ

 

(3). إِلَٰهِ النَّاسِ

 

 “Katakan, ‘Aku berlindung kepada Tuhan manusia. Raja manusia, sembahan manusia.’” ( QS. An Nas : 1 – 3)

 

 

Ibnu Katsir dalam Mukhtashar Tafsir Ibn Katsir, jilid 3, hal 696, menjelaskan, “Ayat satu sam pai tiga dalam surat An-Naas menegaskan tiga aspek ke tauhidan yang paling fundamental, yaitu Tauhid Rububiyyah, Mulkiyyah, dan Uluhiyyah”.

 

 

Pertama, Tauhid Rububiyyah diambil dari kalimat Rabbinnas. Maknanya, yakin hanya Allah satu-satunya Pencipta, Pemilik, dan Pengendali alam raya. De ngan kekuasaan-Nya, Ia menghidupkan dan mematikan.

 

 

(40)………..اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ ثُمَّ رَزَقَكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ

 

“Allah yang menciptakanmu, memberimu rezeki, mematikanmu, kemudian menghidupkanmu kembali…” (Q.S. Ar-Rūm : 40).

 

 

Jadi, Qul a’udzu birabbinnaas memiliki makna, “Katakanlah, aku berlindung kepada yang mencipta, mengatur, memberi rizki, menghidupkan, dan mematikan.

 

 

Kedua, Tauhid Mulkiyyah diambil dari kalimat Malikinnas. Maknanya, yakin hanya Allah Swt. raja atau penguasa yang sesungguhnya, penguasa yang pa li ng berhak menentukan aturan hidup. Aturan hidup-Nya termaktub dalam Al-Qur’an dan sunah Rasul.

 

 

Kalau kita mau mempelajari dan mengamalkannya, berarti kita telah melaksanakan Tauhid Mulkiyyah. Allah Swt. mengecam orang-orang yang tidak mengimplementasikan Tauhid Mulkiyyah dalam kehidupannya,

 

 

(50). أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

 

“Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki? Hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang meyakininya?” (Q.S. Al-Mā’idah : 50).

 

 

 

Sayyid Quthb menjelaskan, yang dimak sud hukum jahiliah yaitu aturan hidup/hukum bua t an manusia yang berseberangan atau berten tangan dengan nilai-nilai Islam. Misalnya lebih suka meng gunakan hukum waris adat yang banyak ber ten tangan dengan hukum waris Islam. Ini jelas pe lang garan ter ha dap Tauhid Mulkiyyah.

 

Adapun hukum atau aturan buatan manusia yang sejalan dengan nilai-nilai Islam, tentu tidak dise but hu kum jahiliah, kita wajib menaatinya untuk kemas lahatan. Misalnya kita harus meng hentikan kendaraan bila lampu merah menyala. Aturan ini harus kita taati karena tidak menyalahi aturan Islam dan bermanfaat untuk kemaslahatan.

 

 

Contoh lainnya, saat ujian tidak boleh nyontek. Ini aturan yang wajib ditaati karena senafas dengan ajaran Islam yang menekankan kejujuran dalam segala hal.

 

 

Ketiga, Tauhid Uluhiyyah diambil dari kalimat Ilaahinnaas. Maknanya, suatu keyakinan bahwa hanya Allah Swt. yang paling berhak diibadahi,

 

“Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Aku, maka sembahlah Aku.” (Q.S. Al Anbiyā’ [21]: 25).

 

 

 

Kalau kita cermati, sesungguhnya kaum jahi liah yang menentang dakwah Rasul memiliki Tauhid Ru bubiyyah. Mari simak ayat berikut,

 

(61). وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۖ فَأَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ

 

“Jika kamu bertanya kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi serta menundukkan matahari dan bulan?’ Pasti mereka akan menjawab, ‘Allah.’ Mengapa mereka bisa berpaling dari kebenaran?” (Q.S. Al-‘Ankabūt : 61).

 

 

Menurut ayat ini, mereka yakin bahwa Allah yang menciptakan langit dan bumi serta mengatur per edaran alam semesta. Ini merupakan indikator mereka memi liki Tauhid Rububiyyah. Tapi sayang, mereka tidak memiliki Tauhid Uluhiyyah.

 

Saat beribadah, mereka menjadikan berhala sebagai sembahannya. Jadi, orang yang di dalam hatinya ter tanam Tauhid Rububiyyah belum tentu memiliki Tauhid Uluhiyyah.

 

 

Mari kita proyeksikan analisis ini pada kehidupan kita. Kalau kita bertanya pada seseorang, “Apa kamu yakin Allah yang menciptakan dan memberi rizki serta kehidupan kepadamu?” Jawabnya, “Ya saya yakin”. Ini adalah Tauhid Rububiyyah.

 

Kenyataannya, yang disembah bukan Allah tapi kedudukan dan harta karena ia berani meninggalkan shalat hanya demi rapat.Tidak sedikit pula yang menghalalkan segala cara demi kedudukan, sehingga lupa akan aturan yang ditetapkan Allah sebagai Penentu hukum.

 

 

Kalau demikian keadaannya, yang menjadi Tuhan bukanlah Allah tapi harta dan kedudukan. Ini lah gambaran betapa banyak umat Islam yang memi lik i Tauhid Rububiyyah, namun tidak mempunyai Tauhid Uluhiyyah. Sungguh tragis! Nah, ayat satu sampai tiga dalam surat An-Naas mengingatkan ma nusia bahwa Tauhid Rububiyyah, Mulkiyyah, dan Uluhi yyah harus dimiliki secara keseluruhan agar ketauhidan menjadi sempurna. Wallahu’alam bishshawab. [ ]

 

 

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

890

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

(Visited 42 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment