Cara Bersikap Kepada Tetangga Non Muslim

 

Assalamu’alaykum. Pak Ustadz, saya dan keluarga baru pindah rumah dari sebuah kota ke kota lain. Ditempat  yang baru ini saya mempunyai tetangga non muslim yang baik dan ramah. Kadang suka mengirim makanan dan anak-anak saya suka diajak main ke rumahnya. Bagaimana kami harus bersikap? Mohon nasihatnya dan terima kasih. ( Melly via fb)

 

 

 

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Mempunyai tetangga yang baik dan ramah tentu salah satu kebahagian tersendiri dalam hidup bermasyarakat. Apalagi hidup di zaman modern sekarang ini yang sifat dan sikap individualis lebih menonjol di banding zaman dulu atau masyarakat desa.

 

 

Namun seperti yang Anda sampaikan tersebut yakni tetangga Anda adalah seorang yang non muslim yang tentu ada adab tersendiri atau dengan tetangga yang sama – sama muslim. Meski demikian secara umum bertetangga dengan yang muslim maupun yang non muslim tetap harus sikap baik dan juga berakhlak yang baik pula.

 

 

Ada beberapa hal yang perlu Anda tunjukkan sebagai seorang tetangga meski dia beragama beda dengan Anda atau seorang yang non muslim.

 

 

Pertama, berakhlak yang mulia atau akhlakul karimah.

 

Seperti apa berakhlak yang baik itu? Kita bisa mencontoh Rasul bagaimana beliau bersikap kepada orang-orang non muslim. Pernah suatu waktu seseorang bertanya kepada Aisyah ra, istri beliau perihal bagaimana Nabi dalam kesehariannya, Aisyah pun menjawab: كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ  ‘Akhlak beliau (Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) adalah Al-Quran’

 

 

Kemudian Aisyah Radhiyallahu ‘anha membacakan ayat. “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS: Al Qalam : 4)

 

 

Ada kisah yang sering kita Rasulullah adalah orang yang paling perhatian terhadap kondisi pengemis  tua dari bangsa Yahudi yang menetap di salah satu sudut pasar di Madinah. Setiap hari, Nabi datang menyuapi pengemis tersebut, yang selain faktor usia, ia juga sudah tidak bisa melihat (tunanetra). Dan, setiap Nabi datang menyuapi, pengemis Yahudi itu selalu menyebut-nyebut Muhammad sebagai orang yang jahat, mesti dijauhi dan sebagainya.

 

Apakah Rasul marah dan menghentikan menyuapi? Tidak beliau terus melakukannya hingga akhir hayatnya.  Hingga Yahudi tua tersebut tahu bahwa yang selama ini menyuapi dengan sabar dan lemah lembut adalah Rasulullah Saw. Dalam Alquran juga disebutkan,

 

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat, dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab : 21).

 

Kedua, saling menghormati

 

Sikap menghormati disini tentu sebagai seorang manusia yang mempunyai harkat dan martabat yang ingin dihormati dan dihargai. Selama tidak ada kaitannya dengan masalah ibadah atau akidah maka Anda tetap harus menghormatinya. Namun jika menyangkut masalah akidah maka sebaliknya harus tegas,

 

Katakan, “Hai orang-orang kafir! Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah, dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah pula menjadi penyembah apa yang aku sembah. Untukmu agamamu, untukku agamaku “ ( QS.Al Kafirun; 1-6)

 

Jadi dalam urusan akidah harus tegas dan tidak bisa dikompromikan. Tidak boleh saling bantu atau tolong dalah hal urusan akidah dan ibdah.

 

Ketiga, saling membantu.

 

Kalau dalam urusan akidah dan ibadah harus ada ketegasan atau tidak boleh saling membantu, namun sebaliknya dalam hubungan sosial boleh saling membantu sebagai sesama manusia. Misalnya, dia sakit dan perlu ke dokter maka Anda boleh membantunya atau mengantarnya ke dokter atau rumah sakit. Mereka tidak punya air minum atau untuk mandi maka Anda boleh memberinya air dan sebagainya. Atau kerja bakti lingkungan atau membersihkan saluran air dan sebagainya, ini dibolehkan.

 

 

Jadi harus dapat dibedakan maka urusan ibadah dan akidah dan mana urusan sosial atau kemanusiaan. Sebaiknya tidak dicampur aduh atau baik dalam segala hal termasuk ibadah, ini yang tidak boleh.

 

 

Kemudian bagaimana kalau tetangga yang non muslim tersebut memberi makan?. Dalam Islam aturannya sudah jelas yakni makanan atau minuman harus halal termasuk pemberian dari non muslim. Pastikan bahwa makan tersebut halal sesuai syariat Islam. Beri penjelasannya bahwa dalam makanan atau minuman itu harus halal dan bersih dari najis.

 

 

Anda boleh sebutkan jenis-jenis yang diharamkan dalam Islam, seperti daging babi, darah, binang buas dan sebagainya. Kalau mereka paham tentu mereka juga akan menghargai Anda sebagai seorang muslim. Dan Anda boleh atau berhak menolaknya sekiranya makanan tersebut tidak halal atau meragukan kehalalannya maka Anda boleh atau wajib menolaknya.

 

 

Kesempatan ini bisa Anda gunakan untuk menjelaskan tentang Islam dengan segala aturan hidupnya termasuk dalam hal makan dan minum.

 

 

Kemudian bagaimana dengan anak-anak yang suka main? Tentu selama mainnya jelas dan terbuka tidak ada larangan. Misalnya main mobil-mobilan di teras atau halaman, main sepeda di jalan depan rumah dan sebagainya, menurut hemat saya boleh – boleh saja.

 

 

Namun kalau mainnya di dalam rumah mereka dan Anda sendiri tidak tahu apa yang dipermainkan maka sebaiknya atau Anda boleh melarang anak-anak Anda bermain di rumahnya. Ini tentu bukan sikap diskriminatif melain lebih pada sikap kahati-hatian saja.

 

 

Tentu kita paham bahwa anak-anak mudah sekali meniru atau terpengaruh. Misalnya ketika anak Anda sedang bermain di rumah mereka, dan mereka tengah melakukan ibadat sesuai dengan agama dan keyakinannya tentu ini tidak baik bagi anak Anda. Sebab, anak-anak seusia mereka tentu belum paham benar terkait dengan ibadah.

 

 

BACA JUGA: Tinggal Lingkungan Yang Tidak Islami, Ini Cara Mengatasi

 

 

Untuk itu menurut hemat saya, sebaiknya Anda bisa memberi penjelasan pada anak-anak Anda tentang mereka khususnya terkait dengan agama dan cara ibadah mereka. Sebab, sebagai orangtua Anda berkewajiban mendidik dan membentengi akidah Islam kepada anak-anak Anda.

 

 

Intinya dalam berhubungan baik dengan tetangga yang non muslim sebatas urusan sosial dan kemanusiaan tentu tidak dilarang. Namun sekiranya ada hubungannya dengan ibadah dan akidah maka harus ada ketegasan. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu’alam bishshawab. [ ]

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

890

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]man.org  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

(Visited 132 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment