Selain Ibu, Menyusui Itu Ungkapan Cinta Allah, Rasul dan Para Sahabat

PERCIKANIMAN.ID – – Air susu ibu ( ASI) adalah karunia dari Allah Swt untuk sang buah hati. ASI adalah makanan super lengkah bagi makhluk kecil yang baru dilahir ke dunia ini yang secara fisik belum bisa apa-apa.

 

 

Namun tahukah kita bahwa ASI adalah bentuk kasih sayang yang sempurna dari Allah Swt, Rasul Saw dan seorang ibu?. Simak penjelasannya berikut ini

 

  1. Kasih sayang Allah Swt

 

Allah Swt telah memberikan tuntunan kepada setiap ayah dan ibu tentang pemenuhan kebutuhan rezeki bagi bayi yang diamanahkan kepada mereka.

 

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang baik. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan waris pun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 233)

 

Inilah ayat yang mewajibkan orang tua khususnya seorang ibu untuk menyusui buah hatinya. Menyusui itu perintah Allah bukan sekedar insting seorang ibu dan naluriah seorang bayi.

 

  1. Kasih sayang Rasulullah Saw

 

Sebuah kisah diriwayatkan oleh Muslim. Telah datang kepada Nabi Muhammad Saw. seorang wanita dari Bani Ghamidiyah. Dia berkata bahwa dirinya telah mengandung dari hasil perbuatan zina. Dia meminta agar Nabi menghukumnya. Nabi bersabda kepadanya, “Pulanglah kamu sampai kamu melahirkan!”. Setelah bersalin, dia datang lagi seraya menggendong bayinya dan berkata, “Wahai Nabi Allah, bayi ini telah saya lahirkan.”

 

 

Nabi pun bersabda kepadanya, “Pulanglah kamu, susuilah dia sampai kamu menyapihnya”. Setelah wanita itu menyapih bayinya, dia datang dengan membawa bayinya yang saat itu dalam keadaan memegang roti di tangannya, lalu dia berkata, “Wahai Nabi Allah, bayi ini telah saya sapih dan kini dia telah dapat memakan makanan.” Nabi pun memerintahkan agar bayi itu diserahkan kepada salah satu kaum Muslimin lalu melaksanakan hukuman untuk sang ibu (H.R. Muslim).

 

 

Subhanallah, suatu kisah yang menggambarkan ungkapan kasih sayang Nabi terhadap seorang bayi. Walaupun sang bayi terlahir dari hasil hubungan zina, tidak menjadi alasan untuk tidak menyempurnakan penyusuan. Jika seorang wanita pezina saja diperintahkan untuk menyempurnakan penyusuan, apalagi seorang ibu yang mengandung bayi dari pernikahan yang sah, yang diikat dengan ikrar kokoh dan suci yang diistilahkan secara indah dalam Al-Quran sebagai mitsaqan ghalidhan (perjanjian yang kokoh).

 

 

  1. Kasih sayang para sahabat

 

Para Sahabat sepeninggal Rasulullah pun memberikan perhatian yang besar terhadap menyusui. Diriwayatkan bahwa suatu hari ketika Umar bin Khattab berkeliling di mushala-mushala, dia mendapati anak yang sedang menangis.

 

Umar yang saat itu menjadi amirul mu’minin (pemimpin umat Islam) berkata kepada ibunya, “Susuilah dia”. Wanita itu menjawab, “Sesungguhnya amirul mu’minin (Umar) tidak mengharuskan menyusui seorang anak sampai saatnya disapih, dan saya sudah menyapihnya“. Lalu Umar berkata, “Sungguh saya hampir saja membunuh anak itu. Mulai saat ini susuilah dia. Sebab, amirul mu’minin akan mengharuskan hal itu”.

 

Akhirnya, Umar bin Khattab mengharuskan setiap ibu untuk menyusui anaknya sejak lahir hingga selesai masa penyusuannya. Amr bin Abdullah, seorang sahabat Rasulullah, pernah berkata kepada istri yang menyusui bayinya, Janganlah engkau menyusui anakmu seperti hewan yang menyusui anaknya karena didorong kasih sayangnya kepada anak. Akan tetapi, susuilah dengan niat mengharap pahala dari Allah dan agar dia hidup melalui susuanmu itu. Mudah-mudahan dia kelak akan bertauhid kepada Allah Subhanahuwata’ala.”

 

 BACA JUGA: Bolehkan Ibu Menyusui Melakukan Diet ?

 

Subhanallah, pelajaran yang sangat berharga. Ibu, terkadang kita lupa bahwa menyusui hendaklah diniatkan ibadah, bukan sekadar insting. Inilah yang membedakan manusia dengan hewan. Jika karena insting semata, hewan mamalia juga menyusui anaknya.

 

Semoga dengan meniatkannya untuk ibadah, segala jerih payah, rasa lelah, dan segala  bentuk perjuangan Ibu ketika menyusui bukan hanya bernilai di dunia, tetapi juga menjadi investasi di dunia dan akhirat. [ ]

 

Disarikan dari buku ” Ibu Susui Aku ” karangan dr.Ariani

 

5

Red: admin

Editor: iman

960

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

(Visited 65 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment