Penggunaan Nama ‘Bin’ Pada Ibu, Apakah Dibolehkan ?

 

Asslamu’alaykum, Pak Aam, suami saja baru  meninggal, namun nama “bin” nya bukan ke bapaknya tetapi ke ibu nya. Hal ini karena bapaknya bukan non muslim. Apakah ini boleh? Bagaimana hukumnya? Mohon penjelasannya ( R via fb )

 

 

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Begini, sebenarnya nama atau kata “bin” itu tidak terkait dengan agama apapun. Tetapi bin itu menggambarkan garis keturunan, misalnya Ahmad bin Yoseph, sekalipun ayah Ahmad yakni Yoseph ini Kristen.

 

 

Jadi Yoseph ini  tetap ayahnya sekalipun non muslim. Nah, jadi tidak ada itu “Ahmad bin Fatimah “.  Kalau ada yang bilang , “Mengapa kamu mah bin Fatimah?” “Iya karena bapak saya kristen ibu saya Islam. Jadi saya memakai bin nya ke ibu.” Ini adalah pendapat atau anggapan yang keliru.

 

 

Sebabyang namanya bin itu menggambarkan garis keturunan dari sisi ayah. Jadi bin itu harus tetap ke Ayah sekalipun non muslim. Bedanya kalau dalam pernikahan. Saksi pernikahan itu harus satu agama yakni harus Muslim. Pihak yang mewakili saksi dari pihak pria maupun perempuan itu harus beragama Islam semua.

 

 

Hal ini juga yang harus diperhatikan khususnya bagi kaum wanita atau ibu. Jangan dibiasakan ujung dari nama kita itu suami. Sebab  suami mah bisa berubah atau ganti baik karena perceraian atau ditinggal meninggal suami lalu menikah lagi.

 

 

Hanya di masyarakat kita masih ada kebiasaan kalau ujung nama istri itu harus ada nama suami. Tentu kalau itu hanya panggilan di kantor tidak ada masalah. Misalanya adayang yang memanggail dengan sebutan, “Mana Bu Agus, mana Bu Ridwan, mana Bu Asep.” Ya itu namanya lebih menggunakan bahasa keakraban.  Tidak menjadi masalah atau boleh – boleh saja.

 

 

Namun ada kasus dimana ada seorang istri atau wanita yang bahkan akta kelahirannya itu diubah. Nama suami dimasukkan ke situ. Misalnya “Rina Amiruddin” karena nama suaminya Amiruddin. Padahal yang harus dimasukkan itu bukan nama suami tetapi nama ayah. Kenapa? Karena ayah itu tak tergantikan sampai kapan pun sementara kalau suami itu bisa saja berubah. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat.  Wallahu’alam bishshawab. [ ]

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

890

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

 

(Visited 376 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment