Cara Mengajari Anak Sholat, Ini Yang Harus Diperhatikan Orangtua

 

 

Assalamu’alaykum. Pak Ustadz, saya mempunyai dua anak laki-laki yang semuanya laki yang masih kecil. Saya suka shalat berjamaah bersamanya dengan menjadi imam dan mereka menjadi makmum. Bolehkah saya mengeraskan bacaan dalam shalat dengan tujuan agar mereka belajar bacaan shalat? Mohon penjelasannya ( Fandy via fb )

 

 

 

Wa’alaykumsalam ww.  Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Tentu sekiranya anak bisa belajar shalat secara langsung belajar shalat apa adanya tentu itu lebih baik. Maksudnya, untuk shalat yang bacaannya dikeraskan (jahr) seperti Subuh,Maghrib, Isya tentu harus dikeraskan. Namun sekiranya shalatnya bacaannya tidak dikeraskan misalnya Dhuhur dan Ashar tentu tidak harus dikeraskan.

 

 

Jadi dalam hal ini lebih pada aspek gerakannya saja. Dalam hal ini ada sebuah kisah dimana Rasulullah Saw mempunyai dua orang cucu yakni Hasan dan Husain. Dalam sebuah kesempatan beliau (Rasul) membawa cucunya tersebut shalat berjamaah. Secara langsung dan tidak langsung Rasulullah mengajarkan pengalaman shalat kepada cucu-cucunya tersebut.

 

 

Ketika Rasul shalat maka cucunya ikut gerakan beliau. Namun beliau shalat sesuai dengan kaidah shalatnya dan tidak mengeraskan bacaannya. Artinya beliau membaca doa atau bacaan ruku’ atau sujud, beliau tidak mengeraskannya. Namun ketika membaca Al Fatihah atau surat lainnya yang harus dikeraskan, beliau mengeraskannya.

 

 

Ini mengandung  makna bahwa kita harus memberikan pembiasaan atau pengajaran kepada anak-anak kita namun harus dengan pembiasaan atau pengajaran yang benar. Bapak atau ibu bisa mencari waktu shalat sambil mengajarinya. Namun ketika shalat maka harus sesuai dengan yang Rasul contohkan.

 

 

Maksudnya seperti yang telah saya jelaskan diatas tadi. Anda tidak perlu mengeraskan bacaan atau doa shalat yang memang tidak harus dikeraskan. Tetapi jika harus dikeraskan misalnya dalam shalat Subuh atau Isya maka bacaan surat Al Fatihahnya harus dikeraskan.

 

 

Ketika anak-anak sudah bisa bacaannya artinya hafal doa-doa atau bacaan setiap gerakan shalat maka ia boleh menjadi imam meskipun ia belum baligh. Sebab seorang anak yang sudah mumayyiz (mampu membedakan yang baik dan tidak/sudah mengerti) meskipun belum berusia dewasa diperbolehkan untuk menjadi Imam jika ia adalah orang yang memiliki bacaan Alquran yang paling baik. Dasarnya adalah hadis yang diriwayatkan oleh ‘Amr bin Salamah,

 

 

عن عمرو بن سلمة-رضي الله عنه-أن النَّبيَّ-صلى الله عليه وسلم-,قال لأبيه: (و ليؤمكم أكثركم قرآناً) فنظروا فلم يكن أحد أكثر قرآناً مني؛ لما كنت أتلقى من الركبان، فقدموني بين أيديهم، وأنا ابن ست سنين أو سبع سنين

 

Dari ‘Amr bin Salamah – Allah senantiasa meridainya – bahwasanya Nabi Saw berkata kepada ayah ‘Amar: “dan hendaknya yang mengimami kalian adalah yang paling banyak (bacaan) Alqurannya !” Kemudian para sahabat saling berpandangan dan mereka tidak melihat seorangpun yang paling banyak bacaan Alquran-nya kecuali saya. Ketika saya turun dari tunggangan, mereka pun mendorong saya menjadi Imam mereka dan usia saya waktu itu enam atau tujuh tahun.

 

 

Hadis diatas terdapat diantaranya dalam Shahih al-Bukhari, Sunan Abi Dawud, dan Sunan al-Nasa’i. Dari hadis diatas, kita dapat memahami bahwa ‘Amr bin Salamah dipilih menjadi imam meski para makmumnya adalah orang-orang dewasa. Itu dikarenakan ia adalah sahabat yang memiliki bacaan Al Quran yang paling baik.

 

 

Jadi anak kecil meski belum baligh boleh menjadi imam dalam shalat berjamaah dimana makmumnya orang dewasa. Jadi sekali lagi saat Anda menjadi imam dan makmumnya anak-anak Anda maka lakukan yang sesuai Rasul contohkan. Mengeraskan bacaan shalat yang harusnya dikeraskan dan tidak mengeraskan bacaan shalat yang tidak boleh dikeraskan.

 

 

BACA JUGA: Hukum Shaf Shalat Sejajar Dengan Anak

 

 

Sebab yang namanya ibadah khususnya shalat kita harus mencontoh apa yang Rasul contohkan atau ajarkan, sehingga anak-anak mendapat pengajaran agama khususnya shalat yang benar sejak mereka masih kecil. Demikian penjelasnnya semoga bermanfaat.

 

 

Nah, terkait dengan pembahasan shalat ini,Anda dan bapak ibu sekalian bisa membaca buku saya yang berjudul “SUDAH BENARKAH SHALATKU”. Di dalamnya ada pembahasan terkait pelaksanaan shalat berikut amalan-amalan apa saja, yang dijelaskan secara detail dengan dalil yang shahih. Wallahu a’lam. [ ]

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

750

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

 

 

(Visited 576 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment