Istri Minta Cerai ? Ini Syaratnya

Assalamu’alaykum. Ustadz Aam,  saya mau bertanya. Apa hukumnya istri yang selalu minta cerai ? Apakah keutamaan istri berbakti kepada orang tua ataupun kepada suami. Mohon nasihatnya. ( AA via fb)

 

 

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Tentu sebuah pernikahan dibangun untuk waktu yang sangat lama atau sampai maut memisahkan suami atau istri. Demikian pula bahwa tidak ada suami istri yang ingin kehidupan rumah tangga berakhir dengan sebuah perceraian.

 

 

Sayangnya dalam pertanyaan, Anda tidak menyebutkan alasan seorang istri yang meminta cerai. Tentu kalau ada alasannya yang dibenarkan dalam syariat maka dibolehkan.  Intinya menurut ulama fikih bahwa asal hukum cerai adalah makruh (boleh) namun bisa juga haram (terlarang), namun bisa berubah pada hukum lainnya sesuai dengan kondisinya.

 

 

Seorang istri haram atau terlarang meminta cerai kepada suaminya jika tidak ada alas an syari yang menyertainya. Bahkan saking haramnya, Allah mengancamnya dengan tidak memberikan surga pada wanita yang meminta cerai pada suaminya.  Hal ini seperti hadits yang dipesankan Rasul,

 

 

“Wanita mana saja yang minta cerai pada suaminya tanpa sebab, maka haram baginya mencium bau surga.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad)

 

 

Hadits ini oleh para ulama hadits dinyatakan shahih. Jadi seorang istri haram atau dilarang mengajukan cerai tanpa sebab yang jelas atau tanpa alas an syari. Untuk itu seorang istri harus berhati-hati dalam mengajukan gugat atau meminta cerai.

 

 

Kemudian perceraian itu menjadi makruh atau boleh jika kondisi rumah tangga itu berubah atau ada kondisi yang membolehkan bahkan bisa mewajibkan untuk cerai, maka seorang wanita atau istri dibolehkan meminta atau mengajukan cerai. Tentu dengan beberapa syarat dan ketentuan.

 

 

Ketentuan atau dasar hukum istri bisa gugat cerai ini bisa dilihat atau dibaca dalam buku nikah, biasanya ada dihalaman belakang. Dalam buku tersebut ada sighat taklik seorang suami yang ditulis bahwa seorang suami berjanji dengan sesungguh hati akan menapati kewajibannya sebagai seorang suami. Kemudian sighat taklik kepada istrinya sewaktu-waktu sebagai berikut,

  1. Meninggalkan istri dua tahun berturut-turut,
  2. Atau tidak memberi nafkah wajib kepada istri tiga bulan lama,
  3. Atau menyakiti badan / jasmani istri
  4. Atau membiarkan ( tidak mempedulikan) istri enam bulan lamanya, kemudian istri tidak ridho dan mengadukan halnya kepada Pengadilan Agama dan pengaduannya dibenarkan serta diterima oleh pengadilan tersebut dan istri membayar uang sebesar Rp.10.000, sebagai iwadh ( pengganti) kepada suami, maka jatuhlah talak satu suami kepada istri.

 

Atau jika merujuk pada Pasal 116 Kompilasi Hukum Islam jo Pasal 19 PP No 9 tahun 1975  Tentang Perkawinan disitu disebutkan ada alasan atau ketentuan dalam pengajuan perceraian seorang istri kepada suaminya, seperti:

 

  1. Suami anda terbukti sudah melakukan aniaya seperti: zina, mabuk-mabukan, berjudi dan lainnya;
  2. Suami anda telah meninggalkan anda setidaknya dua tahun secara terus menerus tanpa ada izin maupun argumen yang terang dan valid, hal ini berarti: suami anda dengan secara sadar atau sengaja meninggalkan anda
  3. Suami anda terkena sangsi hukuman penjara selama lima tahun atau lebih sesudah pernikahan terjadi
  4. Suami anda berlaku kejam dan kerap menganiaya diri anda baik secara fisik (memukul atau menyakiti fisik) maupun non fisik ( kekerasan verbal, menista, menghina, merendahkan harkat dan martabat)
  5. Suami tidak bisa menunaikan kewajibannya sebagai suami dikarenakan cacat fisik maupun penyakit yang menderanya
  6. Terjadi keributan atau pertikaian terus menerus tanpa adanya jalan keluar untuk kembali hidup rukun
  1. Suami Anda secara sengaja secara sah telah melanggar taklik-talak yang diucapkannya sewaktu melangsungkan ijab-kabul
  2. Suami berganti agama alias murtad yang menyebabkan ketidakharmonisan dalam rumah tangga.

 

 

Jadi jika menurut Anda, suami telah memenuhi syarat tersebut diatas baik secara syariat Islam atau pun hukum Negara atau Undang-Undang Perkawinan dan Anda tidak terima perlakuan tersebut maka silakan Anda bisa mengajukan gugat cerai lewat Pengadilan Agama.

 

 

BACA JUGA: Istri Selingkuh, Apakah Suami Bisa Langsung Menceraikan ?

 

Kemudian apa keutamaan berbakti pada suami dan orangtua? Tentu banyak sekali dan salah satu kewajiban istri adalah taat atau berbakti kepada suaminya selama suami tidak meminta untuk berbuat munkar atau maksiat kepada Allah dan Rasulnya. Dalam sebuah haditsnya Rasul bersabda,

 

 

Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban)

 

 

Dengan ketaatan seorang istri pada suaminya, maka insya Allah akan harmonis dalam kehidupan rumah tangganya. Hal ini juga akan sangat membantu untuk melahirkan keturunan yang shalih dan shalihah.

 

 

Kemudian ketaatan atau berbakti kepada orang tua dapat kita perhatikan dari hadits Rasul,

Aku bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang amal-amal yang paling utama dan dicintai Allah ? Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, Pertama shalat pada waktunya (dalam riwayat lain disebutkan shalat di awal waktunya), kedua berbakti kepada kedua orang tua, ketiga jihad di jalan Allah” (HR. Bukhari dan Muslim )

 

 

Dengan demikian jika ingin kebajikan harus didahulukan amal-amal yang paling utama di antaranya adalah birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua). Dengan berbakti kepada orang akan menjadi salah satu sumber keridhoaan Allah dalam hidup. Rasulullah bersabda,

 

BACA JUGA:

 

Suami Impoten, Apakah Istri Boleh Minta Cerai?

 

 

Ridla Allah tergantung kepada keridlaan orang tua dan murka Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua” ( HR. Bukhari, Tirmidzi dan Hakim)

 

 

Jadi kalau belum menikah, seorang wanita wajib taat atau berbakti kepada orangtuanya. Namun ketika sudah menikah maka seorang wanita atau istri harus taat kepada suaminya. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat.

 

 

Nah, terkait bahasan membangun rumah tangga yang sakinah,mawadah dan penuh rahmah termasuk didalamnya bagaimana mengajak suami atau istri dalam kebaikan, Anda dan sahabat-sahabat sekalian bisa membaca buku saya yang berjudul “MEMBINGKAI SURGA DALAM RUMAH TANGGA”. Didalamnya juga  ada tips dan trik bagaimana mengajak pasangan bersama-sama dalam ibadah, termasuk dalam ibadah shalat-shalat sunnah  . Wallahu’alam bishshawab. [ ]

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pa.go.id

789

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

 

(Visited 1,153 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment