Hukum Menyewakan Rumah Kepada Non Muslim dan Dipakai Maksiat, Apakah Kebagian Dosa ?

0
440

Assalamu’alaykum. Pak Ustadz. Kami menyewakan sebuah rumah kepada non muslim selama 1 tahun. Awalnya kami mengira mereka suami istri sehingga membolehkan. Namun setelah berjalan beberapa bulan ternyata mereka bukan suami istri dan menurut para tetangga rumah tersebut sering digunakan kumpul-kumpul dengan teman-temannya. Para tetangga juga sudah kompalin pada kami karena merasa tertanggu. Kami ( saya dan suami) menjadi merasa bersalah dan ingin membatalkannya. Bagaimana hukum menyewakan rumah kepada non muslim? Kalau rumah tersebut dipakai untuk maksiat apakah kami juga mendapat dosa? Mohon nasihatnya dan solusinya ( Y via fb )

 

iklan

 

 

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat yang dirahmati Allah. Pada dasarnya apa yang Anda lakukan ini adalah salah satu bentuk muamalah yakni sewa menyewa hak milik dalam hal ini rumah kepada orang lain.

Ada beberapa prinsip dasar muamalah yang perlu diperhatikan. Secara garis besar saya sebutkankan 3 hal saja:

  1. Pada dasarnya segala bentuk muamalah adalah mubah atau boleh, kecuali dalil yang melarangnya yang ditentukan dalam Al Qur’an dan Hadits (sunnah Rasul). Bahwa prinsip Islam memberi kesempatan luas perkembangan bentuk dan macam muamalah baru sesuai dengan perkembangan kebutuhan hidup masyarakat.
  2. Muamalah dilakukan atas dasar sukarela , tanpa mengandung unsur paksaan atau ancaman. Agar kebebasan kehendak pihak-pihak bersangkutan selalu diperhatikan.
  3. Muamalah dilakukan atas dasar pertimbangan mendatangkan manfaat dan menghindari madharat dalam hidup bermasyarakat.

Dengan memperhatikan hal tersebut maka yang pertama sebenarnya bermuamalah dengan non muslim termasuk menyewakan rumah kita kepadanya maka diperbolehkan. Jadi Anda menyewakan rumah kepada orang non muslim tidak dilarang.

Kemudian yang kedua, bagaimana kalau ternyata rumah tersebut dipakai untuk maksiat dan hal-hal buruk lainnya? Maka hal ini kembali pada prinsip muamalah yang diatas khususnya prinsip 1 dan 3 tersebut.

Prinsip pertama muamalah tidak boleh pada hal-hal yang dilarang Allah ( Al Quran ) dan Sunnah Rasul (Hadits) sementara rumah yang Anda sewakan digunakan oleh pasangan bukan suami istri ( belum menikah) dimana ada kemungkinan atau potensi digunakan untuk berzina atau berbuat maksiat lainnya.

Memang untuk menuduh atau su’udzon bahwa mereka melakukan zina atau maksiat tentu tidak boleh, sebab harus ada bukti atau saksi yang kuat. Namun secara prinsip dasar dalam Islam bahwa mendekati zina saja sudah tidak boleh. Coba kita perhatikan ayatnya,

 

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

 

 “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” ( QS.Al Isra’: 32 )

 

Mendekati saja sudah tidak boleh apalagi sampai melakukannya, jelas sangat- sangat terlarang. Sementara Anda menyewakan rumah kepada pasangan yang bukan suami istri. Tinggal berdua dalam satu rumah siang dan malam dan sebagainya maka prinsip mendekati zina sudah terpenuhi.

 

Kemudian prinsip ketiga dalam muamalah juga sudah dilanggar yakni tidak mendatangkan manfaat justru mudlarat bagi lingkungan atau tetangganya. Menurut informasi juga suka dipakai kumpul,nongkrong dan sebagainya hingga larut malam dan mengganggu kenyamanan tetangganya.

 

Dari pelanggaran prinsip muamalah tersebut maka menurut hemat saya Anda haram atau tidak boleh menyewakan rumah tersebut. Sebab dalam Islam kita diperintahkan untuk tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan dan dilarang tolong menolong dalam kemunkaran. Dalam Al Quran Allah berfirman,

 

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ….

 

“…….Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” ( QS.Al Maidah: 2 )

 

Jadi kita harus tolong menolong kebaikan dan dilarang tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran kepada Allah. Sementara kalau Anda tetap menyewakan rumah tersebut maka Anda termasuk tolong menolong dalam berbuat dosa.

 

Lalu apakah Anda turut berdosa? Menurut saya, Anda juga bersalah sebab sejak awal tidak teliti saat hendak menyewakan rumah khususnya menanyakan apakah mereka suami istri atau bukan. Disebabkan Anda tidak tahu mereka bukan suami istri maka insya Allah Anda tidak berdosa.

 

Tetapi sekarang karena Anda sudah mengetahui bahwa mereka bukan suami istri maka Anda akan berdosa jika tetap menyewakan rumah tersebut kepada mereka. Apalagi rumah tersebut juga dipakai untuk hal-hal yang tidak baik dan tidak mendapatkan manfaat justru mudlorot bagi Anda dan para tetangga yang terganggu.

 

BACA JUGA: Bolehkah Menjual Buku Karangan Non Muslim ?

 

Solusinya menurut saya, Anda tinggal bicara baik-baik kepada mereka. Sampaikan keberatan Anda dan jangan lupa meminta maaf karena akan memutus kontrak atau sewa sebelum masanya habis. Beri penjelasan sesuai prinsip muamalah dalam Islam tersebut. Juga atas dasar laporan dan keberatan para tetangga yang merasa terganggu kenyamanannya setelah disewakan kepada mereka.

 

Kemudian, Anda boleh mengembalikan uang sewa jika sudah dibayar penuh atau memberikan potongan. Intinya lakukan dialog dan komunikasi yang baik dengan penyewa tersebut dan juga jika perlu libat warga atau tetangga sekitar. Mudah-mudahan mereka jadi paham.

 

Pesan saya, ini menjadi pelajaran khususnya bagi Anda dan kita semua. Kita harus teliti jika akan menyewakan rumah, tempat usaha dan sebagainya, kepada siapa dan untuk apa. Kalau rumah tersebut disewakan atau dipakai untuk kebaikan misalnya untuk belajar Al Quran atau mengaji, untuk anak-anak yatim piatu dan dhuafa maka insya Allah yang menyewakan akan dapat pahala. Prinsipnya digunakan untuk kebaikan dan mendekatkan diri kepada Allah. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu’alam bishshawab.  [ ]

 

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

897

 

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman