Ciri Orang Yang Mendapat Hidayah Dari Allah

berdoa

 

 

Tafsir surat Al Lail ayat 12 – 20

 

Oleh: Dr.Aam Amiruddin,M.Si

 

 

PERCIKANIMAN.ID – – Setiap manusia khususnya orang-orang yang beriman selalu mengharap mendapat petunjuk atau hidayah dari Allah Swt. Setidaknya itu diungkapkan setiap shalat saat membaca surat Al Fatihah. Sebab hanya Allah Swt yang berhak atau berkuasa memberikan petunjuk atau hidayah-Nya,

 

إِنَّ عَلَيْنَا لَلْهُدَىٰ

 

“Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk,”  (QS.Al Lail: 12)

 

 

 

Allah swt. telah menetapkan pada diri-Nya Yang Maha Suci untuk memberikan petunjuk atau hidayah kepada manusia. Setidaknya ada dua macam hidayah Allah; pertama hidayah dilalah dan yang kedua hidayah taufiq.

 

 

Hidayah dilalah adalah petunjuk-petunjuk hidup yang termaktub dalam kitab suci Al Quran dansunah Rasulullah saw. Allah swt. telah menurunkan Al Quran dan mengutus Nabi Muhammad saw. untuk menjelaskan isinya agar manusia tidak tersesat mengarungi kehidupan. Hidayah dilalah bisa didapatkan melalui proses belajar.

 

 

 

 

Kalau kita mau mempelajari petunjuk-petunjuk Allah swt. yang termaktub dalam Al Quran dan sunah Rasulullah saw., berarti kita membuka diri untuk mendapatkan hidayah dilalah. Tidak ada alasan bagi kita berkata, “Saya belum mendapat hidayah,” padahal Allah swt. telah menyediakan hidayah itu dalam kitab suci-Nya.

 

 

 

 

Sedangkan hidayah taufiq adalah suatu kekuatan yang Allah swt. berikan pada manusia untuk mengamalkan apa yang telah diketahuinya. Dengan kata lain, hidayah taufiq adalah hidayah dilalah yang kita amalkan. Misalnya, kita tahu bahwa shalat itu wajib. Ini adalah hidayah dilalah.

 

 

 

Kita  rajin melakukan shalat. Ini adalah hidayah taufiq.  Kalau kita sudah tahu bahwa shalat itu wajib tapi tidak melaksanakannya, berarti kita punya hidayah dilalah tapi tidak punya hidayah taufiq.

 

 

Sebagaimana disebutkan di atas, hidayah dilalah bisa kita dapatkan melalui proses belajar. Lalu, bagaimana cara mendapatkan hidayah taufiq? Paling tidak, ada dua langkah agar kita mendapatkan hidayah taufiq, yaitu,

 

  1. Berdoa

Allah swt. merupakan sumber petunjuk. Kita harus sering memohon kepada-Nya untuk mendapatkan bimbingan dan petunjuk-Nya.

 

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

 

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi “. (Q.S. Ali Imran:8)

 

 

  1. Latihan

Segala sesuatu perlu latihan. Seorang anak tidak langsung bisa berlari tanpa berlatih. Seorang olahragawan angkat besi tidak mungkin langsung mampu mengangkat beban 150 kg tanpa berlatih. Begitu juga kita tidak mungkin bisa tahajjud dengan rajin tanpa berlatih, tidak mungkin rajin ke majlis ta’lim tanpa berlatih, dan seterusnya. Intinya, kita akan merasa mudah beramal saleh melalui proses latihan.

 

 

Allah swt. berfirman, “Katakanlah, “Taat kepada Allah dan taatlah kepada rasul; dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepada-Nya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan  dengan terang”. (Q.S. An-Nur 23:54)

 

 

Pada ayat ini ada kalimat “Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk.” Kalimat pada penggalan ayat ini menegaskan bahwa petunjuk Allah swt. akan diberikan kepada orang-orang yang berusaha taat, alias selalu berlatih melaksanakan aturan-aturan-Nya dan menjauhi apa saja yang dimurkai-Nya.

 

 

Ciri orang yang mendapatkan hidayah taufik adalah,

 

  1. Merasa ringan dalam beramal saleh

 

Orang yang telah mendapatkan hidayah ini akan merasa mudah atau ringan dalam melaksanakan amal shaleh, rajin dan tekun dalam beribadah, serta sangat takut berbuat kedurhakaan. Sementara orang yang tidak mendapatkan hidayah ini akan berlaku sebaliknya, merasa malas dalam beramal shaleh dan tidak merasa bersalah kalau berbuat maksiat.  Allah Swt berfirman,

 

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ ۖ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ ۚ كَذَٰلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ

 

Barangsiapa yang Allah kehendaki untuk mendapat petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya , niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman”. (Q.S. Al-An’am 6 : 125)

 

 

Maksud kalimat “Dia melapangkan dadanya untuk  Islam…” adalah orang yang mendapat hidayah akan merasa mudah melaksanakan ajaran-ajaran-Nya, dadanya lapang tanpa beban. Sementara yang dimaksud “niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit” adalah  orang yang tidak mendapat hidayah akan merasa malas dalam beramal saleh karena dadanya terasa sesak saat melaksanakan aturan-aturan-Nya.

 

 

  1. Konsisten

 

Orang yang mendapatkan hidayah ini akan  berpegang teguh atau konsisten dalam menjalankan perintah-perintah-Nya dan merasa nikmat saat beribadah kepada-Nya.

 

 

“…Barangsiapa yang berpegang teguh kepada  Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”  (Q.S. Ali Imran :103).

 

 

  1. Bersemangat dalam mempelajari ajaran agama

 

Orang yang mendapatkan hidayah taufiq akan memiliki semangat untuk selalu menelaah ajaran-ajaran Allah. Islam itu agama yang harus difahami bukan sekadar diyakini. Rasulullah  saw. bersabda,”Apabila Allah akan memberikan kebaikan pada seseorang, Dia faqihkan orang tersebut dalam agama.” Yang dimaksud, “Dia faqihkan orang tersebut dalam agama” adalah orang tersebut bersemangat untuk menelaah ajaran-ajaran Islam.

 

 

Demikianlah macam-macam hidayah dan ciri-ciri orang yang mendapatkannya. Semoga kita bisa meraih hidayah dilalah dan taufiq-Nya.

 

وَإِنَّ لَنَا لَلْآخِرَةَ وَالْأُولَىٰ

 

“dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia,”  (QS.Al Lail: 13)

 

Ayat ini menegaskan bahwa hanya Allah swt. pemilik kehidupan dunia dan akhirat. Allah swt. memberi kehidupan kepada kita sebagai batu ujian, mampukah kita mengisi hidup dengan aktivitas yang bermakna ataukah hanya dengan kesia-siaan?

 

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“(Allah) yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (Q.S. Al  Mulk :2 )

 

 

Karena itu, hanya aturan-aturan-Nya yang wajib kita amalkan dalam kehidupan, hanya Dialah yang Maha Memiliki kehidupan dunia dan akhirat. Ustadz Muhammad Abduh menegaskan dalam tafsirnya bahwa Allah swt. mendahulukan penyebutan kehidupan akhirat daripada dunia sebagai penegasan bahwa kehidupan akhirat itu sesuatu yang sangat pasti akan terjadi dan semua manusia akan dimintai pertanggungjawabannya tentang kehidupan dunia.

 

فَأَنْذَرْتُكُمْ نَارًا تَلَظَّىٰ

 

“Maka, kami memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala,” (QS.Al Lail: 14)

 

 

Peringatan ini Allah swt. sampaikan sebagai wujud cinta kasih-Nya kepada manusia. Manusia harus hati-hati dalam mengarungi kehidupan dunia. Jangan sampai berbuat zalim kepada sesama sebab setiap langkah kehidupannya harus dipertanggung-jawabkan di pengadilan yang maha adil pada hari kiamat.

 

 

Allah swt. memberikan jaminan bahwa azab yang  disediakan itu bukan untuk menzalimi hamba-Nya tapi untuk menegakkan keadilan. Orang-orang yang taat akan diberi imbalan dan yang durhaka akan mendapat azab, karena itu pada ayat ini Allah swt. menegaskan,

 

لَا يَصْلَاهَا إِلَّا الْأَشْقَى

 

الَّذِي كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰ

Tidak ada yang masuk ke dalamnya  kecuali orang yang celaka, yang mendustakan kebenaran dan berpaling dari iman” (QS.Al Lail: 15-16)

 

 

Adapun bagi orang-orang yang menaati perintah-perintah-Nya, Allah Swt. telah menjanjikan imbalan yang setimpal. Hal ini dijelaskan dalam ayat selanjutnya.

 

BACA JUGA: Belajar Islam Dulu atau Bekerja Mencari Nafkah ?

 

“Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yaitu yang menafkahkan hartanya di jalan Allah untuk membersihkannya, padahal tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi  dia memberikan itu semata-mata  karena mencari keridoan Tuhannya yang Maha Tinggi.” (QS.Al Lail: 17 – 20)

 

 

Orang yang bertakwa akan diajuhkan dari azab Allah swt. karena mereka selalu menyukuri segala nikmat-Nya. Diantara ekspresi sukur adalah membelanjakan harta di jalan yang diridoi Allah.

 

 

Harta yang dikeluarkan untuk fakir, miskin, dan yatim bukan untuk mendapatkan imbalan, pujian, ataupun penghargaan. Namun karena ingin mendapatkan keridoan-Nya. Semoga kita diberi kekuatan untuk menjadi orang-orang yang mampu bersukur kepada-Nya. Amiin. [ ]

 

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

860

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

 

 

(Visited 1,096 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment