Dosakah Berbohong Demi Kebaikan ? Begini Penjelasannya

Assalamu’alaykum. Pak Aam,  Berdosa kah kita jika berbohong demi kebaikan? Dan dilakukan berulang-ulang, alasannya sama demi kebaikan. Dalam hal apa kita boleh berbohong? Mohon nasihatnya. (Sani via email)

 

 

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dimuliakan Allah. Pertama kita harus sepakat dulu bahwa bohong adalah sebuah perbuatan yang tetap dikategoriakan sebagai suatu yang salah. Berbohong itu perbuatan dosa. Islam melalui Rasul-Nya ummatnya melakukan kebohongan atau hal yang masuk katergori berbohong atau dusta. Dalam sebuah haditsnya Rasul bersabda,

 

 

عَنْ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْد رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى الْبِرِّ ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الْجَنَّةِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيْقًا ، وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِيْ إِلَى الْفُجُوْرِ ، وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِيْ إِلَى النَّارِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا

 

 

Dari ‘Abdullâh bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke Surga. Dan apabila seorang selalu berlaku jujur dan tetap memilih jujur, maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke Neraka. Dan jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai pendusta (pembohong).’” ( HR. Bukhari dan Muslim )

 

Jadi bohong atau dusta itu lebih dekat kepada amalan para penghuni neraka. Sebaliknya kejujuran lebih membawa pada kebaikan atau amalan para penghuni surga.

 

Kemudian, bolehkah kita bohong demi kemashlahatan? Ada beberapa riwayat yang menunjukkan pengecualian. Pengecualian dimana kita boleh berbohong demi kemaslahatan, apa saja?. Dalam sebuah hadits diriwayat begini,

 

ولم أسمعه يرخص في شيء مما يقول الناس إلا في ثلاث: تعني الحرب، والإصلاح بين الناس، وحديث الرجل امرأته، وحديث المرأة زوجها.

 

Belum pernah aku dengar, kalimat (bohong) yang diberi keringanan untuk diucapkan manusia selain dalam 3 hal: Ketika perang, dalam rangka mendamaikan antar-sesama, dan suami berbohong kepada istrinya atau istri berbohong pada suaminya (jika untuk kebaikan).” (HR. Muslim)

 

BACA JUGA: Keluar Kerja Dari Bank dan Berbohong Pada Orangtua, Bagaimana Hukumnya?

 

 

Pertama,dalam peperangan antara kaum muslimin melawan kaum kafir,misalnya ada tentara atau pasukan kaum muslimin yang tertawan musuh. Kemudian ia diminta menunjukkan posisi pasukan atau panglima kaum muslimin maka ia boleh berbohong dan tidak harus mengatakan yang sebenarnya. Sebab, kalau ia jujur maka akan dapat mencelakai saudara muslimnya.

 

 

 

Kedua, berbohong untuk mendamaikan orang yang berselisih. Si A berselisih dengan si B, Saya ketemu si A dan bilang “Sebenarnya si B itu mau berdamai dengan kamu. Coba kamu berlapang hati lah untuk menerima kesalahannya.” Lalu saya bilang ke si A bahwa si B juga ingin berdamai dengan dia. Padahal itu karangan saya. akhirnya mereka berdamai karena rekayasa ya saya buat. Itu boleh, diperbolehkan.

 

 

 

Ketiga, kita diperbolehkan berbohong untuk menciptakan keharmonisan. Misalnya seorang mantu, dia gak suka sama orang tuanya. Begitu anaknya yang perempuan ini pulang ke rumahnya, ibunya nanya “Neng koq aa tidak ikut?”. Kemudia kata anaknya “iya mah, dia kecapean katanya titip salam aja ke mamah. Ini juga ada oleh-oleh” jadi ngarang itu sebenarnya. Nah ini kan sesuatu yang diperbolehkan. Bahwa sebenarnya suami itu tidak pernah ngasih oleh-oleh ke mertuanya. Nah itu diperbolehkan. Jadi sebenarnya kita diperbolehkan berbohong demi sebuah kemaslahatan.

 

 

Lalu bagaimana kalau kebohongan itu dilakukan berulang-ulang? Boleh atau tidak?. Kembali kepada kemaslatatan tadi, apakah kalau diungkapkan dengan jujur justru berdampak buruk atau tidak?. Kalau dampaknya atau mudhorotnya lebih banyak bahkan bisa mencelakai jiwanya maka berbohong boleh. Tetapi kalau dia misalnya siap menerima dan berlapang dada tentu tidak harus berbohong.

 

 

Sekali lagi menurut hemat saya, yang terpenting adalah niatan untuk menciptakan kemaslahatan. Jadi kalau berbohong untuk menipu itu jelas haram. Tapi berbohong untuk menciptakan maslahat itu diperbolehkan menurut saya. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat . Wallahu’alam bishshawab. [ ]

 

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

890

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

(Visited 234 times, 2 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment