Shalat Jamak Saat Lintas Alam, Boleh atau Tidak ?

 

Assalamu’alaykum. Pak Aam. Saya menjadi pembina dan sekaligus pelatih salah satu komunitas anak muda yang mempunyai hobby atau aktivitas pecinta Allah. Seminggu sekali kita menjelajah alam dari pagi kadang hingga malam hari dengan melintasi beberapa wilayah. Bolehkah saya dan tim melakukan shalat jama taqdim karena mengikuti lintas alam tersebut karena khawatir tidak ada masjid ?. Apakah kegiatan kami ini termasuk musafir? Berapa jarak batas seseorang disebut musafir. Mohon penjelasannya. ( Bagja via fb)

 

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Sebenarnya pembahasan bab shalat jamak ini sudah pernah kita bahas. Namun untuk mengingatkan kembali bagi yang pernah membaca dan memahamkan yang yang tahu tidak apa kita ulas kembali.

 

Begini, secara fikih shalat Jama’ artinya melaksanakan dua shalat wajib pada satu waktu. Ada dua macam shalat jama’, pertama, jama’ taqdim seperti melaksanakan Shalat Zuhur dan Ashar pada waktu zuhur, atau melaksanakan Shalat Maghrib dan Isya’ pada waktu Maghrib.

 

Kedua, jama’ takhir, yakni melaksanakan Shalat Zuhur dan Ashar pada waktu Ashar atau melaksanakan Shalat Maghrib dan Isya pada waktu Isya. Shalat jama’ bisa dilakukan oleh orang mukim atau musafir (orang yang dalam perjalanan). Dalam sebuah hadits dari Mu’adz r.a. berkata,

 

Ketika Perang Tabuk, Rasulullah Saw. berangkat setelah masuk waktu Maghrib dan beliau menyegerakan Shalat Isya, yakni menjama’ Isya dengan Maghrib (Jama Taqdim).” (H.R. Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi).

 

 

Kemudian dalam hadits yang lain dari Anas r.a. berkata, “Rasulullah Saw. apabila bepergian (safar) sebelum tergelincir Matahari (belum masuk waktu Zuhur), beliau mengakhirkan Shalat Zuhur ke waktu Asar, kemudian berhenti (di perjalanan) dan menjama’ shalat. Dan kalau sudah masuk Zuhur, beliau shalat Zuhur kemudian berangkat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

 

Nah, bagi seorang musafir, bisa atau diperbolehkan menggunakan dua fasilitas rukhsah (keringanan dari Allah) ini sekaligus, yaitu menjama’ dan mengqashar. Dalam ini seperti diterangkan Allah Swt dalam Al Quran,

 

وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ إِنَّ الْكَافِرِينَ كَانُوا لَكُمْ عَدُوًّا مُبِينًا

 

Ketika kamu bepergian di bumi, tidak berdosa kamu mengqasar salat jika kamu takut diserang orang kafir. Sesungguhnya, orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (Q.S. An-Nisā’ [4]: 101).

 

Dalam sejarahnya, ketika Rasulullah Saw. dan para sahabatnya melakukan perjalanan (musafir), mereka melakukan atau mengambil keringanan/rukhsah dari Allah yaitu dengan mengqashar shalat yang empat rakaat menjadi dua rakaat. Ini seperti yang dicerikan Abu Ya’la r.a. bertanya kepada Umar Ibn Khattab r.a.,

 

 

Mengapa mengqashar shalat padahal kita sudah aman?” Umar menjawab, “Saya pernah bertanya (seperti ini) kepada Nabi Saw., lalu beliau menjawab, ‘(shalat qashar) adalah shadaqah yang Allah berikan kepada kamu, maka terimalah shadaqah-Nya.’” (HR. Muslim).

 

Kemudian dalam riwayat yang lain dari Ibnu Umar r.a. berkata, “Saya pernah menyertai safar Rasulullah Saw., ternyata beliau selalu shalat dua rakaat (qashar) ketika safar. Hal seperti ini dilakukan pula oleh Abu Bakar, Umar, dan Utsman.” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Hukum melakukan Shalat Qashar, menurut Imam Malik adalah Sunah Muakadah  atau sunah yang diprioritaskan. Sementara menurut  Imam Syafi’i dan Hambali menilainya sebagai rukhsah (keringanan) yang sebaiknya diambil atau dikerjakan . Kemudian menurut  Imam Hanafi menilainya sebagai ‘azimah  atau hal yang harus atau wajib dilakukan.

Mengenai jarak yang menjadi syarat diqashar atau tidaknya shalat, para ahli berselisih pendapat. Ada yang berpendapat minimal 70 km namun ada yang mensyaratkan 87 km. Juga ada yang dibawah itu. Terjadinya perbedaan pendapat adalah logis, karena masalah safar (bepergian) itu tidak bisa diukur hanya dengan jarak, tetapi juga perlu memperhatikan faktor waktu/situasi dan kondisi, sarana transportasi, medan perjalanan, kebiasaan orang bersafar, dan lain-lain.

 

Oleh karena itu, Imam Ibnu Qudamah berpendapat bahwa ayat tentang qashar  yakni dalam Q.S. An-Nisā’ [4]: 101) mengandung implikasi tidak membatasi safar dengan jarak. Yang penting adalah selama berniat safar dan merasa safar, diperbolehkan meng-qashar shalat. ( silakan baca edisi lengkapnya di Al-Mughni vol. II, p. 257).

 

Kemudian jama’ taqdim dan jama’ takhir ini boleh dilakukan bila dalam keadaan darurat, misalnya pernikahan (kedua mempelai), ujian/tes, kemacetan, safar, tetapi jangan dijadikan suatu kebiasaan.
Untuk kasus Anda, Anda boleh melakukan jama’ taqdim kalau dalam keadaan safar, tapi kalau dalam keadaan mukim (masih di daerah asal), tidak boleh melakukan jama’ taqdim, apalagi dilakukan secara konsisten.

 

 

Kemudian jika dikhawatirkan tidak akan menemukan masjid, usahakan cari tempat shalat yang bersih dari najis. Shalat boleh dilakukan di atas rumput atau bebatuan. Jadi, tidak harus di masjid atau di atas sajadah, karena pada zaman Rasulullah Saw. pun, para sahabat sering mengerjakan shalat di atas pasir dan di atas bebatuan selama bersih dari najis.

 

BACA JUGA: Hukum Shalat Tahajud Berjamaah, Boleh atau Terlarang ?

 

Kalau saran saya, karena itu kegiatan rutin maka sebaiknya sebelum menempuh perjalan lintas alama tersebut coba survey terlebih dahulu jalur atau lintasan yang akan dilalui ada masjidnya atau menimal mushola sehingga lebih aman dan nyaman dalam melaksanakan shalatnya.

 

Ingat, bahwa shalat adalah ibada utama bagi seorang muslim maka kegiatan apa pun itu termasuk pecinta alam jangan sampai melalaikan shalat. Gunakan kegiatan tersebut sebagai salah salah bentuk tadabur Al Quran dan tetap menjaga ibadah shalat. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat.

 

Nah, terkait pembahasan bab shalat ini lebih detail berikut dalilnya, Anda, bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian bisa membaca buku saya yang berjudul “SUDAH BENARKAH SHALATKU?“. Didalamnya ada pembahasan bab praktik shalat berikut contoh-contohnya. Wallahu’alam bishawab. [ ]

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: youtube

783

 

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

(Visited 330 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment