Menafkahi Keluarga atau Belajar Agama, Mana yang Lebih Utama ?

Assalamu’alaykum. Pak Aam, saya sudah berkeluarga dan mempunyai anak satu.Saya bekerja di perusahaan swasta sementara istri bekerja sebagai PNS. Belum lama ini saya mendapatkan pencerahan tentang pentingnya belajar ilmu agama sebagai bekal di dunia dan akhirat. Akhirnya saya berkeinginan untuk belajar di pesantren lamanya antara 1 tahun hingga 1,5 tahun. Kami sudah diskusi dan istri setuju serta mendukung. Saya harus resign dari pekerjaan dan fokus belajar di pesantren. Sebagai PNS gaji istri mencukupi kebutuhannya dan anak kami. Rencananya selama di pesantren saya memakai tabungan sendiri. Bagaimana menurut ustadz ?. Mohon nasihatnya. ( B via fb )

 

 

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Apa yang Anda rencanakan dan akan dilakukan tersebut merupakan niat yang baik dan mulia yakni mencari ilmu atau belajar agama. Sebab, belajar khususnya mencari ilmu agama (thalabul ilmi) ini hukumnya wajib bagi setiap muslim. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Saw sabdakan,

 

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

”Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”. (HR. Ibnu Majah)

 

Sebab dalam beramal itu kita harus tahu perintah dan larangan. Beramal itu harus ada dalil atau tuntunan dari Rasul dan perintah dari Allah. Nah, untuk tahu itu kita harus belajar. Inilah pentingnya menuntut ilmu atau belajar agama.

 

Namun begini, dalam kasus Anda ini tentu berbeda. Anda sudah berkeluarga dan mempunyai istri serta anak dimana kewajiban seorang suami atau kepala rumah tangga adalah memberikan nafkah, baik lahir maupun batin.

 

 

Perlu Anda perhatikan, walaupun istri Anda setuju tetapi tetap saja Anda sebagai seorang suami telah melupakan skala prioritas. Namanya ayah itu wajib menafkahi anak, walaupun istri kita punya penghasilan atau bekerja. Namanya suami itu wajib menafkahi istrinya, sekalipun istrinya bisa mencari nafkah sendiri. Tetap saja kewajiban itu tidak gugur karena istri kita punya penghasilan sendiri.

 

 

Jadi mojang bujang sekalian, khususnya Anda dan para suami yang mempunyai Istri bekerja, mohon diperhatikan dan dipahami. Sekalipun istri Anda kaya, bisa mendapatkan nafkah yang bahkan lebih besar dari nafkah yang Anda berikan. Tapi kewajiban suami untuk menafkahi istri itu wajib hukumnya.

 

 

Jadi kewajiban suami memberi nafkah kepada istri dan anak-anaknya tidak bisa gugur disebabkan istri punya penghasilan atau bisa menafkahi dirinya sendiri. Meski penghasilan suami lebih kecil dibanding istri maka tetap kewajiban itu menafkahi istri dan anak-anaknya.

 

 

Jika istri bekerja atau mempunyai penghasilan maka penghasilan atau hartanya itu untuk dirinya sendiri dan dia atau istri berhak sepenuhnya mengelola penghasilannya. Tidak ada kewajiban seorang istri menafkahi suami dan anak-anaknya. Simak baik-baik perintah Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 233

 

 

“Dan kewajiban ayah (suami) adalah memberi makan dan pakaian kepada para ibu (istri) dengan cara yang baik”. ( QS. Al Baqarah : 233]

 

 

BACA JUGA: Apakah Suami Masih Wajib Menafkahi Ibunya?

 

 

Itu jelas sekali. Jadi saya bilang kalau Anda keluar dari pekerjaan, lalu Anda mesantren itu Anda sudah melupakan kewajiban Anda sebagai seorang suami, juga sebagai ayah dari anak Anda. Mungkin alasan Anda ingin thalabul ilmi atau mencari ilmu yang juga wajib bagi seorang muslim apalagi sebagai kepala rumah tangga.

 

 

Betul, namun posisi Anda saat ini kewajibannya adalah menafkahi istri dan anak-anak, bukan mencari ilmu, sebab Anda seorang suami dan ayah. Lain halnya jika Anda masih bujang atau sendiri, maka kewajiban Anda mencari ilmu menjadi wajib sebab Anda tidak punya kewajiban memberi nafkah. Coba ini dipahami.

 

 

Kalau keinginan Anda belajar atau masantren itu ingin dimbimbing dengan hidayah Allah, maka menurut hemat saya Anda tidak harus Anda ikut pesantren sampai bertahun. Karena Anda sekarang sudah menjadi ayah dan juga menjadi suami. Kalau Anda mau tetep Anda bekerja,

 

 

Jika Anda ingin belajar agama atau istilahnya mengaji maka ada hari Sabtu atau Ahad  yang Anda bisa memanfaatkan waktu itu untuk ikut belajar Agama. Anda juga bisa ikut sertakan anak dan istri Anda juga. Nah itu yang lebih baik dan realistis.

 

 

Anda sebagai ayah bisa bisa memenuhi kewajiban dan Anda juga bisa belajar Agama. Saya yakin tentu saja fasilitas untuk belajar saat ini sudah banyak sekali. Jangan saya berpikir “saya mau pesantren, saya berhenti kerja”. Nah terus kewajiban Anda sebagai suami disimpen dimana itu? Nah jadi tolonglah berfikir religius itu harus proporsional. Karena Anda kewajiban yang lebih wajib yaitu menafkahi keluarga.

 

 

Zaman Rasul itu ada sesorang yang meninggalkan Istrinya demi ibadah, sama Rasulullah dimarahi. Diriwayatkan ada seorang istri yang datang mengeluh kepada Aisyah “saya ini mempunyai suami yang tiap malam tahajud saja, tidak pernah tidur. Saya pun tidak pernah disentuh olehnya. Jika siang hari pun dia tidak bekerja dan melakukan shaum setiap hari.” Lalu Rasulullah memanggil orang tersebut “Benrakah yang dikatakan istrimu?” kata orang itu “Benar ya Rasul, saya lakukan itu karena saya ingin dekat dengan surga mu.” Wajah Rasul memerah, marah dimaksudkan untuk meluruskan. Katanya “aku ini orang yang paling takwa diantara kamu. Aku menjalankan tahajud, akau berpuasa setiap hari saat ramadhan. Istrimu itu punya hak” Nahi ini menunjukkan bahwa kalau kita sebagai suami itu harus paham kewajiban utama kita. Jadi kalau ada suami yang mempunyai alasan bahwa istri berpenghasilan itu dzalim. Suami itu berarti tidak menjalani kewajibannya untuk menafkahi keluarga.

 

 

Kemudian yang dinamakan memberi nafkah itu bukan sekedar materi namun juga nafkah batin atau ketenangan dan rasa ketentraman istri dan anak-anak Anda. Bagaimana perasaan istri dan anak ditinggal 1,5 tahun suami dan ayahnya?. Ini yang perlu Anda pikirkan. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat.

 

 

Nah, terkait dengan pembahasan dan tips membentuk serta membangun keluarga yang sakinah dan harmonis, Anda dan mojang bujang sekalian bisa membaca buku saya yang berjudul, “INSYA ALLAH SAKINAH“. Dalam buku ini ada beberapa tips serta contoh kasus rumah tangga berikut solusinya dikemas dengan pembahasan sesuai tutunan Islam dan mudah dipahami. Wallahu’alam bishawab. [ ]

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

860

 

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

(Visited 612 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment