Bagaimana Caranya Menilai Laki-laki Itu Sholeh? Perhatikan Yang Ini

Assalamu’alaykum. Pak Aam, apa syaratnya hidup bahagia? Apa ciri laki-laki sholeh dan pantas menjadi pengdaping hidup (suami) itu? Mohon penjelasannya. ( Asty via fb )

 

 

 

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sekalian yang dirahmati Allah. Tentu semua orang ingin hidupnya bahagia. Namun bahagia atau perasaan bahagia itu sangat relatif. Karena setiap orang punya kepentingan dan cara memaknai yang berbeda. Kita ambil contoh yang sederhana. Ada ibu yang terlambat menstruasi atau datang bulan.

 

 

Bagi ibu yang sudah menikah selama 5 tahun lalu terlambat menstruasi ketika dicek menggunakan tespek itu benar hasilnya positif. Dia pasti senang dan bahagia sekali sampai sujud syukur. Nah itu bagi Anda yang ingin punya anak.

 

 

Tapi ada juga yang terlamabat mens itu malah jadi stres. Misalnya ibu yang baru punya balita usia 3 bulan. Begitu terlambat datang bulan dan dinyatakan hamil lagi, bisa jadi ia malah bingung, stres, masih punya bayi tapi sudah hamil lagi. Begitu suaminya pulang kerja dimarahi suaminya. Lalu jadi berantem. Nah itu fenomena terlambat mens saja ada yang menjadikan orang bahagia, ada juga yang malah terpuruk malah stres. Ini contoh bahwa bahagia itu relatif.

 

 

Kebahagian  itu juga bukan bersumber dari banyaknya harta dan kekayaan, tetapi dari hati. Hal ini sebagaimana yang dipesankan Rasul Saw,bersabda,

 

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

 

Yang namanya kaya (ghina’) bukanlah dengan banyaknya harta (atau banyaknya kemewahan dunia). Namun yang namanya ghina’ adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Jadi sumber kebahagian itu ada dalam hati. Karena bahagia itu relatif, bahagia itu dimulai darimana? Dimulai dari cara berfikir. Kalau Anda ingin bahagia itu dimulai dari cara berfikir positif.  Kata Nabibersabda:

 

عجبًا لأمرِ المؤمنِ . إن أمرَه كلَّه خيرٌ . وليس ذاك لأحدٍ إلا للمؤمنِ . إن أصابته سراءُ شكرَ . فكان خيرًا له . وإن أصابته ضراءُ صبر . فكان خيرًا له

 

Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya” ( HR. Muslim)

 

Ini hadits menjadi isyarat bahwa bahagia itu dimulai dari cara berfikir. Makanya kalau Anda ingin bahagia, bina cara berfikir Anda untuk selalu positif. Contoh ketika ditimpa penyakit, bagi sebagian orang itu penderitaan.

 

 

Tapi ada sebagian orang yang ketika dikasih sakit “ya Allah semoga sakit ku ini menjadi pelebur dosa ku. Sehingga ketika aku mati karena sakit ku ini aku mati dalam keadaan khusnul khotimah” tuh kan jadi baik bagi dia. Darimana? Dari cara berfikirnya. Ada itu orang yang kaya raya. Suami mapan, punya anak. tetapi tidak bahagia. Darimana itu? dari cara berfikir. Ada yang bisanya naik angkot kemana-mana tapi bersyukur aja kerjaannya.

 

 

Jadi bahagia itu berawal dari rasa syukur dan ridho atas apa yang telah Allah tetapkan. Bahagia, memang gampang untuk diucapkan, pokoknya kalau Anda ingin bahagia, miliki kerangka fikir kebahagiaan.

 

 

BACA JUGA: Suami Yang Buruk Akhlaknya, Apakah Cermin Istri Yang Buruk Juga? Begini Penjelasannya

 

Kemudian apa syarat hidup bahagia?. Jelas, dengan mengacu pada hadits tersebut diatas syarat hidup bahagia bagia seorang muslim adalah beriman dan bertakwa kepada Allah. Sebab, pada hakikatnya kebahagian hidup ada pada kondisi ketenangan dan ketentraman.

 

Sementaras perasaan tenang, tentram dan damai itu berasala dari Allah. Untuk itu kita harus “mendekat” kepada Allah, beriman, bertakwa dan beramal shalih. Sebab nantinya larinya atau muaranya pada rasa sabar dan syukur tersebut.

 

Lalu seperti apa ciri pria atau laki-laki sholeh yang layak menjadi suami atau imam dalam keluarga? Sebenarnya ada banyak kriteria namun secara singkat dapat kita jelaskan beberapa hal saja.

  1. Beriman dan bertakwa kepada Allah Swt

Seorang aki laki atau pria yang sholeh ia memiliki iman yang selalu tetap dan teguh hanya pada Allah Swt dimanapun dan kapanpun. Laki laki seperti ini akan mengarahkan  wanita atau istrinya menuju jalan kebaikan sesuai ajaran Islam. Ia akan membimbing istri dan anak keturunannya kepada jalan Allah. Ia mempunyai prinsip seperti dalam Al Quran,

“ Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku, semua bagi Allah tuhan semesta alam”  (QS. Al-An’ Aam: 162 )

2. Berakhlal mulia

Seorang lelaki yang mempunyai akhlak mulia akan mencegahnya dari berbagai perkataan dan tindakan yang tidak menyenangkan. Selain itu, laki laki yang memiliki ciri ini juga akan selalu menjaga hubungan dengan baik pada orang lain terlebih pada Allah Swt dan tentunya akan selalu disenangi istrinya. Dalam hadits disebutkan

“ Yang paling sempurna imannya di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya. Dan yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik kepada istri-istrinya.” ( HR. Turmudzi )

3. Mampun mengendalikan hawa nafsu dengan baik

Lelaki sholeh akan selalu mengajak pasangannya atau istrinya  menuju jalan kebaikan. Memiliki keperibadian yang selalu bisa menjaga hawa nafsu dengan sangat baik merupakan hal penting yang harus dimiliki setiap muslim. Orang yang bisa mengendalikan hawa nafsu dengan baik, maka akan selalu sabar, tidak mudah terbawa emosi dan akan selalu beristighfar apabila hawa nafsu mulai ia rasakan.

 

4. Selalu Menjaga Pandangan

Seorang pria atau lelaki shalih juga akan menjadi pandangannya khususnya kepada lawan jenis. Ia juga bisa menjaga kemaluannya untuk tidak berbuat zina. Ini bisa terjadi karena keimanan kuat yang dimiliki dan juga sebagai pencegahan dari hawa nafsu.

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”  ( QS. An-Nur :30 )

5. Berbakti pada orang tua dan bermanfaat bagi sesama.

Anak atau laki-laki yang shalih adalah ia senantiasa berbakti kepada orang tuanya. Berbakti pada orang tua adalah salah satu ciri orang yang beriman. Sebab, ridho orang tua khususnya ibu juga ridho Allah. Ia selalu dan berusaha memuliakan orangtuanya. Demikian juga ia bermanfaat atau memberi manfaat bagi lingungannya, baik keluarganya maupun teman-temannya dan masyarakat. Bukan sebaliknya yang memberi mudhorot dan bikin masalah.

 

Itu beberapa kriteria saja dan sebenarnya masih banyak lagi. Sebenarnya kita hanya bisa melihat dari lahiriah saja. Pasangan hidup kita juga merupakan bagian dari ujian kita di dunia. Banyak orang yang belum menikah mempunyai ciri-ciri kesholehannya tampak. Namun setelah menikah jadi berubah.

 

Belum menikah  tahajud rajin, puasa Senin Kamis tidak pernah lewat. Tiap jam 3 dia  sudah mengajak tahajud. Tiap Senin dan Kamis selelau mengingatkan untuk puasa sunnag. Pokoknya  sebelum nikah titu kelihatan baik, sholeh, dermawan.

 

 

Tapi setelah menikah itu semua berbanding terbalik. Jangan kaget, biasanya aslinya orang itu setelah nikah. Jadi orang juga bisa melakukan pencitraan terhadap dirinya. Ada front stage yaitu bagaimana dia di depan kita, ada backstage dibelakang kita gimana. Kalau sudah menikah mah kita sudah tahu backstagenya dia.

 

 

Nah itulah hidup. Jodoh itu ujian. Kita hanya melihat yang lahiriah, tinggal kita istikharah. Ketika sudah mantep, ya menikah. Kalo pasangannya baik maka itu diuji dengan kebaikan. Begitu sebaliknya. Seperti dalam surat Al-Anbiya ayat 35

 

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

 

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.”

 

 

Jadinya intinya kita mempunyai pasangan hidup (suami atau istri) itu adalah ujian. Kalau pasangan kita shalih shalihah kita harus bersyukur, kemudian merawat, menjaga dan mempertahankannya kebaikan sampai akhir hayat. Lalu kalau mempunyai pasangan hidup yang tidak baik maka itu ujian kita harus bersabar, berdoa dan tetap beramal shalih serta meningkatkan ketakwaan. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat.

 

 

Nah, terkait bahasan membangun rumah tangga yang sakinah,mawadah dan penuh rahmah termasuk didalamnya bagaimana mengajak suami atau istri dalam kebaikan, Anda dan sahabat-sahabat sekalian bisa membaca buku saya yang berjudul “MEMBINGKAI SURGA DALAM RUMAH TANGGA”. Didalamnya juga  ada tips dan trik bagaimana mengajak pasangan bersama-sama dalam ibadah, termasuk dalam ibadah shalat-shalat sunnah  . Wallahu’alam bishshawab. [ ]

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

890

 

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

(Visited 1,012 times, 3 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment