Bernazar Tapi Lupa Menepati, Begini Cara Membayar Kafaratnya

Assalamualaikum. Pak Aam, kalau saya mempunyai nazar untuk berpuasa satu minggu, dan sudah pernah saya jalankan. Tetapi saya lupa apakah seminggu itu sudah saya selesaikan semua atau belum. Jadi bagaimana solusinya? Mohon penjelasannya . ( Tantri via fb) 

 

 

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat yang dirahmati Allah. Kita merujuk pada rumus ketika kita ragu dalam mengerjakan ibadah sholat, misalkan Anda lupa dalam sholat sudah 3 atau 4 rakaat ya.

 

 

Nah disitu Anda tentukan jumlah yang terkecil, ambil jumlah terkecil yaitu 3 rakaat. Tetapi nanti Anda harus lakukan sujud syahwi sebelum salam.

 

 

Ini saya cerita dalam bab sholat atau ragu dalam jumlah rakaatnya. Begitu juga dalam menjalankan tawaf, ketika lupa sudah berapa putara, maka ambillah jumlah terkecil. Hanya bedanya kalau tawaf itu tidak ada sujud syahwi. Prinsip tinggalkan yang meragukan dan kerjakan yang meyakinkan atau tidak meragukan.

 

 

Sebagaimana ada hadits dari Abu Muhammad Al-Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa ia menghafalkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam perkataan berikut,

 

 

دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ ، فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ ، وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ

 

Tinggalkanlah segala yang meragukanmu dan ambillah yang tidak meragukanmu. Kejujuran akan mendatangkan ketenangan. Kedustaan akan mendatangkan kegelisahan.” (HR. Tirmidzi, no. 2518. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

 

 

Nah kalau Anda nazar itu berarti memang itu menjadi amalan yang wajib dilakukan. Persoalannya Anda lupa berapa jumlah yang telah dikerjakan. Maka tinggalkan yang ragu, ambil jumlah terkecil, misalnya Anda yakin sudah puasa 5 hari maka tinggal 2 hari lagi. Tapi tidak perlu melakukan sujud syahwi.

 

 

Perlu Anda ingat bahwa nazar itu ada hukumnya. Jika Anda tidak bisa memenuhi nazar tersebut makan itu ada sanksinya. Coba kita lihat dalam surat Al-Maidah ayat 89

 

 

“Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya).”

 

Lalu contohnya ada yang begini “ Kalau anak-anak nilainya bagus, saya mau niat puasa.” Nah ini kan hanya niat saja. Atau “pokoknya mau saum senin-kamis sebagai bentuk rasa syukur.” Ini bukan bentuk nazar. Beda dengan “Kalau anak-anak diterima di perguruan tinggi yang sesuai dia inginkan, saya bernazar mau ini atau puasa…” Kalau ini sudah termasuk nazar. Ini yang dimaksud dalam,

 

“Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu…”

 

Ada sanksi yaitu bayarlah dengan kiffarat memberi makan atau pakaian kepada sepuluh orang miskin. Memberikan makanan seperti yang biasa kita makan. Seperti misalnya kalau perkirannya Anda dalam sehari itu makan sebesar 50 ribu maka yang dibayar adalah 50 ribu x 10 orang. Itu yang dimaksudnya memberi makan orang miskin dalam surat Al-Maidah ayat 89 ini.

 

 

BACA JUGA: Hukum Menunda Tunaikan Nazar

 

 

Atau kalau Anda tidak memberi makan kepada orang miskin juga bisa digantikan dengan memberi pakaian, pakaian yang layak pakai. Makanya ada teman saya yang bernazar tetapi dia tidak bisa memenuhinya, lalu dia membeli seragam untuk anak-anak yatim di panti asuhan. Itu boleh.

 

 

Kalau di panti itu ada 27 orang dan kamu membelikan semuanya, maka itu lebih afdol. Yang terpenting 10 orangnya sudah terpenuhi, sisanya adalah sedekah. Nah itulah kiffarat, penebus dari janji-janjimu yang tidak terwujud atau tidak dipenuhi. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu’alam bishshawab. [ ]

 

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

964

 

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

(Visited 430 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment