Ini Bukti Kekuatan Doa Dalam Ikhtiar Kehamilan

PERCIKANIMAN.ID – –  Hadirnya buah hati dalam keluarga akan melengkapi kebahagian suami istri. Namun terkadang kehamilan yang didamba masih belum mendapat karunia-Nya. Ragam ikhtiar juga telah ditempuh namun terkadang ada yang terlupa yakni doa.

 

Kalau saja kita tidak menganggap doa sebagai bagian yang terpisah dari ikhtiar, tentunya doa yang kita panjatkan dapat pula berperan sebagai “obat” bagi jiwa (psikis). Ketika berkata, “Kita sudah berikhtiar, sekarang tinggal berdoa”, secara tak sadar kita telah menomorduakan doa.

 

Padahal, bila kita renungkan, yang harus kita jadikan pokok pangkal dari segala sesuatu adalah Kemahakuasaan Allah. Dalam hubungannya dengan kehamilan yang didamba, yang harus kita jadikan patokan awal adalah janin yang diharapkan kehadirannya di dalam rahim mutlak berada dalam kekuasaan Dzat Yang Maha Pencipta.

 

Dialah yang berwenang untuk menciptakan makhluk. Dia pula yang memiliki hak mutlak untuk menentukan rahim siapa yang hendak dipilih untuk kehidupan makhluk yang Dia ciptakan. Bila demikian, doa semestinya menyatu (include) dengan ikhtiar sehingga doa adalah ikhtiar, dan ikhtiar adalah doa. Baru kemudian, kita bertawakal, yaitu menyerahkan segalanya kepada Allah.

 

Saat doa telah menyatu dengan ikhtiar, dan tawakal telah bersatu dengan jiwa, hati akan tenteram. Kondisi ini akan turut menentukan tingkat keberhasilan ikhtiar. Sebaliknya, saat ikhtiar dan doa dipisahkan, hati tetap akan gelisah, stres pun tak dapat dihindari, terutama menjelang tanggal menstruasi. Akibatnya, proses kehamilan menjadi terganggu.

 

Hal lain yang tak kalah penting untuk diperhatikan adalah masalah niat. Kadang, niat yang muncul setelah sekian lama tak kunjung hamil menjadi sangat beragam. Ada ingin segera hamil karena tidak enak ditanya mertua terus. Atau, ada pula yang ingin membuktikan bahwa dirinya tidak mandul.

 

Kalau niat memiliki anak adalah demi mempertahankan ego atau demi kepentingan dan kesenangan pribadi, seribu satu kekecewaan akan muncul silih berganti. Misalnya saja biar suami nggak nikah lagi. Kalau ini yang menjadi tujuan, adakah jaminan bahwa suami tidak akan menikah lagi setelah dikaruniai anak?

 

Padahal,cukup banyak suami yang berpoligami walaupun ia telah memiliki anak. Demikian pula bila diniatkan agar tidak diomeli calon mertua. Tidak ada jaminan mertua akan selalu tersenyum pada menantu ketika ia telah dihadiahi cucu.

 

Dalam permasalahan ini, hendaklah kita becermin pada kisah Nabi Ibrahim a.s. Umur Ibrahim dan istrinya, Siti Sarah, telah cukup tua, namun mereka belum memiliki anak. Dalam kondisi demikian, Ibrahim tak berputus asa memohon pada Allah Sang Maha Pencipta sambil tetap meluruskan niat.

 

Siti Sarah pun kemudian meminta Ibrahim untuk menikahi Siti Hajar, dengan harapan Ibrahim mempunyai keturunan dari Siti Hajar. Tak lama, Siti Hajar mengandung. Ibrahim dan Siti Sarah pun mendapat kabar bahwa mereka akan mendapatkan keturunan. Kisah ini diabadikan dalam Al Quran,

 

Dan istrinya berdiri (di balik tirai) lalu dia tersenyum. Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak akan lahir putranya, yakni Ya’qub. Istrinya berkata, ‘Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan kini suamiku pun dalam keadaan yang sudah tua pula? Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh.’ Para malaikat itu berkata, ‘Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? Itu adalah rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, wahai ahlul bait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.’” (Q.S. Huud 11: 71–73)

 

Dari Siti Hajar, Ibrahim dikaruniai anak yang diberi nama Ismail, dan dari Siti Sarah, Ibrahim dikaruniai anak yang diberi nama Ishak. Kedua putranya ini kemudian diangkat pula menjadi nabi oleh Allah Swt.Apa doa Nabi Ibrahim ketika memohon dikaruniai anak? Ia berdoa,

 

Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.” (Q.S. Ash-Shaaffaat : 100)

 

Doa tersebut menggambarkan tentang lurusnya niat Ibrahim berkenaan dengan keinginannya dianugerahi anak. Untuk lebih membuktikan tentang ketulusan niat Ibrahim, Allah pun mengujinya dengan perintah untuk menyembelih Ismail. Ternyata, Ibrahim benar-benar memiliki komitmen yang begitu teguh. Ia ungkapkan perintah Allah ini kepada anak yang sangat disayanginya. Ketika sang anak mendengar tentang hal itu, ia pun patuh atas ketetapan dari Tuhannya. Inilah buah dari doa Ibrahim yang memohon dianugerahi anak yang saleh.

 

 

BACA JUGA: Setahun Belum Hamil ? Coba Cek Ini Pada Suami

 

 

Lurusnya niat dalam keinginan memperoleh keturunan dicontohkan pula oleh keluarga Imran. Hal ini diabadikan Allah,

 

Ingatlah ketika istri Imran berkata, ’Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu daripadaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.’” (Q.S. Ali Imran 3: 35)

 

Kesimpulannya, kehamilan merupakan salah satu dari tanda-tanda kebesaran Allah swt. Bagi manusia, mengupayakan suatu kehamilan bisa menjadi teramat sulit, sedangkan bagi Allah swt. sangat mudah, terlepas dari batasan usia yang ditetapkan oleh teori.

 

Subhanallah! Karenanya, ungkapkan nazar atau permohonan yang tulus untuk memperoleh keturunan yang saleh saat bermunajat ke hadirat-Nya. Kemudian, iringi permohonan itu dengan amal saleh, misalnya melaksanakan shalat tepat waktu dan menjalankan shalat-shalat sunat, shaum, sedekah, dan amalan lainnya. Jadi jangan sepelekan kekuatan doa dalam ikhtiar mendapat kehamilan. [ ]

 

Disarikan dari buku “Kehamilan yang Didamba”, karya Dr.Aam Amiruddin,M.Si dan dr.Hanny Ronosulistyo Sp.OG

5

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

890

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

(Visited 350 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment