Kisah Sahabat: Abdullah Dzul Bajadain, Pakaiannya Diganti Pakaian Surga

PERCIKANIMAN.ID – – Banyak kisah para sahabat disekitar Rasulullah Saw yang sungguh bisa menjadi teladan dan inspirasi. Salah satunya adalah Abdullah Dzul Bajadain yang terkenal dengan ucapannya,

 

“Sesungguhnya aku telah keluar dari agama kaumku dan mereka menyiksaku karenanya….”

 

Kisah Dua Potong Kain

Sang paman sangat marah mengetahui bahwa keponakan kesayangannya telah keluar dari agama nenek moyang mereka. Keponakannya yang telah menjadi yatim piatu sejak kecil dan kemudian hidup dalam pemeliharaannya itu menolak untuk melepaskan agama barunya.

 

Akhirnya sang paman mengambil keputusan yang diharapkannya mampu menggoyahkan keyakinan keponakannya. Sang paman menarik semua kemewahan yang selama ini diberikannya. Bahkan pakaian yang melekat di badan pun diambilnya kembali.

 

Hal tersebut tak bisa mengoyahkan keteguhan agama yang telah meresap masuk memenuhi seluruh sendinya. Hidayah Islam yang telah dirasakannya tak bisa ditukar dengan apa pun, walau dengan kemewahan dunia sekalipun.

 

Setelah itu, ia kemudian melarikan diri dari kabilahnya, Kabilah Mazaniah yang bertempat di antara Mekkah dan Madinah. Tujuannya hanya satu, segera bertemu sang habibullah, Rasulullah Saw.

 

Dalam perjalanan itulah, ia kemudian membelah dua pakaian bajad yang dikenakannya. Bajad ialah sejenis kain yang tebal serta sangat kasar sehingga tidak pantas untuk dijadikan pakaian oleh manusia. Hanya pakaian inilah yang dikenakan dan diberikan kaumnya kepadanya. Padahal sebelumnya, ia senantiasa mengenakan pakaian yang indah dan mahal.

 

Setelah tiba di Madinah dan berhasil menemui Rasulullah, maka Rasulullah menanyakan siapakah dirinya dan mengapa berpakaian seperti itu.

 

“Aku adalah Abdul Uzza. Sesungguhnya aku telah keluar dari agama kaumku dan mereka menyiksaku karenanya…,” lalu lelaki itu menceritakan apa yang telah terjadi padanya.

 

Mendengar kisah tersebut Rasulullah kemudian menggantikan nama Abdul Uzza menjadi Abdullah. Rasulullah juga memberinya julukan Dzul Bajadain yang artinya dua potong kain. Rasulullah pun mengabarkan bahwa Allah telah menggantikan kedua kain tersebut dengan kain serta rumah di surga yang dapat digunakannya kapan saja.

 

Abdul Uzza atau Abdullah, seperti nama yang baru saja Rasulullah berikan padanya. Selanjutnya, Abdullah menetap di Madinah dan termasuk dalam ahlus shuffah. Ahlus suffah ialah para sahabat yang menetap atau tinggal di serambi Masjid Nabi. Mereka tinggal di sana karena tidak mempunyai tempat tinggal sendiri.

 

Selama  menjadi penghuni Shuffah, Abdullah Dzul Bajadain  banyak menghafal Alquran dari Nabi Saw. Abdullah juga dikenal sering mengeraskan suaranya jika berdoa, membaca Alquran maupun berzikir. Akhirnya, para sahabat mengkhawatirkan Abdullah akan menjadi riya (pamer) karenanya.

 

“Biarkanlah, sesungguhnya ia sedang berdoa dan mengadu kepada Rabbnya” jawab Rasulullah. (HR Baihaqi)

 

Ke-Islamannya

Abdullah Dzul Bajadain adalah seorang anak yatim piatu sejak kecil. Ia kemudian dipelihara oleh pamannya yang kaya raya. Dalam keseharian pamannya tidak membedakannya dengan yang lainnya. Abdullah diperlakukan dengan sangat baik dan pantas. Abdullah pun hidup dalam kemewahan.

 

Namun, sejak mengenal Islam, yaitu saat ia bertemu dengan para muhajirin dan berbincang-bincang dengan mereka, ia mulai mengubah pandangannya akan agama yang dipeluknya selama ini. Agama paganis.

 

Diam-diam Abdullah pun memeluk Islam. Pelan-pelan ia mulai mendekati pamannya, menceritakan tentang Nabi Muhammad dan membacakan ayat suci Alquran padanya. Namun reaksi sang paman di luar dugaannya. Pamannya marah besar dan melarangnya untuk membicarakan hal tersebut.

 

Selama sekitar tiga tahun Abdullah merahasiakan ke-Islamannya. Pada waktu itu, setiap kali akan melaksanakan salat, ia akan mencari tempat yang sunyi seperti di padang pasir agar tak ada yang melihatnya melakukan ibadah tersebut. Hingga kemudian Abdullah memproklamirkan ke-Islamannya dan terjadilah kejadian seperti yang diceritakan di atas.

 

Akhir Hayatnya

Menjelang Perang Tabuk, Abdullah Dzul Bajadain memohon kepada Rasulullah agar mendoakannya mendapatkan syahid di medan perang.

 

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadamu agar mengharamkan darahnya disentuh oleh orang-orang kafir,” doa Rasulullah. Sudah menjadi kebiasaan di kalangan para sahabat untuk minta didoakan kebaikan kepada Rasulullah. Mereka tahu bahwasanya doa beliau selalu dikabulkan oleh Allah.

 

“Ya Rasulullah, bukan itu yang aku inginkan,” ucap Abdullah Dzul Bajadain usai mendengar doa Rasulullah.

 

Maka Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya saat Engkau berangkat menuju medan perang, Engkau akan terserang penyakit yang menyebabkanmu meninggal. Atau Engkau akan dilemparkan oleh hewan tungganganmu hingga lehermu patah dan Engkau meraih syahid.”

 

Akhirnya Allah menakdirkan Abdullah Dzul Bajadain meninggal dunia dalam keadaan sakit di medan Perang Tabuk. Saat itu Abdullah masih berusia muda, 23 tahun.

 

Dikisahkan oleh Abdullah bin Mas’ud bahwa pada malam yang sangat dingin dan pekat, ia mendengar suara orang yang sedang menggali tanah. Abdullah bin Mas’ud pun terheran-heran mendengarnya. Dalam hatinya bertanya-tanya, siapakah yang melakukannya di malam seperti ini.

 

Abdullah bin Mas’ud penasaran. Ia kemudian bangkit dan mencari tahu apa yang terjadi. Saat itulah ia melihat Abu Bakar Ash Shiddiq dan Umar bin Khattab sedang memegang pelita. Ia juga melihat Rasulullah sedang menggali tanah. Rupanya yang tadi didengarnya ialah suara Rasulullah yang sedang menggali.

 

Abdullah bin Mas’ud pun bertanya apa yang telah terjadi dan apa yang sedang dilakukan oleh Rasulullah.

 

“Saudaramu, Abdullah Dzul Bajadain telah meninggal dunia,” jawab Rasulullah.

 

Abdullah bin Mas’ud kemudian bertanya kepada Abu Bakar dan Umar bin Khattab mengapa mereka membiarkan Rasullah menggali tanah seorang diri.

 

BACA JUGA: Para Muslimah Dambaan Surga

 

 

“Rasulullah yang menginginkannya. Beliau ingin menggali sendiri tanah kuburan Abdullah,” jawab Abu Bakar.

 

Setelah itu Rasulullah meminta agar jenazah Abdullah Dzul Bajadain diserahkan padanya. Rasulullah kemudian meletakkan jenazah itu ke liang kuburnya.  Rasulullah juga meminta mereka semua mendoakan Abdullah Dzul Bajadain yang telah berpulang terlebih dahulu.

 

Tak lupa Rasulullah juga berdoa agar Allah meridai Abdullah Dzul Bajadain. Sesungguhnya Rasulullah pun telah meridainya. [ ]

 

Disarikan dari buku ” Para Abdullah Disekitar Rasulullah ” karangan Haeriah Syamsuddin

 

5

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

970

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

(Visited 59 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment