3 Waktu Tepat Memberi Nasihat Pada Buah Hati

 

 

PERCIKANIMAN.ID – – Jangan mendiamkan anak saat mereka berbuat salah. Disiplin sangat penting untuk bekal masa depan mereka. Pendisiplinan harus dilakukan dengan konsisten dan harus didasarkan pada perilaku anak.

 

 

Namun, tahapannya tidak langsung pada penghukuman, melainkan dilakukan setelah anak tahu bahwa perilaku yang mereka lakukan salah atau tidak baik.

 

 

Nasihati mereka dengan kepala dingin dan tidak dilakukan dengan emosional. Jangan menasihati anak saat sedang marah karena hal itu akan memperburuk keadaan.

 

 

Marah membuat kontrol diri kita rendah sehingga mungkin akan banyak hal yang terserap anak kemudian diikuti dan tertanam dalam benaknya. Jika kita mengeluarkan kata-kata yang menyakiti mereka, hal itu akan membekas di hati mereka selamanya.

 

 

Dengan amarah, nasihat yang kita sampaikan belum tentu akan sampai pada anak-anak. Tempat dan waktu yang tidak tepat pun akan membuat nasihat yang berusaha kita sampaikan kepada mereka tidak semuanya terserap.

 

 

Rasulullah Saw. selalu memilih tiga waktu dan tempat berikut ini untuk memberikan nasihat, yaitu

  1. Pada saat berjalan-jalan atau di atas kendaraan.

 

Biasanya waktu atau saat jalan-jalan adalah waktu santai yang menyenangkan. Demikian juga dalam situasi saat saat berada di kendaraan. Namun pada dua waktu ini bisa digunakan untuk memberikan nasihat kepada buah hati tentang hakikat hidup.

 

Hakikat hidup adalah menempuh perjalanan yang pastinya akan berakhir disebuah tujuan. Dalam perjalanannya juga ada suka dan duka maka sudah selayaknya menjalaninya dengan penuh rasa qonaah.

 

  1. Pada waktu makan.

 

 

Dalam Islam, berbicara dan ngobrol pada saat makan tidak dilarang, bahkan termasuk perkara yang dianjurkan. Biasanya, ketika makan bersama dengan orang lain dan disertai dengan ngobrol satu sama lain, akan lebih mendatangkan rasa akrab dan kedekatan satu sama lain.

 

Di dalam kitab Alazkar, Imam Nawawi membuat bab khusus yang menjelaskan tentang kesunahan berbicara dan ngobrol pada saat makan. Beliau berkata;

 

بابُ استحباب الكَلامِ على الطَّعام

 

Bab mengenai anjuran berbicara pada saat makan.”

 

Salah satu dalil yang dijadikan dasar kesunahan berbicara pada saat makan adalah hadis riwayat Imam Muslim dari Jabir, dia berkata;

 

أن النبيّ صلى اللّه عليه وسلم سألَ أهلَه الأُدْمَ، فقالوا‏:‏ ما عندنا إلاَّ خَلّ، فدعا به فجعلَ يأكلُ منه ويقول‏:‏ ‏”‏نِعْمَ الأُدْمُ الخَلُّ، نِعْمَ الأُدْمُ الخَلُّ‏”

 

Sesunguhnya Nabi Saw. minta lauk-pauk kepada keluarganya. Mereka berkata, ‘Kami tidak memiliki lauk-pauk kecuali cuka.’ Kemudian Nabi Saw. menyuruh supaya diambilkan dan beliau memakannya sambil berkata, ‘Sebaik-baik lauk adalah cuka, sebaik-baik lauk adalah cuka.”’

 

Hadis ini menjelaskan bahwa Nabi Saw. bicara pada saat makan dengan minta lauk-pauk pada keluarganya. Karena itu, dari hadis dapat disimpulkan bahwa bicara pada saat makan tidak dilarang, bahkan dianjurkan terutama ngobrol tentang kebaikan dan kisah orang-orang saleh.

 

Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Imam Alghazali dalam kitabnya Ihya Ulumiddin, seperti dikutip Imam Nawawi beriktut;

 

من آداب الطعام أن يتحدَّثوا في حال أكله بالمعروف، ويتحدّثوا بحكايات الصالحين في الأطعمة وغيرها

 

Di antara adab makan adalah membicarakan hal-hal yang baik sambil makan, membicarakan kisah orang-orang yang salih dalam makanan dan lainnya.”

 

 

  1. Pada waktu sakit.

 

Dalam kondisi sakit semua makhluk hidup dalam kondisi lemah termasuk manusia. Sehebat dan sekuat apa pun, ketika dalam kondisi sakit ia akan merasa lemah dan tak berdaya. Segala kesenangan dan kenikmatan dunia menjadi terasa hampa jika dibandingkan dengan rasa sakit.

 

Dengan kondisi seperti ini yang lemah dan tak berdaya tersebut adalah waktu tepat untuk berbagi nasihat kepada siapa pun termasuk kepada anak. Dalam kondisi sakit akan terasa betapa berharganya nikmat sehat itu. Maka sudah selayaknya bersyukur atas nikmat sehat adalah hal yang utama.

 

Kita adalah cermin bagi anak-anak kita. Kita harus mulai menyadari bahwa kesalahan yang dilakukan anak tidak serta merta murni kesalahan mereka, tetapi di dalamnya terdapat andil kesalahan dari cara didik orangtuanya. [ ]

 

Sumber: disarikan dari buku “ Golden Parenting “ karangan Dr. Aam Amiruddin, M.Si

 

5

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

850

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

(Visited 500 times, 3 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment