Hukum Jasa Titip Dalam Islam, Boleh atau Terlarang ?

 

Assalamu’alaykum. Pak Ustadz, saat ini saya sudah selesai kuliah. Sambil menunggu wisuda, saya dan teman berencana mau buka usaha jasa penitipan barang. Bagaimana hukumnya muamalah jasa titip ini? Mohon penjelasannya. ( Ricky via fb )

 

 

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat yang dirahmati Allah. Pada dasarnya segala bentuk muamalah adalah mubah atau boleh selama tidak ada dalil yang melarangnya.

 

 

اَلأَصْلُ فِى الْأَشْيَاءِ (فِى الْمُعَامَلاَتِ) الإِبَاحَةُ، إِلاَّ مَا دَلَّ الدَّلِِيْلُ عَلَى خِلاَفِهِ

Pada dasarnya (asalnya) pada segala sesuatu (pada persoalan mu’amalah) itu hukumnya mubah, kecuali jika ada dalil yang menunjukkan larangan atas makna lainnya.”

 

 

 Hanya yang Anda maksud jasa titip itu perlu dijelaskan. Apakah didalamnya ada unsur riba atau tidak, ada maisir atau judi atau tidak. Misalnya, si A mau pulang kampung atau ke luar kota kemudian menitipkan barang berharganya selama seminggu. Kemudian Anda dan dia ada kesepakatan soal jasa jaga atau merawatnya sebesar rupiah. Nah, ini tentu dibolehkan, karena itu sama dengan jasa menjaga atau merawat barang tersebut selama ditinggal pemiliknya.

 

 

Namun kalau ada unsur riba atau bunga atau judinya itu tidak boleh. Misalnya, si A menitip barang, jasanya sekian persen dari nilai barang tersebut. Kemudian kalau kelebihan hari atau menitipnya terlambat mengambilnya maka kena denda atau bunga sekian persen. Nah, bunga jasa ini yang tidak boleh, sebab bisa masuk kategori riba.

 

 

Tetapi pada prinsipnya muamalah jasa titip diperbolehkan. Misalnya saya menitipkan mobil saya, kemudian saya membayar kepada Anda karena jasa penitipan yang Anda berikan. Jika jasa titip yang dimaksud seperti itu maka diperbolehkan.  Ada juga contoh lain, misalnya Anda mempunyai tanah lalu warga ditempat tinggal Anda sering menitipkan mobil di tanah Anda dan setiap bulan mereka membayar uang kepada Anda. Itu tidak masalah atau boleh-boleh saja.

 

 

Intinya dalam mumalalah itu harus dilakukan atas dasar sukarela, tanpa mengandung unsur-unsur paksaan dan tidak boleh saling mendzalimin atau tidak boleh dilakukan dengan cara batil. Coba perhatikan firman Allah dalam Alquran,

 

 

يآيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا لاَ تَأْكُلُوْا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلاَّ أَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً عَنْ تَرَضٍ مِنْكُمْ وَلاَ تَقْتُلُوْا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيْمًا. -النساء: 29

 

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh diri kamu sekalian, sesungguhnya Allah adalah maha penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa’: 29)

 

 

Jadi dalam muamalah yang Anda lakukan tersebut tidak boleh saling curang dan merugikan pihak lain. Selain itu prinsip muamalah juga harus dilakukan atas dasar pertimbangan mendatangkan manfaat dan menghindari mudharat dalam bermasyarakat. Coba perhatikan pesan Rasul dalam haditsnya,

 

 

عَنْ عُباَدَةَ ابْنِ صَامِتِ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قََضَى أَنْ لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ. -رواه أحمد وابن ماجة

 

“Dari Ubadah bahwasanya Rasulullah saw menetapkan tidak boleh berbuat kemudharatan dan tidak boleh pula membalas kemudharatan”. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

 

Jadi muamalah yang akan Anda lakukan tersebut tidak boleh mendatangkan keburukan, baik bagi Anda sendiri, orang menitipkan barang maupun masyarakat sekitarnya. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu’alam bishshawab. [ ]

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

892

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

(Visited 336 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment