Sering Dimarahi Atasan, Resign atau Tetap Bekerja? Ini Yang Harus Dilakukan

Assalamu’alaykum, Pak Aam. Akhir-akhir ini saya selalu dimarahi atasan tanpa alasan yang jelas. Terkadang kesalahan-kesalahan yang bahkan bukan tanggung jawab saya jadi pelampiasan. Akhirnya karena sudah tidak tahan suatu saat saya melawan dan terjadi perdebatan dan kesal. Saya sudah meminta maaf namun belum ada respon dari atasan. Apa yang harus saya lakukan ? Apakah saya harus resign atau bertahan bekerja dengan makan hati? Mohon nasihatnya. ( W via fb )

 

 

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Tentu harus disadari bahwa yang namanya hidup itu dinamis dan tidak statis. Kadang senang, kadang sedih, kadang ada dipuji namun kadang dicaci, kadang disayang namun kadang dimarahi dan dibenci dan suasana lainnya.

 

 

Ini sudah menjadi hal yang lumrah atau biasa saja termasuk dalam bekerja. Saat berprestasi dipuji, namun saat tidak ada prestasi dimarahi. Saat sesuai target dapat bonus namun saat tidak sesuai target dapat hukuman atau bahkan pemotongan gaji dan sebagai. Itu tergantung dari kebijkan atau aturan perusahaan dan tentu tidak sama.

 

 

Jadi harus disadari bahwa semua itu adalah cobaan dalam hidup khususnya dalam bekerja. Saat dipuji menjadi ujian, saat dicaci juga menjadi ujian. Intinya kita harus berbuat yang terbaik dalam hidup ini termasuk dalam bekerja sebagai sebuah ibadah. Dalam Al Quran dijelaskan,

 

 

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

 

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia (Allah) menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,” ( QS.Al Mulk: 2)

 

 

Jadi apa pun itu semua adalah sebuah ujian dalam hidup termasuk dalam bekerja. Terkait keputusan resign itu kembali kepada Anda. Apakah ingin lanjut kerja disitu atau mau resign, ya silakan. Tetapi satu hal yang ingin saya garis bawahi.

 

 

Tidak ada satu tempat kerja itu yang tidak ada ujiannya, tidak ada rintangannya. Semua tempat kerja itu ada ujiannya. Karena kata Nabi itu bagian daripada ibadah. Dan kerja itu bisa menghapus doa-dosa kita, kalau niatkan sebagai ibadah.

 

 

“Barangsiapa yang di waktu sore merasa capek (lelah) lantaran pekerjaan kedua tangannya (mencari nafkah) maka di saat itu diampuni dosa baginya.” (HR. Thabrani)

 

BACA JUGA: Menafkahi Keluarga atau Belajar Agama, Mana yang Lebih Utama ?

 

Tugas kita itu satu dalam bekerja “lakukanlah yang terbaik!” ( do the best). Ini prinsip yang pertama. Lalu kita juga harus menjadi pembelajar. Belajar, belajar, belajar. Sehingga kita bekerja dimanapun, kita mendapatkan ilmu. Jadi islam itu mengajarkan kita untuk selalu bekerja dengan yang terbaik, menjadi pembelajar, dan jangan lupa untuk ikhlas. Ingat untuk kerja ikhlas, kerja keras, dan kerja tuntas.

 

 

Kalau bekerja itu kita harus tuntas dalam mengerjakannya. Kalau semua sudah dilakukan tapi kondisinya sama saja, itu hak Anda akan resign atau berlanjut. Silakan cari tempat kerja yang bisa menghargai pekerjaan Anda dan bisa membuat Anda nyaman. Itu wilayah Anda yang memutuskan.

 

 

Apakah harus istikharah? Ya tentu saja kalau itu menurut Anda penting, menurut Anda itu prinsipil. Orang beriman itu akan melakukan Istikharah pastinya jika memang mengalami dilemma akan hal penting dalam hidupnya. Itu berarti Anda mengandalkan Allah Swt yang mempunyai bumi dan seisinya. Anda yakin selalu ada jalan keluar dari setiap permasalahan seberat apapun. Maka lakukanlah sholat istikhara 2 rakaat, lalu memohon dan berdoa kepada Allah agar dibukakan kemudahn untuk mengambil keputusan yang baik.

 

 

Kemudian yang namanya istikharah itu jawabannya tidak harus lewat mimpi. Tapi melalui kemantapan hati. Kalau Anda sudah mantap, itu jawaban dari istikharah. Jadi jawaban istikharah itu bukan mimpi, tetapi kemantapan hati kita dalam mengambil sebuah keputusan.

 

Pada hakikatnya bekerja itu perintah Allah dan Allah juga yang akan menilainya. Coba simak perintah Allah seperti dalam Aquran,

 

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

 

Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS.At Taubah: 105 )

 

Kalau Anda bertahan, bersabar dan ikhlas meski sering disalahkan atau dimarahi maka insya Allah itu akan menjadi ladang amal buat Anda. Tetapi jika Anda tidak tahan dan ingin keluar, tentu itu juga hak Anda, pilihan Anda. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu’alam bishshawaab. [ ]

 

 

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

890

 

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

(Visited 248 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment