Celakanya Orang Yang Curang, Seperti Ini Contohnya

Tafsir Surat Al-Muthaffifin

Ayat: 1 – 13 

Oleh: Dr.Aam Amiruddin,M.Si

 

PERCIKANIMAN.ID – – Semua orang pastinya menginginkan kejujuran dan sebaiknya orang akan membenci dan marah pada segala bentuk kecurangan baik dengan lisan atau perbuatan. Kecelakaan itu disebutkan dalam Alquran,

 

“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.”  (QS. Al Muthaffifin:  1-3)

 

 

Allah swt. memberi ancaman pada orang-orang yang curang. Apabila menerima takaran atau timbangan, mereka minta dilebihkan. Namun kalau memberi takaran atau timbangan, mereka menguranginya. Inilah salah satu bentuk perbuatan curang.

 

 

Seorang karyawan yang sering datang terlambat dan melalaikan pekerjaan, namun selalu menuntut fasilitas yang lebih pada pihak manajemen, ini adalah perbuatan curang. Seorang mahasiswa yang nyontek dalam ujian, melakukan copy-paste dalam mengerjakan tugas-tugas dari dosennya, juga merupakan perbuatan curang. Melakukan  mark up dalam tender atau laporan keuangan, juga merupakan perbuatan curang. Sungguh perbuatan curang telah menjadi budaya bangsa kita. Inilah yang membuat bangsa ini carut marut dalam fundamental ekonominya.

 

 

Kita sangat prihatin, bangsa Indonesia yang jumlah umat Islamnya terbanyak di dunia, menjadi bangsa yang selalu masuk dalam kategori top ten (sepuluh besar) dalam korupsi dan manipulasi di seluruh dunia. Kita sering menyaksikan di televisi, sejumlah anggota dewan perwakilan rakyat daerah ataupun pusat yang diadili karena korupsi dan manipulasi. Padahal mereka merupakan para pengawas bagi eksekutif. Bagaimana pengawasan akan efektif kalau para pengawasnya sendiri yang melakukan kecurangan? Memang tidak semua anggota dewan melakukan hal ini, namun jumlah mereka cukup banyak sehingga benar-benar membuat kita sangat prihatin.

 

 

Tidak jarang kita membaca koran dan majalah atau mendengarkan berita di radio bahwa sejumlah bupati, walikota, bahkan gubernur diadili karena melakukan kecurangan dalam memegang amanah kekuasaan. Bagaimana rakyat akan makmur dan sejahtera,  jika pengelola yang diberi amanah melakukan penghianatan? Sungguh firman Allah dalam surat Al Muthaffifin ini sangat relevan untuk dihayati oleh bangsa kita, Kecelakaan yang besar bagi orang-orang yang curang.

 

Mengapa perbuatan curang itu sering dilakukan, padahal akan merugikan diri sendiri dan orang lain?

 

“Tidaklah orang-orang itu menyangka bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar, hari manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?”  ( QS. Al Muthaffifin: 4-6 )

 

Inilah yang menjadi penyebabnya. Yaitu tidak punya keyakinan akan dibangkitkan pada hari kiamat. Pada hari itu, seluruh manusia akan berhadapan dengan penghisaban Allah swt. Tidak ada satu amal pun yang akan terlewat untuk diaudit. Seluruh anggota badan akan menjadi saksi dari apa yang pernah kita lakukan.

 

 

”Pada hari ini, Kami tutup mulut mereka dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” (Q.S. Yaasin 36: 65).

 

 

”Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikit pun dan kamu tidak dibalas, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan.” (Q.S. Yaasin 36: 54)

 

Kedua ayat ini menegaskan bahwa apa pun yang diperbuat manusia waktu di dunia sudah pasti akan direkam dengan kamera Allah yang sangat canggih. Dalam ayat lain disebutkan bahwa orang-orang durhaka akan sangat kaget karena seluruh perbuatan mereka terkam dengan rinci, tidak ada yang terlewatkan sedikitpun.

 

 

”Dan diletakkanlah kitab (catatan amal), lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang ada di dalamnya, dan mereka berkata, ’Aduh celaka kami, catatan  apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak pula yang besar, melainkan tercatat semuanya.’ Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan tercatat di dalamnya. Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang pun juga.” (Q.S. Al Kahfi 18: 49)

 

Apabila kita yakin bahwa seluruh perilaku di dunia ini akan dicatat atau direkam, kemudian kita yakin akan diadili berdasarkan bukti-bukti yang terekam dalam catatan tersebut, kita akan hati-hati dalam menjalani kehidupan. Kita tidak akan menghalalkan segala cara dalam mencapai kedudukan, meraih harta dan prestise. Kita tidak akan curang dalam mewujudkan keinginan.

 

 

Sistem pengawasan sebaik dan secanggih apa pun, apabila manusia yang menjalankan sistem itu tidak punya keyakinan akan kehidupan akhirat, tidak merasa diawasi Allah, tidak percaya akan hari perhitungan dan penghisaban, maka sistem itu akan mandul. Jadi, supaya berbagai kecurangan itu bisa dieliminasi, kita harus punya sistem pengawasan yang baik dan memiliki manusia yang bermental akhirat. Yakni manusia-manusia yang merasa yakin bahwa dia akan pulang kepada Allah,

 

 

Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (Q.S. Al Baqarah 2: 46). Inilah yang diperlukan oleh bangsa kita, kalau ingin maju dan terlepas dari mental curang.

 

“Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin. Tahukah kamu apakah sijjin itu? Kitab yang tertulis.” ( QS. Al Muthaffifin: 7-9 )

 

 

Pada ayat ini Allah swt. mengulangi penegasan untuk tidak berbuat curang,  “Sekali-kali jangan curang!” Ini isyarat bahwa curang adalah perbuatan yang sangat tercela. Karena curang akan merugikan diri sendiri dan orang lain. Ayat ini juga mengisyaratkan bahwa mental curang bisa disembuhkan dengan usaha yang sungguh-sungguh. Artinya, tidak gampang untuk meninggalkan mental curang. Bertolak dari ayat ini, jelaslah bahwa bangsa Indonesia perlu berjuang sekuat tenaga agar mental curang itu bisa disembuhkan dalam segala relung kehidupan.

 

 

Berhubung curang itu perbuatan yang sangat tercela dan susah diberantas, pada ayat ini Allah mengingatkan dengan dibarengi ancaman, Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin. Sekali lagi, Allah mengingatkan bahwa perbuatan curang akan direkam secara detai, akan dicatat secara lengkap dalam sijjin.

 

 

Tahukah kamu apakah sijjin itu? Ayat ini menggunakan kalimat tanya, tujuannya agar kita memfokuskan perhatian secara mendalam padanya. Sijjin adalah Kitab yang bertulis. Maksudnya, sijjin adalah buku catatan amal manusia. Begitu pelakunya melihat apa yang tercatat di dalamnya, dia langsung akan ingat pada seluruh perbuatan curangnya itu. Dia tidak bisa mengelak sedikit pun juga.

 

 

”Dan diletakkanlah kitab (catatan amal), lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang ada di dalamnya, dan mereka berkata, ’Aduh celaka kami, catatan apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak pula yang besar, melainkan tercatat semuanya.’Ddan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan tercatat di dalamnya. Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang pun juga.” (Q.S. Al Kahfi 18: 49)

 

“Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, orang-orang yang mendustakan hari pembalasan.” ( QS. Al Muthaffifin: 10 – 11 )

 

 

Orang yang mendustakan hari pembalasan, cenderung akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang menjadi harapan dan keinginannya. Rambu-rambu agama akan dilanggarnya. Ajaran-ajaran agama akan dilecehkannya. Bagaimana melaksanakan ajaran-ajaran Allah, sementara dia tidak percya akan hari pembalasan?  Karena itu Allah menegaskan, Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, orang-orang yang mendustakan hari pembalasan.

 

Dan tidak ada yang mendustakan hari pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa, yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata,  “Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu”  (QS. Al Muthaffifin: 12 – 13)

 

 

Pada ayat ini disebutkan di antara ciri orang yang mendustakan hari pembalasan, yaitu Yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata, ”Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu”. Di sinilah inti persolan mengapa para pendosa itu mendustakan hari pembalasan. Mereka tidak percaya pada ayat-ayat Al Quran, bahkan apabila dibacakan ayat-ayat Al Quran, mereka melecehkannya dengan berucap, Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu. Na’udzubillah.

Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang curang. [ ]

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

896

         

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

  

(Visited 655 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment