Cara Memelihara Iman Agar Kokoh Dan Kuat Pada Anak, 6 Langkah Ini Perlu Dilakukan

Assalamu’alaykum. Pak Aam, bagaimana cara memelihara keimanan anak agar senantiasa kuat dan kokoh ?. Mohon nasihatnya. Terima kasih ( Iin via fb )

 

 

 

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. pertanyaan Anda nampak sederhana namun sebenarnya mempunyai bobot yang sangat dalam karena ini terkait dengan proses pendidikan kepada anak khususnya bab akidah.

 

 

Pada hakikatnya cara memumuk keimanan pada orang dewasa dan anak-anak adalah sama. Hanya tentu saja dalam diri anak harus disesuaikan dengan usia dan daya pikirnya.

 

 

Allah Swt. mengumpamakan iman yang kuat seperti pohon yang akarnya menghunjam ke bumi, cabangnya menjulang ke langit, berdaun lebat, dan selalu berbuah. Hal ini sebagaimana Allah jelaskan dalam Al Quran,

( ) أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ

 

( ) تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا ۗ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

 

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik (Laa Ilaha Illallah) seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke atas langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizing Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya selalu ingat.’” ( QS. Ibrahim: 24 – 25 )

 

 

Ibarat sebuah pohon, agar pohon tetap subur dan kokoh, perlu dipelihara dengan memberinya air yang bagus dan pupuk yang berkualitas sehingga dapat berbuah lebat dan bermanfaat bagi sekelilinyany. Iman pun demikian, harus dirawat dan dipupuk sehingga kuat dan memberikan amal yang shalih yang senantiasa dilakukan setiap harinya. Di antara strategi agar iman tetap dalam keadaan kokoh yaitu,

 

 

Pertama, muhasabatunnafsi atau melakukan introspeksi diri.

 

Mengidentifikasi apa saja kekurangan, kelemahan, dan kealfaan kita, lalu memperbaikinya dengan sungguh-sungguh. Apabila melakukan amal keburukan, cepatlah bertaubat dengan memperbanyak istighfar yang kemudian ditindaklanjuti dengan melakukan berbagai amal kebajikan yang Allah ridoi. Allah berfirman dalam ayat ke-18 surat Al Hasyr.

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

 

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’”

 

Kedua, riyadhah ruhiyah.

 

Ini dilakukan dengan latihan membiasakan melakukan amalan-amalan sunah, seperti shaum sunah, shalat Dhuha, Shalat Tahajud, Shalat Witir, dan amalan–amalan sunah lainnya yang berfungsi untuk menyuburkan ruhiyah, sehingga senantiasa merasakan kehadiran Allah dalam hidup.

 

Ketiga, tadabbur Al Quran,

 

Yaitu membaca, memahami,menghayati, serta mengamalkan Al Quran.

Syukur syukur kita bisa mengajarkannya. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari, Usman bin ‘Affan ra. berkata, ‘Rasulullah saw. bersabda,

 

 

‘Sebaik- baik dari kalian adalah yang mempelajari Al Quran, kemudian mengajarkannya.’

 

Al Quran adalah kitab Allah sebagai petunjuk bagi manusia. Apabila menemukan fenomena-fenomena yang menimbulkan keraguan, maka solusinya adalah dengan mentadabburi Al Quran. Ayat ke-2 surat Al Baqarah berbunyi,

 

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

 

Kitab Al Quran ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.’

 

 

Dengan tadabbur Al Quran, hati menjadi bercahaya karena Al Quran berfungsi sebagai cahaya (penerang) bagi orang yang dalam kegelapan, yang diliputi oleh keragu-raguan, kebimbangan dalam menjalani kehidupan, sehingga mendapatkan kemampuan membedakan dengan jelas mana yang benar dan mana yang batil. Firman-Nya dalam surat Muhammad ayat 24 berbunyi,

 

 

Mengapa mereka tidak mentadabburi (memperhatikan) Al Quran, ataukah hati mereka terkunci?

 

 

Keempat, dzikrullah atau anyak mengingat Allah.

 

Dengan mengingat Allah, hati akan menjadi tenteram. Ketenteraman itu terasa dari jiwa ihsan, yaitu merasakan Allah selalu melihatnya sehingga setiap aktivitasnya senantiasa ada dalam tataran fitrahnya (mengikuti petunjuk Allah), yaitu ada dalam situasi tenteram dan damai, penuh keimanan yang merupakan cahaya di dalam menjalani kehidupannya. Sebagaimana firman-Nya dalam surat Al Ahzab ayat 41 sampai 43.

 

Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. Dia-lah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat- Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orangorang yang beriman.’

 

 BACA JUGA: Agar Anak Taat Aturan, Lakukan 5 Hal Ini

 

Kelima, memperbanyak doa.

 

 

Memohon pertolongan Allah agar hidup senantiasa ada dalam petunjuk-Nya, senantiasa berada dalam jalan yang pernah ditempuh oleh orang-orang yang telah mendapatkan anugerah nikmat-Nya seperti para nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin. Dalam Surat An-Nisa ayat 69 menyebutkan,

 

 

Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.’

 

 

Keenam, mencintai fakir miskin dan anak yatim.

 

 

Dalam hadis riwayat Ahmad, Abu Hurairah ra. bercerita, seseorang melaporkan kepada Rasulullah saw. tentang kegersangan qalbu yang dialaminya. Beliau menegaskan,

 

‘Bila engkau mau menghidupkan qalbumu, beri makanlah orang-orang miskin dan cintai anak yatim.’

 

Mencintai mereka diaplikasikan dalam bentuk zakat,infaq, shadaqah, dan kegiatan-kegiatan sosial yang dilandasi tujuan membahagiakan fakir, miskin, dan yatim sebagai ekspresi dari jiwa syukur atas anugerah kenikmatan Allah.

 

BACA JUGA: Tips Agar Anak Tak Terjemak Gaya Hidup Hedonisme

 

Syukur adalah aktivitas yang lahir dari keyakinan bahwa harta yang dimilikinya adalah titipan Allah yang harus dipergunakan secara proporsional sesuai yang dikehendaki-Nya. Allah akan menambah nikmat bagi orang-orang yang bersyukur.

 

 

Semakin banyak membahagiakan orang lain, akan semakin banyak kenikmatan hidup yang akan diraih. Ayat ke-7 surat Ibrahim menjelaskan,

 

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

 

‘Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’

 

 

Itulah di antara strategi agar iman tetap kokoh. Sehingga iman yang kita miliki dapat diibaratkan seperti pohon yang kokoh, berdaun rindang, berbuah lebat, dapat dijadikan tempat berteduh, bersandar, dan berlindung orang-orang yang kepanasan dan kecapean.

 

 

Apabila ada angin atau badai datang menimpanya, pohon tersebut akan tetap kokoh berdiri tegak, elegan, gagah, indah, dan mempesona. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu’alam bishshawab. []

 

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

870

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

(Visited 579 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment