Ingin Rujuk Tapi Orang Tua Tidak Merestui. Begini Solusinya

muslimah gaul

Assalamualaikum, Pak Ustadz saya dan suami sudah berpisah selama 3 tahun, kami ada rencana kembali atau rujuk. Tapi bagaimana saya harus meyakinkan mereka atau orang tua untuk menerima kembali mantan suami saya? Apakah saya berdosa melawan kehendak mereka? Karena rujuk bersama mantan suami hanya Talak 1, jadi ada kemungkina untuk rujuk. Hanya saja orang tua tidak merestui. Mohon nasihatnya (Hen via fb)

 

 

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat yang dirahmati Allah. Sebenarnya kalau kita cermati, jika ada yang ingin rujuk harusnya kita support atau memberi dukungan. Selama mereka meyakini bahwa jalan rujuk itu bisa menciptakan kemaslahatan bersama . Dalam surat Al-Baqarah, Allah berfirman,

 

الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ

Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik” (QS. Al Baqarah: 229).

 

Menurut para ulama bahwa yang dimaksud “imsak dengan cara yang ma’ruf” dalam ayat tersebut adalah rujuk dan kembali menjalin pernikahan serta mempergauli atau memperlakukan istri dengan cara yang baik sesuai dengan tuntunan dan ajaran Islam.

 

Bahwa ketika seorang suami mau rujuk, maka mantan suami itu di prioritaskan. Sekiranya mereka mampu atau bisa menciptakan kemaslahatan dalam rumah tangga yang lebih baik lagi. Jadi yang utama saya sampaikan kepada orang tua, sekiranya anak kita ada masalah kemudian mereka berpisah baru Talak 1 dan ingin rujuk kembali, selama kita nyadar betul bahwa jalan rujuk itu jalan terbaik maka kita harus mensupportnya.

 

 

Apalagi kalau mereka sudah mempunyai anak. Rujuk itu lebih baik daripada mereka terus bercerai atau berpisah. Atau misalnya suaminya menikah lagi, istrinya menikah lagi ketika sudah mempunyai anak, karena bagaimanapun akan ada persoalan bagi anak-anak mereka. Tapi kalau sudah tidak bias diselamatkan dengan rujuk, ya apa boleh buat. Itu sudah jalan yang terbaik dari Allah SWT.

 

 

Namun, gambaran bahwa kalau kita menjadi orang ketika anak kita ada masalah lalu bercerai, itu masih ada kesempatan rujuk. Satu talak atau dua talak, masih bisa rujuk kembali. Begitu sudah talak 3 itu sudah tidak ada kesempatan untuk rujuk, kecuali si mantan istri menikah lagi dengan lelaki lain lalu bercerai secara baik-baik.

 

 

Nah, kalau kita lihat pesan-pesan Allah, sebenarnya kalau Anda dan suami mau rujuk kembali dan kalau mereka ingin menciptakan kemasalahatan bersama maka itu lebih baik didukung. Dalam arti Anda dan mantan suami sudah saling mengitrospeksi diri, sudah saling merenung, saling menyadari kesalahan dan akhirnya memustuskan untuk rujuk dengan tekada memperbaiki dan melanjutkan rumah tangga yang lebih baik lagi. Tentu sebagai orang tua seharusnya mensupport dan memberi dukungan, bukan malah melarang.

 

Soal mantan suami Anda atau menantu orang tua Anda, dulunya ada kesalahan maka itu adalah masa lalu. Tidak perlu diungkit dan terus dipermasalahkan. Selama mantan suami Anda sudah mempunyai tekad untuk memperbaiki diri, mengakui kesalahannya dan ingin berbuat baik lagi bersama Anda, mengapa orang tua tidak mendukung.

 

 

Pertanyaannya kemudian , bagaimana ketika orang tua tetap tidak merestui ?

Orang tua itu harus didengar harus ditaati ketika benar. Kalau orang tua itu keliru tidak harus ditaati, tetapi kalau melihat surat Lukman ayat 15:

 

“wa-in jaahadaaka ‘alaa an tusyrika bii maa laysa laka bihi ‘ilmun falaa tuthi’humaa washaahibhumaa fii alddunyaa ma’ruufan waittabi’ sabiila man anaaba ilayya tsumma ilayya marji’ukum fa-unabbi-ukum bimaa kuntum ta’maluuna”

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”

 

Jadi kalau kita sependapat dengan orang tua, tetap kita harus berbuat baik , memperlakukan baik ke orang tua. Dan orang tua itu wajib ditaati selama perintahnya benar. Coba Anda dengarkan penjelasannya dulu kenapa orang tua tidak merestui, Anda analisa, Anda renungkan. Kalau memang pertimbangan orang tua itu bisa dipertimbangkan, omongan orang uta Anda bisa dipegang, tentu ada baiknya diikuti.

 

Ada yang berkonsultasi ke saya tentang pernikahannya. Dia cerai karena suaminya sering melakukan KDRT, gampang tersulut emosi. Padahal katanya orangnya baik ketika lagi baik. Tetapi ketika tersulut emosinya dia ringan tangan, bisa jadi barang-barang dihancurkan. Ketika itu, ibu ini mau rujuk dan mantan suaminya berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya. Tetapi beda dengan perkataan orang tua, bahwa secara penelitian ketika ada orang yang gampang melakukan kekerasan, akan cenderung melakukan kekerasan lagi. Si Ibu ini bertanya kepada saya, bagaimana baiknya Pak Aam? Saya menjawab kalau saya setuju dengan orang tua Anda bahwa orang yang gampang melakukan kekerasan akan mempunyai kecenderungan seperti itu. Si Ibu ini tetap melakukan rujuk, dan pada akhirnya ternyata setelah 3 bulan berlalu suaminya melakukan KDRT lagi.

 

 

BACA JUGA: Wali Nikah Kakak Laki-Laki Untuk Rujuk Kembali, Bolehkah ?

 

Yah ini yang ingin saya sampaikan bahwa orang tua itu perlu didengar, tidak hanya karena sayang atau yakin dia sudah berubah. Kalau secara psikis, memang ketika mempunyai pasangan yang gampang tersulut emosi itu susah disembuhkan, harus ditangani oleh psikolog. Belum ada 6 bulan rujuk sudah terjadi kekerasan lagi, akhirnya si ibu ini mendatangi saya lagi dan bilang “benar yah yang dikatakan ibu saya ternyata seperti ini jadinya.”

 

 

Jadi ini merupakan suatu pandanga dari saya kalau memang orang tua Anda tidak setuju itu cari alasannya, kenapa orang tua Anda bisa tidak setuju. Jangan-jangan apa yang menjadi kekhawatiran orang tua itu benar adanya. Karena bagaimana pun juga mereka lebih punya pengalaman daripada kita masalah kehidupan.Jadi intinya harus ada komunikasi antara Anda dan Orang tua Anda.

 

 

Kalau Anda yakin suami sudah benar-benar berubah dan tidak mengulangi lagi kesalahannya dimasa lalu maka Anda harus bisa meyakinkan kepada orangtua. Namun kalau Anda sendiri masih ragu dengan perubahan mantan suami kemudian alasan orangtua masuk akal tentu lebih baik Anda menuruti saran orangtua. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat.

 

Nah, terkait dengan pembahasan dan tips membentuk serta membangun keluarga yang sakinah dan harmonis, Anda dan mojang bujang sekalian bisa membaca buku saya yang berjudul, “INSYA ALLAH SAKINAH“. Dalam buku ini ada beberapa tips serta contoh kasus rumah tangga berikut solusinya dikemas dengan pembahasan sesuai tutunan Islam dan mudah dipahami. Wallahu’alam bishawab. [ ]

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: norman

860

 

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

(Visited 268 times, 2 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment