Bangunan Direnovasi, Apakah Amalan Jariyahnya Akan Putus?

Assalamu’alaykum, Pak Aam, di kampung saya akan ada pembangunan madrasah yang baru karena yang lama sudah rusak. Tetapi ada yang berpendapat kalau madrasah yang lama jangan dirobohkan, karena nanti kasihan amal-amal orang yang telah membangun madrasah tersebut tidak akan mendapatkan amal lagi. Bagaimana dengan bangunan madrasah yang sudah mau roboh itu? Mohon penjelasannya (Erwin via fb)

 

 

Wa’alaykumsalam ww. Ya ini memang ini kita harus hargai ada masjid yang udah butut, madrasah udah butut udah mau runtuh. Pengurus mengatakan, terutama pengurus yang sudah sepuh yang dulu membangun madrasah tersebut “kalian tidak boleh menghancurkan, karena kasihan orang-orang yang membangun madrasah itu, nanti amalannya akan hilang.”

 

 

Nah ini keliru. Yang dimaksud dengan amal jariyah itu, sekalipun masjid yang dibangun itu di renovasi tetap amal jariyahnya itu mengalir. Kan begini amal itu ada amal soleh ada amal jariyah. Kalau amal soleh itu kan amal yang kita sendiri lakukan.

 

 

Seperti kita melakukan sholat tahajud, itu amal sholeh. Kita melakukan puasa Tasu’a Assyuro, itu amal sholeh. Karena kita langsung melakukan.

 

 

BACA JUGA: Hukum Lupa Sholat Ashar, Benarkah Seluruh Amal Shalih Tidak Diterima ?

 

 

Nah ada lagi yang namanya amal jariyah. Kalau amal jariyah itu sekarang melakukan sampai meninggal itu amalannya mengalir terus. Sekalipun bangunannya sudah tidak ada. Contoh 50 tahun lalu kakek saya membangun masjid. Tapi bangunannya sudah mau runtuh karena sudah 50 tahun usianya. Akhirnya diratakan untuk di renovasi.

 

 

Tapi ada yang mengatakan ketika bangunannya diratakan amalannya akan putus. Ya tentu saja tidak. Karena orang tersebut pernah menanamkan amalan tersebut disitu. Coba perhatikan sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

 

Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim)

Amal jariyah itu tidak mengenal waktu surut istilahnya. Selama dilakukan dengan ikhlas dan hanya mengharap ridho Allah, maka insya Allah pahalanya akan terus mengalir.

 

Ketika kita pernah menanam amal jariyah, apakah itu memasang karpet. 15 tahun lagi karpet sudah harus diganti, sama pengurus masjid diganti dengan yang baru. Apakah ketika diganti, amalan saya hilang? Tidak. Karena saya sudah berniat itu sebagai amal jariyah.

 

Amal jariyah nitu bisa berupa harta yang digunakan untuk kepentingan agama, apakah itu wakaf, sedekah atau bisa juga ilmu yang kita ajarkan kepada orang lain. Amal jariyah itu seperti penulis buku. Ketika bukunya diterbitkan terus menerus maka ia akan mendapatkan royalti, maka ia akan mendapat pahala.

 

Jadi jangan pernah ragu atau sanksi ketika beramal jariyah kemudian misalnya gedung atau tempat tersebut akan direnovasi. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat.  Wallahu’alam bishshawab. [ ]

 

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

970

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

(Visited 196 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment