Hukum Selamatan Kematian Dalam Islam, Boleh atau Terlarang ?

Assalamu’alaykum. Pak Aam, di kampung saya termasuk keluarga besar saya kalau ada yang meninggal suka mengadakan kegiatan selamatan kematian. Didalamnya ada tadarus Al Quran, shalawatan dan doa bersama. Doa ini khususnya bagi yang meninggal maupun keselamatan bagi yang masih hidup. Kemudian ada makan bersama dan sebagian makanan dibagikan. Bagaimana pandangan Islam terhadap hajatan atau selamatan kematian dan hal ini diniatkan ahli warisnya sebagai shadaqah?Mohon penjelasannya. ( Dendi via fb )

 

 

 

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat yang dirahmati Allah. Tentu sebagai muslim kita diperintahkan untuk berbuat baik, saling menyantuni dan saling mendoakan kepada sesama muslim, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal.

 

 

Para ulama khususnya ahli fikih mengambil dalil dari Al Quran seperti dalam surat Al Hasyr,

 

وَالَّذِينَ جَاؤُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

 

”Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan Saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hasyr : 10)

 

 

Menurut para ulama yang dimaksud dengan “orang dulu yang telah beriman” adalah  orang muslim yang telah meninggal terlebih dulu. Sementara kepada orang kafir yang sudah meninggal maka kita tidak boleh mendoakannya.

 

 

Namun dalam masyarakat kita kegiatan mendoakan orang yang sudah meninggal itu dilembagakan atau dibuat seremoni dalam berbagai bentuk kegiatan, maka melaksanakan hajatan atau selamatan kematian adalah salah satu tradisi di Indonesia saja. Pelaksanaanya biasanya pada hari ketiga, kelima, ketujuh, bahkan hingga hari keempat puluh setelah kematian.

 

 

Pertanyaan Anda, apakah dalam Islam hal seperti ini dibenarkan? Atau ada contoh dari Rasul ? Ada dua pendapat di kalangan para ulama tentang masalah ini.

 

 

Pendapat pertama menyebutkan bahwa hajatan atau selamatan yang diiringi makan-makan setelah penguburan mayat hukumnya terlarang, karena hal itu dikategorikan sebagai ratapan kepada jenazah, padahal meratapi mayat hukumnya haram.

 

 

Hal ini mengambil dalil dari Jarir bin ‘Abdillah al-Bajali r.a. yang berkata, “… para sahabat menganggap bahwa berkumpul di rumah keluarga yang meninggal dan makan-makan setelah jenazah itu dikuburkan termasuk niyaahah (meratapi).” (H.R. Ahmad dan Ibnu Majah)

 

 

Sehingga segala kegiatan yang berkaitan dengan meratapi mayit termasuk acara selamatan tetap tidak dibenarkan atau tidak boleh dilakukan.

 

 

Pendapat kedua menyatakan bahwa hajatan bagi jenazah itu hukumnya sunah kalau diniatkan shadaqah. Misalnya seperti yang Anda sebutkan tadi doa bersama kemudian makan bersama dan membagikan makanan kepada tetangga atau fakir.

 

 

Tentu secara sosial kegiatan ini bagus yakni termasuk berbuat baik kepada sesama muslim. Memberi makan kepada fakir miskin tentu sebuah perbuatan yang mulia. Namun sayangnya pendapat kedua ini tidak menyertakan dalil-dalil yang meyakinkan.

 

 

Dengan demikian menurut hemat saya, pendapat pertama lebih kuat daripada pendapat yang kedua, yakni acara selamatan kematian tidak dicontohkan oleh Rasul dan para sahabat.  Apalagi kalau kita telaah kehidupan Rasulullah Saw. dan para sahabatnya.

 

 

Saat Rasulullah Saw ditinggal wafat oleh istrinya, Khadijah r.a., beliau tidak melaksanakan hajatan apa pun, padahal kita tahu betapa besar cinta Rasulullah kepada istrinya tersebut. Begitu pula saat Rasulullah Saw. wafat, tak seorang sahabat pun yang melaksanakan hajatan atau doa selamatan atas meninggalnya Rasul.

 

 

BACA JUGA:  Hukum Memakan Hidangan Tahlilan, Boleh atau Tidak ?

 

 

Jadi kalau mau berdoa tentu dipersilakan khususnya bagi keluarganya, anak-anaknya yang masih hidup mendoakan orang tuanya yang sudah meninggal tentu dibolehkan. Tapi tidak perlu dibuat acara, apalagi sampai mengeluarkan uang atau dana yang banyak untuk memberi makan dan sebagainya. Cukup berdoa sendiri-sendiri, misalnya selesai shalat sang anak mendoakan. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat.

 

 

Nah, bagi Anda atau mojang bujang dan sahabat-sahabat sekalian yang ingin tahu cara berbakti kepada orangtua khususnya ibu, termasuk orang tua yang sudah meninggal silakan baca saya yang berjudul “MULIAKAN IBUMU“. Didalamnya ada beberapa contoh cara berbakti berikut dalilnya. Insya Allah buku ini bisa menjadi inspirasi dan motivasi baik bagi anak maupun para orangtua. Wallahu’alam bishawab. [ ]

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

980

 

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

 

(Visited 599 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment