Cara Menjaga Istiqomah Beribadah, Begini Tipsnya

Oleh: Tate Qomaruddin*

 

PERCIKANIMAN.ID – – Salah satu indikasi kesuksesan dalam ibadah adalah manakala amalan tersebut dilakukan dengan istiqomah atau kontinu. Meski amalan tersebut dianggap kecil atau sederhana namun keistiqomahan mampu menjadikan amalan tersebut bernilai atau berpahala besar disisi Allah Swt. Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw bersabda,

 

 

عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِىِّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْ لِى فِى الإِسْلاَمِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ – وَفِى حَدِيثِ أَبِى أُسَامَةَ غَيْرَكَ – قَالَ « قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ ثم َاسْتَقِمْ ».(مسلم)

 

Dari Sufyan bin Abdillah ats-Tsaqafi, ia mengatakan, “Aku berkata, ‘Ya Rasulullah, katakanlah (ajarkanlah) padaku dalam Islam satu kata yang aku tidak perlu bertanya lagi sepeninggal engkau (dalam hadis Abi Usamah, dengan kata: selain engkau).’” Rasulullah saw. menjawab, Katakanlah aku beriman kepada Allah, lalu istiqamahlah.(H.R. Muslim)

 

 

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Sahihnya dan Imam Ahmad dalam Musnadnya. Sedangkan at-Tirmidzi meriwayatkan dengan redaksi yang sedikit berbeda, yakni:

 

عن سفيان بن عبد الله قال : قلتُ : يا رسولَ الله ، حَدِّثني بأمرٍ أعتصمُ به ، قال : (( قل : ربي الله ، ثم استقم )) وقال الترمذي : حسن صحيح.

 

Dari Sufyan bin Abdillah, ia mengatakan, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, sampaikanlah kepadaku perkara besar.” Rasulullah saw. menjawab, “Katakanlah, Tuhanku adalah Allah kemudian istiqamahlah.” (at-Tirmidzi mengatakan, hadis ini hasan sahih)   

 

 

Pesan Rasulullah saw. ini merupakan jawaban atas permintaan seorang sahabat yang bernama Sufyan bin Abdillah ats-Tsaqafi. Ia –dengan cerdas—meminta Rasulullah saw. sebuah pesan atau nasihat. Tapi yang dia inginkan bukan sembarang pesan melainkan pesan yang singkat, tetapi sarat muatan dan makna. Rasulullah saw. pun mampu melayani kebutuhan itu karena memang beliau diberi kelebihan oleh Allah berupa kemampuan menyampaikan jawami’ul-kalim. Artinya, kalimat-kalimat singkat akan tetapi memiliki makna yang mencakup hal-hal besar dan luas.

 

 

Betapa pentingnya istiqamah sampai-sampai Rasulullah saw. menjadikannya sebagai pesan khusus dikala ada orang yang meminta nasihat. Ternyata, para Nabi sebelum Rasulullah saw. pun memiliki perhatian yang sama besarnya dalam menempa umat agar memiliki sikap istiqamah. Perhatikan pesan Nabi ibrahim dan Nabi Ya’kub kepada umatnya, “Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata), ‘Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.’” (Q.S. Al Baqarah 2: 132)

 

 

Janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan memeluk agama Islam” adalah pesan yang jelas agar umatnya istiqamah dalam Islam sampai ajal menjemput, sampai mati. Jika Rasulullah saw. sebegitu besar perhatiannya kepada umat agar mereka tetap istiqamah, memang Rasulullah saw. pun mendapatkan pesan serupa dari Allah swt.

 

 

Abu ‘Ali as-Sirri mengatakan, “Ya Rasulullah, diriwayatkan dari engkau bahwa engkau mengatakan, Surah Hud telah membuat aku beruban.’” Rasulullah saw. menjawab, “Ya.” Aku (Abu ‘Ali) mengatakan lagi, “Bagian mana yang membuat engkau berubah, apakah kisah para nabi ataukah binasanya bangsa-bangsa?” Rasulullah saw. menjawab, “Bukan, tetapi firman-Nya ‘Maka istiqamahlah engkau seperti engkau diperintahkan (Hud: 112).” (Al-Baihaqi)

 

 

Lalu apa arti istiqamah itu? Umar bin Khattab menjelaskan, “Istiqamah adalah sikap teguh dalam menaati perintah dan larangan Allah dan tidak berkelok-kelok darinya seperti berkelok-keloknya musang.” Imam ath-Thabari dalam tafsrinya menulis, “Istiqamah adalah kontinu dalam satu arah (tujuan) tanpa belok ke kanan dan kiri.”

 

 

Dari dua definisi di atas dapat disimpulkan bahwa istiqamah adalah sikap teguh, konsisten, dan kontinu dalam melaksanakan kebenaran dan meninggalkan larangan sebagaimana diajarkan oleh Allah swt. Orang yang istiqamah tidak akan terpengaruh oleh iming-iming, intimidasi, atau provokasi dalam menjalankan ajaran Islam. Dan Rasulullah saw. adalah teladan dalam penerapan sikap istiqamah, sebagaimana yang diperintahkan Allah.

 

 

Sikap istiqamah Rasulullah saw. sudah ditunjukkan dari awal perjuangan beliau menegakkan risalah Islam. Beliau diiming-imingi berbagai fasilitas kehidupan, yakni harta, tahta, dan wanita oleh orang-orang kafir Quraisy dengan syarat beliau menghentikan dakwahnya dan tidak lagi membongkar keburukan jahiliah dan kesalahan cara mereka bertuhan. Bahkan, Rasulullah saw. pun pernah diminta untuk “sekadar” mengusap-usap patung-patung.

 

 

Sebuah permintaan yang tampak sederhana, tapi berdampak luar biasa, jika sampai beliau mengikuti permintaan mereka. Mereka menjanjikan akan masuk Islam dan bergabung denan kaum muslimin jika Rasulullah saw. berkenan mengusap-usap patung-patung itu. Hampir saja Rasulullah saw. cenderung hatinya untuk mengikuti tawaran mereka. Namun, Allah teguhkan hatinya dan tidak sampai terperangkap dengan jebakan-jebakan halus yang dimainkan oleh orang-orang kafir itu.

 

Hal ini digambarkan dalam ayat-Nya,

 

“Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka, kalau terjadi demikian, benar-benarlah Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun terhadap Kami. (Q.S. Al Israa’ 17: 74-75)

 

Ganjaran untuk orang istiqamah tidak harus menanti datangnya hari pembalasan. Orang yang istiqamah akan menerima balasannya sejak mereka hidup di dunia, berupa ketenteraman batin dan ketenangan jiwa dan di akhirat, tentu saja surga. Allah swt. menjelaskan,

 

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, Tuhan kami ialah Allah kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.’” (Q.S. Fushilat 41: 30)

 

Hadis di atas menggambarkan kepada kita beberapa hal. Pertama, keimanan kepada Allah harus diproklamirkan. Kedua, setiap proklamasi keimanan pasti akan diikuti dengan ujian dan cobaan. Dan ketiga, karena setiap orang yang beriman akan berhadapan dengan ujian maka sikap istiqamah adalah jalan keluarnya. Adalah mustahil seseorang yang mengaku beriman kepada Allah tidak mendapatkan ujian dan testing. Bukankah Allah telah menegaskan,

 

 

 BACA JUGA: Tips Menghadapi Musibah Agar Bernilai Ibadah

 

 

“Alif, laam, miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Q.S. Al ‘Ankabut 29: 1-3)

 

 

Memang bentuk tantangannya tidak selalu harus antara iman dan kufur atau dakwah dan berhenti dari dakwah. Tantangan itu bisa berbentuk ujian konsistensi dalam melaksanakan suatu kewajiban. Misalnya melaksanakan shalat, bersedekah, jujur dalam masalah pengelolaan keuangan, memakai busana muslimah. Dan dalam kesemuanya itu, tetap memerlukan sikap istiqamah.

 

 

Tentu saja untuk menghadirkan sikap istiqamah dalam kehidupan ini diperlukan beberapa bekal. Di antara sekian banyak bekal itu adalah keikhlasan dan kesejatian. Keikhlasan telah terbukti menjadi semacam energi bagi seseorang untuk taat dalam waktu lama, bahkan taat sampai ajal menjemput. Orang yang ikhlas tidak akan terpengaruh baik oleh iming-iming, intimidasi, maupun provokasi. Dia menjalankan ibadah sama saja di antara cacian dan pujian. Antara sanjungan dan sandungan.

 

BACA JUGA: 5 Amalan Setelah Pulang Haji

 

Misalnya orang yang mengenakan busana muslimah karena Allah dan sebagai perwujudan keimanan kepada-Nya, dalam kondisi apa pun tetap akan seperti itu. Bahkan, meski badai tsunami memorakporandakan kehidupan ini, dia tidak akan melepasnya. Dia tidak akan melepas busana muslimahnya hanya karena benci kepada suami yang dianggap telah memperlakukan dirinya secara tidak tepat, atau menceraikannya, atau karena kekecewaan-kecewaan lain.

 

 

Jika sejak awal jiwanya tidak memiliki keikhlasan dan melaksanakan sesuatu bukan karena mencari rido Allah, melainkan rido orang tertentu –misalnya suami—maka dapat diduga, begitu kecintaan kepada suami berubah menjadi kebencian, ia pun akan jadi benci kepada apa yang disukai suami, termasuk busana muslimah. Bahkan boleh jadi, jika kekecewaan kepada sang suami semakin memuncak, perlawanan bukan saja kepada sang mantan suamai tapi malah kepada ajaran Islam itu sendiri. Boleh jadi ia menjadi lebih seronok dan “berani” menentang perintah-perintah Allah. Wallahu a’lam bishshawab. [ ]

 

*penulis aladah pegiat dakwah dan penulis buku

Tate Qomaruddin

5

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

896

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

 

(Visited 100 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment