Hikmah Haid Bagi Wanita, Pahami Ini 3 Fasenya

PERCIKANIMAN.ID – – Barang kali cara terbaik untuk mengetahui hikmah ilahiyyah yang berada di balik terjadinya haidh, adalah dengan cara mengamati fase-fase yang dialami rahim dalam siklus bulanannya.
Dalam siklus bulanannya, rahim mengalami 3 fase, yakni:

 

 

1. Fase pemelaran.

 

Dalam fase ini, salah satu gelembung dari gelembung-gelembung indung telur yang dikenal dengan “corpus luteum” mengeluarkan hormon estrogen (atau estrodiol) yang memiliki peran mengembangkan rahim. Sehingga selaput dalam rahim, ukurannya mengalami peningkatan yang berlipat, lebih dari 5 kali lipat dari ukuran semula. Dimana ia mengalami perkembangan dari ukuran semula yang kurang dari 1 mm menjadi 5 mm.

 

 

Hal itu sebagaimana bertambahnya perkembangan pembuluh darah yang berfungsi memberikan asupan ke rahim, bertambah banyak bentuknya, dan bertambah ukuran panjangnya hingga membentuk seperti spiral lantaran saking panjangnya, yang berada dalam ruangan sempit yang disediakan untuknya.

 

 

Walhasil, jumlah kelenjar menjadi bertambah banyak dan membentuk seperti pipa panjang yang memiliki sel-sel penopang.

 

 

Sementara itu hormon estrogen pada waktu terjadinya persiapan rahim, akan mengembangkan kelenjar-kelenjar rahim dan pembuluh-pemubuluh darahnya guna menerima kedatangan sel telur yang telah bercampur dengan sel sperma. Selain itu, hormon estrogen akan mengembangkan sel-sel dalam vagina dan melawan serangan berbagai mikroba yang ada di dalamnya.

 

 

Bahkan peran hormon estrogen tidak behenti sampai di situ. Melainkan ia juga akan menghasilkan feminimitas pada kaum hawa yang berperan menumbuhkan kecenderungannya kepada lawan jenis serta membuat lawan jenis tertarik kepadanya. Itulah hormon kewanitaan, baik bentuk, kandungan, maupun misinya!

 

 

2. Fase ovulasi (pelepasan sel telur).

 

Dalam fase ini, corpus luteum akan mengeluarkan hormon progesteron yang bersama-sama dengan estrodiol dalam menghasilkan berbagai perubahan penting di dalam selaput rahim bagian dalam. Dimana perubahan-perubahan ini akan menjadikan selaput rahim bagian dalam, menjadi layak untuk menerima sel telur yang telah dibuahi serta menyimpannya.

 

 

Walhasil, pembuluh darah di dalam rahim akan bertambah banyak, sehingga selaputnya akan menjadi kemerah-merahan yang membengkak, sementara ukuran kelenjar akan membesar, yang pada akhirnya sari-sari asupan yang menjadi asupan bagi sel telur akan dikeluarkan.

 

 

Dalam pada itu, intensitas dan kelengketan sekresi cervix (leher rahim) akan berkurang sehingga memudahkan sel sperma untuk masuk secara cepat menuju rahim. Sehingga gerakan rahim yang cepat –yang terlihat di fase perkembangan–, maka dalam fase ini (fase pelepasan sel telur) gerakannya akan menjadi pelan; dan selanjutnya gerakannya akan segera diganti dengan gerakan tenang dan teratur sesuai dengan bergantungnya sel telur yang telah di buahi di dinding rahim.

 

 

Semua perubahan ini terjadi di dalam rahim yang disebabkan adanya penghijauan petarangan yang sesuai untuk menyambut sel telur yang telah dibuahi di saat terjadinya proses kehamilan.

 

 

3. Fase haid.

 

Jika pembuahan atau penghamilan tidak terjadi secara sempurna, maka sel telur akan mengalami kematian dan tempat yang semula telah disiapkan untuk menampung sel telur yang telah dibuahi akan lenyap. Selanjutnya selaput rahim akan mengeluarkan darah dan sari-sari makanan yang bercampur dengan sel telur yang telah rusak itu. Lantas semuanya akan keluar secara bersamaan dari jalan keluarnya darah yang ada pada kaum wanita. Nah, aliran darah inilah yang disebut dengan “haid”.

 

 

 

Rahasia di balik terjadinya yang dimikian adalah bahwa indung telur ketika mengetahui tidak adanya kehamilan atau pembuahan, maka dia akan meminimalisir atau bahkan menghentikan sama sekali terhadap pengeluaran hormon kehamilan “progesteron ”.

 

 

 

Selanjutnya, jika kandungan hormon ini menjadi minim dalam darah, maka kantong darah yang berfungsi menyuplai asupan ke selaput rahim, akan mengalami pengisutan yang sangat, hingga mencegah sama sekali terhadap pemberian asupan tersebut.

 

 

 

Akibatnya, selaput rahim akan menjadi layu dan pembuluh darah yang ada di bawahnya akan pecah; sementara darah yang berada di dalam rahim akan membeku.

 

 

 

Sesudah itu, organ yang berfungsi melarutkan darah yang sudah membeku tersebut berikut serabutnya akan bekerja dengan bantuan enzim yang dikenal dengan enzim “pelarut fiber”. Fiber adalah istilah ilmiyyah modern yang merupakan sebutan dari serabut-serabut yang ada pada bekuan darah.

 

 

 

Selanjutnya darah akan keluar dari selaput rahim bagian dalam, dengan warna kehitam-hitaman yang bertekstur pudar dan sudah berujud gumpalan-gumpalan yang remuk. [ ]

 

 

*Dikutip dari buku ” Cinta & Seks Rumah Tangga Muslim ” karya dr.Untung Santosa, M.Kes & Dr.Aam Amiruddin,M.Si

5

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

850

 

(Visited 1,007 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment