Aktivitas Semedi, Apakah Sesuai Ajaran Islam ?

Assalamualaikum Pak Aam, saya mau bertanya. Kalau semedi itu dalam ajaran Islam diperbolehkan tidak? Soalnya suami saya dengan gurunya suka melakukan hal ini. Kadang didalam kamar gelap atau diteras rumah. Tapi ini dalam semedi itu mengucapkan takbir allahu akbar. Bagaimana hukumnya? Karena saya merasa ragu apa yang dikerjakannya. Gurunya juga setahu saya jarang shalat. Mohon nasihatnya. (T via email)

 

 

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat yang dirahmati Allah. Istilah semedi itu kan artinya duduk berkonsentrasi. Ini istilah yang lazim digunakan oleh orang-orang sedang memperdalam ilmu tertentu yang sifat tradional. Kadang aktivitas semedi itu bisa di rumah dalam ruangan tertutup atau di luar rumah misalnya di sungai, gunung, danau dan sebagainya.

 

 

Kalau dalam konsep Islam namanya bukan semedi tetapi khusyuk. Khusyuk itu artinya membaca doa dengan segala kerendahan hati dengan penuh penghayatan. Di dalam surat Al baqarah, diungkapkan 2 makna, yang pertama bahwa khusyuk itu suatu keyakinan. Keyakinan bahwa kita itu akan bertemu dengan Allah SWT.

 

 

” Mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan salat. Salat itu berat, kecuali bagi orang-orang khus­yuk, yaitu mereka yang yakin akan menemui Tuhannya dan akan kembali kepada-Nya. ” (QS. Al Baqarah : 45-46)

 

 

Itu khusyuk adalah kerangka berpikir dalam mengahadapi kehidupan. Tapi khusyuk juga ada makna khusus, dalam mengerjakan sholat. Jadi dalam Islam dikenal sebagai khusyuk bukan semedi. Kalau semedi itu adanya di ajaran agama lain.

 

 

Semedi itu duduk dengan tangan bersedekap dan konsentrasi ke satu titik. Nah kalau kita umat Islam punya konsep yang namanya khusyuk. Khusyuk itu gak selamanya duduk, bisa sambil takbir, rukuk, sujud.

 

 

Jadi khusyuknya orang Islam itu sesuai yang dicontohkan oleh Rasul. Kita dalam berdoa bisa saja khusyuk. Duduk, tetapi yang terpenting adalah pikiran dan hati kita konsen kepada-Nya. Jadi saya bedakan bahwa umat Islam itu tidak mengenal konsepsi semedi, yang ada adalah khusyuk.

 

 

Lalu ada orang yang mengatakan “tidak apa-apa kita semedi tapi kan sambil berdzikir”. Itu menurut saya lebih baik jangan dilakukan. Jangan memekai atau mengikuti konsepsi agama lain atau keyakinan ajaran diluar Islam termasuk cara atau praktik ibadahnya. Khawatir terjadi miskonsepsi.

 

 

Mendingan kita sebagai umat Islam memakai konsep-konsep yang jelas ada di dalam Alquran yaitu konsep khusyuk tersebut yang dikaitkan dengan aktivitas shalat. Jadi kesimpulannya adalah kita memakai konsep khusyuk dalam berdzikir, bukan konsep semedi sambil berdzikir.

 

 

Walaupun hanya sekedar kata atau konsep, tapi kita tidak boleh menyepelekan kata tersebut. Sebab, bisa jadi kata tersebut menggambarkan hal yang berbeda dari yang kita maksudkan. Jangan pula mengikuti cara atau praktik agama lain khususnya dalam hal ibadah.

 

 

BACA JUGA: Berdzikir Itu Sebaiknya Berjamaah atau Sendiri?

 

 

Islam ajaran yang telah sempurna. Terkait dengan ibadah apalagi shalat sudah ada contoh yang harus diikuti yakni apa yang praktikkan oleh Rasul. Kita ikuti saja apa yang telah dicontohkan beliau. Jangan membuat aktivitas atau konsep ibadah sendiri apalagi kaitannya dalam konsep ibadah.

 

 

Kerana bisa jadi didalam semedi itu adalah ajaran agama lain yang kaitannya dengan ibadah.Padahal sangat jelas dalam Islam kita tidak boleh menyembah atau beribadah dengan ajaran agama lain. Simak kembali penjelasan dalam surat Al Kafirun,

 

 

Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah,dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah, dan aku tidak pernah menjadi pe­nyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah pula menjadi penyembah apa yang aku sembah. Untukmu agamamu, untukku agama­ku.” ( QS. Al Kafirun: 2-6)

 

 

Jadi ada baiknya coba diskusi dengan suami, apa maksud semedi yang dilakukan dan bacaan apa saja dalam proses semedi tersebut?. Sampaikan dengan bijak bahwa dalam Islam sudah ada konsep ibadah yakni shalat dengan khusyuk sebagai sarana meminta pertolongan kepada Allah.

 

 

Boleh juga berdzikir atau berdoa seseui tuntunan Rasul. Tapi sekali lagi konsepnya bukan semedi, meditasi atau bertapa. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat.

 

Nah, terkait pembahasan bab shalat ini lebih detail berikut dalilnya, Anda, bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian bisa membaca buku saya yang berjudul “SUDAH BENARKAH SHALATKU?“. Didalamnya ada pembahasan bab praktik shalat berikut contoh-contohnya. Wallahu’alam bishawab. [ ]

5

Editor: iman

Ilsutrasi foto: pixabay

968

 

 

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

 

(Visited 302 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment