Para Pendosa Itu Sukanya Nyinyir Pada Orang Beriman, Ini Ciri Lainnya

 

Tafsir Surat Al Muthaffifin ayat: 29 – 36

 

Oleh: Dr.Aam Amiruddin,M.Si

 

PERCIKANIMAN.ID – – Setiap kelompok atau kaum pasti ada ciri-cirinya baik orang beriman maupun orang kafir. Salah satu ciri orang beriman dapat disimak dalam surat Al Baqarah ayat 2 hingga 5. Demikian juga dalam ayat-ayat yang lain juga disebutkan. Lalu bagaimana dengan ciri orang kafir dan munafik atau para pendosa itu?.

 

Orang-orang yang suka berbuat dosa itu salah satu cirinya adalah dia menganggap baik amalannya dan suka menertawakan orang beriman yang beramal shalih. Ketika orang beriman berbuat kebajikan atau amal shalih maka para pendosa itu suka nyinyir. Hal ini seperti Allah terangkan dalam Alquran,

 

“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa adalah mereka yang menertawakan orang-orang yang beriman”. ( QS.Al Muthaffifin: 29)

 

Ayat ini menggambarkan bahwa orang-orang berdosa sering mengejek orang-orang beriman. Mereka mengejek komitmen yang dipegang teguh. Perilaku para pendurhaka bisa kita saksikan dalam kehidupan keseharian. Tidak jarang wanita berjilbab dilecehkan dengan ucapan ”assalamu’alaisun” bukan ”assalamu’alaikum”.

 

Seorang sahabat  bercerita, suatu saat dia jalan-jalan di mall dengan teman-temannya, pada waktu shalat tiba dia mengajak mereka untuk shalat, namun mereka malah  mengatakan ”Wah, so suci loe …” Ini juga merupakan bentuk cemoohan.

 

 

Ayat di atas menjelaskan dua hal. Pertama, menjelaskan perilaku para pendurhaka yang sering mencemooh orang beriman. Kedua, menjelaskan agar orang-orang beriman siap mental menghadapi perilaku mereka, maksudnya harus siap menghadapi penghinaan para pendurhaka.

 

 

Mungkin kita pernah dicap so suci, so alim, kampungan, dan seabrek cemoohan lainnya. Jangan putus asa karena Nabi saw. pun pernah dicap ”orang gila” oleh sebagian kaum musyrikan. Bahkan ada seorang tabib yang datang menemui Nabi saw. dengan niat membantu menyembuhkan penyakit gilanya karena termakan provokasi masyarakat Quraisy. Namun akhirnya tabib itu masuk Islam setelah berdialog dengan Rasulullah Saw.

 

Para pendurhaka bukan hanya mencemoohkan, bahkan bisa sampai menganiaya secara fisik. Rasulullah saw. dan para sahabat bukan hanya diejek tapi juga dianiaya. Pernah ketika sujud dalam shalat, seorang kafir Quraisy meletakkan setumpuk tinja di punggung Rasulullah Saw.

 

 

Istri Abu lahab pernah melempari Rasul dengan tinja. Penduduk Thaif pernah melempari Rasul dengan batu hingga pelipis beliau berdarah. Ini  contoh konkret bahwa para pendurhaka bukan hanya mengejek tapi juga bisa menzalimi secara fisik.

 

 

Oleh sebab itu, orang-orang yang beriman, orang-orang yang memiliki komitmen pada kebenaran harus siap mental, selalu sadar dan waspada bahwa suatu saat, baik cepat atau lambat akan berhadapan dengan ejekan, penghinaan, bahkan penganiayaan dari orang-orang yang durhaka. Allah swt. menyebutkan dalam ayat lain bahwa di antara ciri orang-orang yang akan mendapatkan cinta-Nya adalah mereka yang tidak takut akan cacian atau ejeken. Mereka tidak mundur atau berhenti menjalankan perintah Allah hanya karena adanya cemoohan dari para pendurhaka.

 

”Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah-lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap tegas terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Al Maidah 5: 54)

 

 

Pada ayat ini ada kalimat …dan yang tidak takut celaan orang yang suka mencela… ini isyarat bahwa orang-orang yang dicintai Allah akan tetap istiqamah dan teguh pendirian dalam jalan kebenaran walaupun mendapat ejekan, cemoohan, penghinaan, bahkan penindasan sekalipun.

 

“Dan apabila orang-orang yang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya.” ( QS.Al Muthaffifin: 30)

 

 

Para pendurhaka bukan hanya mengejek dengan bahasa verbal, namun juga dengan bahasa nonverbal. Kalimat … mereka saling mengkedipkan mata merupakan gambaran bahwa mereka mencemooh dengan bahasa isyarat atau bahasa nonverbal.

 

 

“Dan apabila orang-orang yang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira.” ( QS.Al Muthaffifin: 31)

 

 

Ejekan datang tidak sekadar dari perorangan, namun bisa juga dari kelompok yang terorganisir. Hal ini terungkap dalam kalimat Dan apabila orang-orang yang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Ini merupakan isyarat bahwa para pendosa juga bisa membentuk kelompok, baik formal maupun informal. Mereka bergembira kalau telah sukses mengejek orang-orang beriman. Bahkan bisa saja mereka membuat planning atau rencana yang matang bagaimana caranya meneror orang-orang beriman.

 

“Dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan, “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat.” ( QS.Al Muthaffifin: 32)

 

Para pendurhaka akan menuduh orang-orang beriman itu sesat padahal sesungguhnya mereka yang sesat. Sekarang tidak jarang orang-orang yang taat beragama dicap teroris, fanatik, ekstrimis, dll. Apa yang dibicarakan ayat ini sungguh terasa sekarang ini. Orang yang taat pakai jilbab kadang dicurigai gembong teroris. Orang yang rajin datang ke majlis ta’lim dicap ekstrimis. Orang yang ke mana pergi selalu membawa Al Quran dicap fundamentalis. Jadi, orang-orang yang taat beragama dinilai sesat.

 

“Padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mukmin.” ( QS.Al Muthaffifin: 33)

 

Ayat ini menegsakan bahwa orang-orang berdosa tidak layak memberi penilaian  sesat pada orang-orang beriman. Sungguh tidak tidak etis orang yang bobrok keimanan dan tekun maksiat menilai negatif pada orang-orang saleh. Kalau orang baik-baik memberi penilaian negatif masih dinilai etis, tetapi seorang pendosa menilai sesat orang-orang beriman sungguh perbuatan yang tidak etis. Itu sebabnya pada ayat ini Allah menegaskan, Padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk menjadi penjaga-penjaga bagi orang-orang mukmin.

 

Ayat ini juga memberi peringatan pada kita agar lebih banyak melakukan introspeksi diri dan melakukan perbaikan diri dari pada banyak menilai kekurangan orang lain. Para ahli hikmah mengatakan, ”Sungguh beruntung orang yang sibuk memperbaiki diri, hingga tidak sempat untuk menemukan aib orang lain.”

 

“Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir. Mereka di atas dipan-dipan sambil memandang,” ( QS.Al Muthaffifin: 34 -35)

 

Maka pada hari ini maksudnya hari penghisaban atau hari pembalasan. Yaitu hari di mana semua amal manusia akan dihitung secara akurat. Tidak ada seorang pun yang dizalimi. Semua akan mendapatkan balasan sesuai amal yang diperbuatnya sewaktu di dunia.

 

 

Pada waktu di dunia orang-orang kafir sering menertawakan dan mencemooh orang-orang beriman. Maka pada hari pembalasan atau penghisaban orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir. Mereka di atas dipan-dipan sambil memandang.

 

 

Karena itu apabila kita dicemooh, dinistakan hanya karena melakukan kebaikan, maka janganlah ejekan itu membuat kita berhenti berbuat baik, teruskan saja berbuat baik. Toh, pada hari akhir Allah akan memberikan pahala dan kebaikan pada orang-orang yang istiqamah berada di jalan kebenaran.

 

“Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan” ( QS.Al Muthaffifin: 36)

 

Ayat ini menegaskan bahwa Allah akan memberikan imbalan dan sanksi kepada manusia sesuai amalan-amalannya. Kalau kita mampu mengisi umur dengan berbagai kebaikan, insya Allah kita akan mendapatkan apa yang pernah kita perbuat. Namun, apabila kita isi dengan amalan-amalan nista, maka kita pun akan merasakan buahnya.

 

Kalau kita menanam padi tidak mungkin memanen pisang, dan kalau kita menanam pisang tidak mungkin memanen padi. Kalau kita menanam benih-benih kebaikan, pasti kita akan merasakan buah kebaikan itu –baik di dunia maupun di akhirat. Demikian juga kalau kita menanam benih keburukan, maka pasti kita akan mencicipi buah keburukan tersebut baik cepat ataupun lambat.

 

Itulah penegasan Allah swt. ketika menutup surat Al Muthaffifin ini, Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Semoga kita diberi kekuatan oleh Allah agar bisa menanam benih-benih kebaikan sehingga kita bisa memanennya baik di dunia ataupun di akhirat. Amin. Wallahu’alam bishshawab. [ ]

 

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

973

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

(Visited 1,032 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment