Umat Islam Itu Satu Tubuh Maka Harus Saling Menguatkan

 

 Oleh: Tate Qomaruddin*

 

 

مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ  فِيْ تَرَاحُمِهِمْ  وَتَوَادِّهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ

إِذَا اشْتَكَى عَضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ جَسَدِهِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

(رواه البخاري ومسلم)

Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan saling berempati bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggotanya merasakan sakit, maka seluruh tubuh turut merasakannya dengan berjaga dan merasakan demam.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

 

Hadis lain yang memiliki pesan sama adalah,

 

اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا (رواه البخاري ومسلم)

Seorang mukmin terhadap mukmin (lainnya) bagaikan satu bangunan, satu sama lain saling menguatkan.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

 

Apa yang disabdakan Rasulullah saw. dengan dua hadis di atas melukiskan gambaran ideal umat Islam. Di masa Rasulullah saw. dan generasi awal umat mukmin, keadaan itu merupakan realitas, bukan mimpi. Bila kita merenungkan hadis-hadis di atas seraya membuka lembaran-lembaran sejarah kehidupan assalafus-shalih (generasi terdahulu yang saleh), niscaya kita akan menemukan kenyataan-kenyataan ini:

 

 

Pertama, kaum mukminin mewujud bagaikan tubuh manusia sempurna atau bangunan kokoh. Segala kekuatan yang ada padanya semakin menambah kokohnya bangunan atau tubuh itu. Layaknya tubuh yang sehat, setiap anggota tubuh itu memiliki sensitivitas terhadap apa yang terjadi pada anggota tubuh lainnya.

 

 

Kedua, satu sama lain saling memelihara, saling menjaga, saling menguatkan, dan saling mendukung, sehingga tercipta ikatan sosial yang solid.

 

 

Ketiga, semua bagian bangunan itu secara bersama-sama memelihara segala aset kebaikan yang dimilikinya dan meninggalkan atau membuang hal-hal yang merugikan. Aset-aset yang dimaksud, baik aset fisik-material seperti kekayaan alam, maupun nonfisik, seperti tradisi gotong royong dan budaya malu.

 

 

Keempat, setiap bagian dari umat itu berada pada posisi masing-masing secara tepat dan masing-masing bekerja untuk mencari solusi bagi problem-problem yang dihadapi dalam kehidupan.

 

 

Sifat-sifat itu tergambar dalam kisah yang dituturkan hadis berikut,

Seorang lelaki datang menghadap Rasulullah saw. guna mengadukan perihal kemelaratan yang dideritanya, lalu ia pulang. Maka Rasulullah saw. mengatakan kepadanya, ‘Pergilah hingga kamu mendapatkan sesuatu (untuk dijual).’ Orang itu lalu pergi dan pulang lagi (menghadap Rasulullah saw.) dengan membawa sehelai kain dan sebuah cangkir. Orang itu lalu mengatakan, ‘Ya Rasulullah, sebagian kain ini biasa digunakan keluarga saya sebagai alas dan sebagiannya lagi sebagai penutup tubuh. Sedangkan cangkir ini biasa mereka gunakan sebagai tempat minum.’ Rasulullah saw. berkata, ‘Siapa yang mau membeli keduanya dengan harga satu dirham?’ Seorang laki-laki menjawab, ‘Saya, wahai Rasulullah.’ Rasulullah saw. berkata lagi, ‘Siapa yang mau membeli keduanya dengan harga lebih dari satu dirham.’ Seorang laki-laki mengatakan, ‘Aku akan membelinya dengan harga dua dirham.’ Rasulullah saw. berujar, ‘Kalau begitu kedua barang itu untuk kamu.’ Lalu Rasulullah saw. memanggil orang (yang menjual barang) itu seraya mengatakan, ‘Belilah kapak dengan satu dirham dan makanan untuk keluargamu dengan satu dirham. Orang itu kemudian melaksakan perintah itu lalu datang lagi kepada Rasulullah saw. Maka Rasulullah saw. memerintahkan kepadanya, ‘Pergilah ke lembah itu dan janganlah kamu meninggalkan ranting atau duri atau kayu bakar. Dan janganlah kamu menemuiku selama lima belas hari.’ Maka orang itu pun pergi dan mendapatkan uang sepuluh dirham. Rasulullah saw. mengatakan, ‘Pergi dan belilah makanan untuk keluargamu dengan uang lima dirham.’ Orang itu mengatakan, ‘Ya Rasulullah, Allah telah memberikan barokah dalam apa yang kau perintahkan kepadaku.’” (H.R. Baihaqi)

 

Hadis di atas melukiskan betapa setiap orang berupaya untuk merasakan nasib saudaranya. Bukan itu saja. Mereka berupaya mencarikan solusi. Solusinya pun bukanlah solusi yang mematikan keberdayaan melainkan justru solusi yang juga sekaligus memberdayakan.

 

 

Dan lebih menarik lagi, Rasulullah saw. sebagai pimpinan tertinggi, terlibat langsung dalam upaya perwujudan nilai-nilai kebersamaan dan kepaduan itu sekaligus merumuskan dan mengeksekusi jalan keluarnya. Tentu saja kondisi umat Islam yang seperti itu bukan muncul dengan sendirinya.

 

 

Masyarakat ideal dengan soliditas tinggi yang ada di zaman Rasulullah saw. adalah hasil tempaan beliau dengan tarbiyah robbaniyyah (pendidikan ala Allah swt.) dan dalam waktu yang bukan sebentar.

 

Dengan kualitas seperti itu, kita dapat melakukan banyak hal dan mencapai banyak kesuksesan. Konspirasi yang selalu digalang oleh orang-orang kafir juga tidak akan menemukan efektivitasnya manakala umat Islam dalam kondisi solid bagaikan satu tubuh. Allah swt. berfirman,

 

وأطيعوا الله ورسوله ولا تنازعوا فتفشلوا

وتذهب ريحكم واصبروا إن الله مع الصابرين

 

Dan taatlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kalian bercerai-berai sebab kalian akan gagal dan hilang kekuatan kalian, dan bersabarlah kalian karena sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar.” (Q.S. Al Anfal 8: 46)

 

Rasulullah Saw. telah melakukan hal terbaik untuk mewujudkan segala kebaikan pada umat ini. Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk mengembalikan apa yang sudah dilakukan dan digariskan Rasulullah saw. khususnya dalam hal mewujudkan kepaduan tubuh umat Islam?. Maka ketika ada sauadara muslim yang sedang dirundung duka dan derita, kewajiban muslim yang lain menguatkan dan meringankan bebannya. Wallahu’alam bishshawab.  [ ]

 

*penulis ada pegiat dakwah dan penulis buku 

 

Tate Qomaruddin

5

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

934

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

(Visited 28 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment