Tidak Lebaran Di Rumah Orangtua,  Apakah Termasuk Durhaka ?

makan bersama keluarga

 

Assalamu’alaykum. Pak Aam, saya sudah 5 tahun menikah. Suami saya asal luar pulau. Selama ini kalau lebaran Idul Fitri atau mudik selalu di rumah orangtua suami ( mertua). Alasannya karena jarang ketemu dan hanya setahun sekali. Saya sendiri selama menikah belum pernah Idul Fitri bersama orangtua dan saudara-saudara. Tahun ini saudara minta Idul Fitri dirumah orangtua. Kalay tidak mereka menganggap saya sudah tidak berbakti lagi ke orangtua hanya karena tidak pernah merayakan Idul Fitri. Padahal sebulan sekali saya mengunjunginya. Sementara suami selalu mengajak mudik ke orangtuanya. Bagaimana solusinya? Mohon nasihatnya. ( Eggidia via fb)

 

 

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Perlu diketahui bahwa mudik saat Idul Fitri khususnya ke kampung halaman itu bukan bagian dari syariat Islam. Yang menjadi ajaran dan perintah dalam Islam adalah mengadakan silaturrahim. Mudik lebaran ini hanya tradisi atau budaya khususnya dalam masyarakat Indonesia.

 

 

Sementara silaturrahim atau silaturahmi itu bisa dilakukan kapan saja dan tidak harus ketika Idul Fitri saja.Jadi jangan ada anggapan atau merasa belum sempurna puasa Ramadhan nya kalau tidak mudik. Mudik dan ibadah puasa Ramadhan mempunyai makna dan hukum yang berbeda.

 

 

Nah, momen mudik dan berlebaran seharusnya menjadi momen yang menyenangkan, saat seluruh anggota keluarga berkumpul dan bersilaturahmi. Namun demikian, ketika kita memiliki orangtua dan mertua yang berdomisili di kota yang berlainan, momentum mudik dapat mendatangkan kendala dan tidak jarang jadi perdebatan antara suami istri. Salah satunya seperti yang Anda alami.

 

 

Katanya, lebaran tahun ini, suaminya mengajak berlebaran di kampung halaman suaminya. Di lain pihak, orangtua memintanya lebaran di kampung halaman karena tahun lalu keluarganya memang sudah berlebaran di kampung suami. Ibu ini pun bingung antara mengikuti suami atau memenuhi permintaan orangtuanya.

 

 

Selaku suami, bersikap adil merupakan sebuah keharusan. Meski tidak ada ketentuan dalam agama perihal lokasi lebaran, tentu saja tidak baik bila terus menerus bersilaturahmi dengan keluarga sendiri padahal tahu bahwa keluarga istri masih ada, apalagi lengkap.

 

 

Jadi, sebisa mungkin seorang imam harus memerhatikan perasaan orang yang dipimpinnya. Suami tidak boleh egois dengan memerhatikan keluarganya sendiri. Sebaiknya kedepankan musyawarah dalam keluarga karena setiap anggota keluarga punya hak untuk mengajukan pendapatnya masing-masing meski tetap keputusan berada di tangan suami. Di sinilah kemampuan seorang suami untuk berlaku adil dipertaruhkan. Jangan sampai keputusan yang diambil oleh pemimpin malah merugikan banyak pihak.

 

 

Akan tetapi, bila ditinjau dari segi syariat, tentu saja istri harus mengikuti saran suami. Dalam kasus seperti yang ditanyakan tersebut, bila dialog sudah dilakukan dan pertimbangan-pertimbangan telah dipikirkan dengan baik tapi suami tetap memilih berlebaran di kampungnya, tentu selaku istri yang baik Anda harus taat mengikuti suami. Bukankah taatnya seorang istri adalah ibadah yang mulai di hadapan Allah?

 

 

Kemudian menjawab pertanyaan Anda, apakah tidak lebaran atau Idul Fitri bersama orangtua termasuk durhaka?. Jawabnya tentu saja tidak. Sekali lagi tidak ada dalil atau hukum fikih bahwa Idul Fitri harus atau wajib dirumah atau ke rumah orangtua. Penjelasannya sudah diatas.

 

 

Apalagi Anda setiap bulan sudah mengunjungi orang tua Anda. Menurut hemat saya, itu sudah cukup dan menjadi bukti bahwa Anda memuliakan dan berbakti pada orangtua Anda. Anda cukup memberikan pemahaman kepada saudara Anda tersebut, bahwa durhaka itu bukan karena Idul Fitri tidak ke rumah atau bersama orangtua.

 

 

Selanjutnya Anda tinggal dialog atau membicarakan lagi dengan suami terkait Idul Fitri tahun nanti. Atau bisa saja dibagi waktunya, misalnya hari pertama di rumah orang tua Anda (mertua suami) kemudian hari kedua mudik ke rumah orang tua suami (mertua Anda). Masih cukup waktu untuk mendiskusikan dan memusyawarahkan dengan suami.

 

BACA JUGA: Cara Berbakti Pada Orangtua Yang Sudah Meninggal, Lakukan Hal Ini 

 

Intinya dikomunikasin lagi antara suami dan istri serta keterbukaan dan keikhlasan bersama. Hindari sikap egois dan saling menghargai dan menghormati. Jangan jadikan momen Idul Fitri justru menjadi prahara keluarga, padahal selama sebulan Ramadhan sudah berhasil bersabar dan menahan emosi. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat.

 

 

Nah, bagi Anda atau mojang bujang dan sahabat-sahabat sekalian yang ingin tahu cara berbakti kepada orangtua khususnya ibu, silakan baca saya yang berjudul “MULIAKAN IBUMU“. Didalamnya ada beberapa contoh cara berbakti berikut dalilnya. Insya Allah buku ini bisa menjadi inspirasi dan motivasi baik bagi anak maupun para orangtua. Wallahu’alam bishawab. [ ]

 

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

(Visited 324 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment