Waswasah, Tazyin, Tamanni, ‘Adawah, Takhwif Dan Shaddun, Ini Cara Setan Menjerumuskan Manusia

0
125

 

 Tafsir Surat An-Nās ayat 4 – 5 

 

 

Oleh: Dr.Aam Amiruddin,M.Si*

 

 

PERCIKANIMAN.ID – – Kita diperintahkan untuk berlindung kepada Allah Swt. sebagai Rabbinnaas (Pencipta dan Pemeli hara manusia), Malikinnaas (Raja/Penguasa manusia), dan Ilaahinnaas (Tuhan manusia). Dalam Al Quran, Allah Swt terangkan,

 

(4). مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ

 

(5). الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ

 

 

“Dari kejahatan bisikan setan yang bersembunyi, yang membisikkan kejahatan ke dalam hati manusia.” ( QS. An Nas: 4-5)

 

 

Menurut Ashabuny dalam Tafsir Ayat Al Ahkam, halaman 17, setan berasal dari kata syathana artinya menjauh. Dinamai setan karena menjauhkan manusia dari kebenaran. Setan pernah bersumpah akan men jauhkan manusia dari jalan yang benar dan akan menyesatkan manusia dari segala penjuru.

 

 

“Iblis menjawab, ‘Karena Engkau telah menyesatkanku, pasti aku akan selalu menghalangi manusia dari jalan-Mu yang lurus. Aku pun pasti akan mendatangi mereka dari depan, belakang, kanan, dan kiri mereka. Sehingga Engkau tidak akan mendapati kebanyakan manusia bersyukur.’” (Q.S. Al-A‘rāf : 16- 17)

 

 

Sesungguhnya manusia memiliki jiwa hanif (condong pada kebaikan), dan itu fitrah. Bukti nya, kalau melakukan kemaksiatan atau pelanggaran, akan ada perasaan menyesal dalam hati kita. Namun, karena setan telah memproklamirkan dirinya untuk menjerumuskan manusia dari jalan yang benar, fitrah hanif ini sering tak berdaya berhadapan dengan jeratannya.

 

 

Setiap manusia berpeluang terjerumus dalam jera tan setan karena Allah Swt. menyertakan setan pada setiap manusia, bahkan ia berada pada aliran darah.

 

Setiap diri kamu pasti didampingi setan.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana dengan engkau, ya Rasulullah?” Nabi menjawab, “Ya, saya juga. Hanya Allah menolong saya dengan cara setan yang mendampingi saya masuk Islam, sehingga ia selalu menyuruh pada kebaikan.” (H.R. Bukhari).

 

Dalam hadits yang lain Rasul bersabda, “Sesungguhnya setan berada dalam peredaran darah manusia, dan aku khawatir ia membisikkan keburukan pada hatimu.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

 

 

Merujuk pada keterangan tersebut, jelaslah bahwa kita berada di antara dua tarikan, tarikan positif (hanif) dan tarikan negatif (setan). Keduanya inheren (ada atau menyatu) dalam diri kita. Nah, bagaimana agar tarik an hanif (kebaikan) lebih dominan dan tarikan setan bisa kita lemahkan?

 

 

“Barang siapa berpaling dari pengajaran Allah Yang Maha Pengasih yaitu Al-Qur’an, Kami biarkan setan menyesatkannya dan menjadi teman karibnya.” (Q.S. Az-Zukhruf : 36).

 

 

Agar terhindar dari jeratan setan, kita harus selalu ingat kepada- Nya, jangan lengah dari aturan-aturan-Nya, barengi seluruh aktivitas keseharian dengan ikh las dan doa (zikir). Ingat, ia selalu mengintai manusia dari setiap penjuru.

 

 

Begitu lengah, serta merta ia akan meman faatkan peluang emas ini untuk membisikkan kejahatannya, sehingga kita terjebak menjadi sahabat karibnya, dan akhirnya terjerembab dalam kehidupan nista penuh maksiat. Setan mempunyai dua target, yaitu memperbudak manusia dan mengondisikan manusia untuk lupa kepada Allah.

 

Setan telah memperbudak mereka, lalu menjadikan mereka lupa untuk mengingat Allah. Mereka itu golongan setan. Ketahuilah bahwa golongan setan itulah golongan rugi.” (Q.S. Al-Mujādalah: 19).

 

 

Dalam menggoda dan menjemuruskan manusia  , setan mempunyai strategi yang ditempuh untuk mewujudkan targetnya. Stretegi itu antara laian:

 

 

1. Waswasah artinya membisikkan keraguan pada manusia agar tidak bersegera melakukan kebaikan/amal saleh.  Saat terdengar kumandang azan subuh dan tubuh kita masih dililit selimut, terbersit pikiran untuk menunda shalat, “Nanti lima menit lagi,” bisik hati kita.

 

 

Nah, hal seperti itulah yang disebut waswasah. Contoh lain, ketika akan pergi ke kampus tiba-tiba kita berpikir, “Dosennya tidak akan datang, Beliau sepertinya sedang sibuk.” Nah, ini juga waswasah. Banyak sekali kejadian dalam keseharian kita yang pada dasarnya merupakan hasil intervensi setan dengan stra tegi waswasah-nya, sehingga kita tidak jadi melakukan suatu kebajikan.

 

 

2. Tazyin, artinya membungkus kemaksiatan dengan kenikmatan. Mengapa jalan-jalan saat pacaran lebih mengesankan dibandingkan setelah menikah? Ini karena ada unsur tazyin. Pacaran itu maksiat, sementara nikah itu ibadah. Nah, yang maksiat “disulap” oleh setan sehi ng ga terasa lebih in dah, nikmat, dan mengesankan. Inilah yang disebut tazyin.

 

 

3. Tamanni, artinya memperdaya manusia dengan khayalan dan angan-angan. Saat merebahkan badan di tempat tidur, kita berniat untuk shalat tahajud di penghujung malam. Tapi sayang, saat beker berdering, cepat-cepat dimatikan. Tidur pun berlanjut, bahkan lebih nyenyak. Bila hal itu terus berulang, yakinlah bahwa kita telah terperangkap strategi setan yang disebut tamanni.

 

Tahajud hanyalah angan-angan, tidak ada upaya mak simal merealisasikannya. Contoh lain, kita begitu me nye sal setelah melakukan perbuatan dosa, lantas berjanji tidak akan mengulanginya. Tapi kenyataan nya, kesalahan tersebut selalu kita ulangi. Setan pun tertawa.

 

4. ‘Adawah artinya permusuhan. Setan berusaha menumbuhkan permusuhan di antara manu sia. Setan menumbuhkan prasangka buruk di antara manu sia agar mereka bermusuhan. Apabila yang dominan dalam diri kita itu prasangka buruk, per selisihan tidak akan bisa didamaikan.

 

5. Takhwif artinya menakut-nakuti. Setan pun selalu berupaya menakut-nakuti manusia (takhwif). Pernahkah kita merasa takut mis kin karena menginfakkan sebagian harta? Takut tidak mendapatkan jodoh atau pekerjaan karena pakai jilbab? Itulah wujud dari takhwif, yang karenanya kita tidak mengamalkan ajaran-ajaran-Nya.

 

6. Shaddun artinya menghalang-halangi. setan menerapkan strategi shaddun, meng halang-halangi manusia menjalankan perintah Allah dengan menggunakan berbagai hambatan. Misal nya, malas shalat sunat, padahal biasanya rajin, atau ngantuk ketika membaca Al-Qur’an, padahal sudah cukup tidur.

 

Berbagai strategi tersebut dilaksanakan secara sungguhsungguh, baik oleh setan dari jenis jin atau pun setan dari jenis manusia. Wallahu’alam bishshawab. [ ]

 

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

980

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini