Hukum Mengoleksi Baju Menurut Islam, Boleh atau Terlarang ?

 

Assalamu’alaykum. Pak Aam, saya suka mengoleksi sepatu, baju dan tas. Niatnya agar tidak bosan dan banyak pilihan. Biasanya setelah setahun suka saya berikan ke orang lain atau disumbangkan dalam acara baksos (bakti sosial). Namun teman saya bilang itu pemborosan dan sombong. Apakah demikian?. Bagaimana hukumnya mengoleksi pakaian?. Mohon penjelasannya. ( Fransisca via fb)

 

 

 

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Tentu apa yang kita atau Anda lakukan itu tergantung dari niatnya. Sombong atau tidak sombong tidak bisa diukur dari penampilan luarnya saja.

 

 

 

Orang yang memakai baju baru apalagi yang branded atau merek terkenal belum tentu ia seorang yang sombong atau suka pamer. Kalau dia mampu secara ekonomi atau financial dan itu uang halal kemudian ia memakai pakaian tersebut karena suka dan nyaman. Lalu apanya yang salah?. Dia memakainya juga biasa saja atau tidak memamerkannya kepada orang lain, juga tidak menyebut-nyebutnya.

 

 

 

Begitu juga ketika ada orang yang membeli mobil terbaru keluaran Eropa yang harganya bagi orang lain itu sangat mahal namun dia mampu beli karena dianggap nyaman dan aman. Dia memakainya juga biasa saja, tidak nampak kesombongan, tidak membanggakan, tidak menyebut-nyebut merek. Lalu dimana sombongnya?

 

 

Sombong itu kalau sebaliknya, dia banggakan dihadapan orang lain, dia sebut-sebut mereknya, disebut harganya dan sebagainya. Jadi intinya sombong atau tidak khususnya dalam pakaian itu tergantung niatnya. Kalau Anda merasa mampu dan perlu yang disesuaikan dengan kebutuhan tentu tidak bisa dikatakan sombong dan boros.

 

 

Dalam Alquran memang ada larangan untuk berlaku boros dan mubadzir harta. Ini jelas perbuatan atau akhlak yang tidak disukai Allah. Coba perhatikan peringatan Allah,

 

وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

 

Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isra’ : 26-27).

 

 

Jadi larangannya jangan kamu memubadzirkan atau menghambur-hamburkan harta secara berlebihan. Sebab, sesungguhnya orang suka memubadzirkan harta adalah teman syaithon, artinya orang tersebut tidak taat pada perintah Allah dan Rasul-Nya. Bukankah yang namanya syaitan itu makhluk durhaka dan pembangkan serta tidak taat kepada Allah.

 

 

Namun jika koleksi tas, sepatu atau baju Anda, selalu Anda pakai maka boleh-boleh saja. Apalagi Anda memakai untuk kebajikan misalnya untuk ke pengajian dan sebagainya. Kemudian Anda juga rajin atau rutin zakat, sedekah, infaq, membantu sesama dan sebagainya, tentu ini menurut hemat saya, tidak dikatakan mubadzir atau sombong.

 

 

Kemudian bagaimana adab atau akhlak dalam berpakaian?. Dengan merujuk ayat dan penjelasan tersebut secara umum ahklak berpakaian antara lain:

 

  1. Tidak menimbulkan kesombongan

Jika Anda berpakaian agar merasakan kenyamanan maka tidak apa-apa namun jika Anda membeli pakaian-pakaian yang mahal dan ada unsur kesombongan didalamnya maka hal ini yang tidak diperbolehkan. Anda memakai pakaian tersebut kemudian timbul atau muncul sifat somobong atau riya’ maka ini yang tidak boleh.

 

 

  1. Harus ada manfaat

Apa yang kita punya harus dimanfaatkan sehingga barang tersebut berkah. Jika masih layak pakai boleh diberikan atau disumbangkan kepada orang lain. Jangan hanya sebagai koleksi saja, misalnya Anda membeli baju tidak pernah dipakai-pakai kemudian selang beberapa bulan baju tersebut tidak bisa dipakai atau rusak, maka yang demikian ini tidak boleh dilakukan.

 

 

  1. Memberi maslahat

Tujuan membeli atau memakai baju adalah untuk menutup aurat. Jadi Anda membeli dan mengkoleksi baju itu maslahatnya untuk menutup aurat saat dipakai. Jangan sebaliknya membeli atau memakai buju apalagi baju mahal kemudian kalau dipakai justru menampakkan aurat maka apa yang Anda lakukan adalah mubadzir, bahkan mendatangkan mudhorot. Tidak boleh seperti itu, koleksi baju, sepatu justru mendatangkan hal buruk atau mudhorot.

 

BACA JUGA: Hukum Menulis Kalimat Allah Pada Pakaian

 

Anda juga jangan fokus pada pemenuhan kebutuhan pribadi atau kebutuhan sendiri.Alangkah baik jika harta yang Anda miliki tersebut juga memberi maslahat atau manfaat bagi orang lain lewat zakat, infaq atau sedekah. Banyak orang yang bisa terbantu dengan harta yang kita miliki. Mudah untuk membantu orang lain. Sehingga boleh untuk memiliki apapun asalkan niatnya lurus bukan hanya untuk prestise atau life style saja.  Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu’alam bishshawab. [ ]

 

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

790

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

(Visited 1,041 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment