3 Cara Maknai Harta, Mana Yang Kita Pahami ?

 

PERCIKANIMAN.ID – –  Setiap orang pasti ingin kaya atau berharta. Salah satu motivasi orang bekerja atau mempunyai usaha adalah ingin hidupnya berkecukupan hingga berlimpahnya harta.  Namun bagi orang beriman makna harta yang sesungguhnya adalah apa yang telah kita belanjakan di jalan Allah. Dalam Alquran dengan jelas Allah Swt menegaskan,

 

 

Fa ammaa man a’thaa wattaqaa. Wa shaddaqa bil husnaa. Fasanuyassiruhu lilyusraa.

 

Barang siapa memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala terbaik, maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kebahagiaan.” ( QS.Al Lail: 5-7)

 

Ayat kelima hingga ketujuh ini menegaskan bahwa siapa saja yang menafkahkan hartanya untuk hal-hal yang Allah Swt. ridoi, maka Allah Swt. akan memberikan imbalan berupa kenikmatan yang tak terhingga di akhirat, yaitu surga abadi.

Bahkan harta yang kita nafkahkan dalam jalur yang benar akan berkah. Keberkahannya akan kita rasakan di dunia, sebagaimana dijelaskan dalam keterangan berikut.

 

Jika kamu menampakkan sedekah-sedekahmu, hal itu baik. Jika kamu menyembunyikan dan memberikannya kepada orang-orang fakir, hal itu lebih baik bagimu dan Allah akan menghapus sebagian kesalahanmu. Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.” ( Q.S. Al-Baqarah [2]: 271).

 

Harta merupakan salah satu materi ujian kehidupan. Betapa banyak orang yang terjerumus pada cara-cara yang haram untuk bisa mendapatkan harta sebanyak-banyaknya. Dan tidak sedikit orang yang bergelimang harta, kemudian harta tersebut membawanya pada kehidupan penuh maksiat. Supaya tidak terperdaya harta, maka kita perlu memahami karakternya, yaitu:

 

  1. Harta sebagai titipan atau amanah Allah

Kita harus menyadari bahwa apa yang ada pada genggaman kita adalah milik Allah yang dititipkan dan harus dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya.

Milik Allah segala yang ada di langit dan di bumi. Sungguh, Kami telah memerintahkanmu dan orang yang diberi kitab suci sebelummu agar bertakwa kepada Allah. Jika kamu ingkar, ketahuilah milik Allah-lah segala yang ada di langit dan di bumi. Allah Mahakaya, Maha Terpuji. Milik Allah segala yang ada di langit dan di bumi. Cukuplah Allah sebagai pemeliharanya.” (Q.S. An-Nisā’ [4]: 131-132).

Harta yang dimiliki belum tentu merupakan rezeki, karena rezeki yang sebenarnya adalah makanan yang dimakan, pakaian yang dipakai hingga lapuk, dan harta yang disedekahkan. Rasulullah Saw. bersabda,

Bermegah-megah telah melalaikan kamu. Pada hari kiamat ada manusia yang berseru, ’Mana hartaku! Mana hartaku!’ Padahal kamu tidak memiliki harta kecuali apa yang telah kamu makan, apa yang telah kamu pakai, dan apa yang telah kamu sedekahkan.” (H.R. Muslim).

 

 

  1. Harta sebagai ujian kehidupan

Sesungguhnya, Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan bagi mereka agar Kami menguji mereka, siapa di antara mereka yang paling baik perbuatannya.” (Q.S. Al-Kahf [18]: 7).

Islam tidak melarang kita untuk berburu harta, selama harta tersebut tidak melalaikan kita. Bahkan Islam memerintahkan kita untuk rajin berzakat dan berinfak. Ini isyarat bahwa kita diperintahkan untuk pandai mencari harta, sebab bagaimana mungkin kita bisa berzakat, bersedekah, dan berinfak kalau kita tidak mempunyai harta.

 

Namun sayang dalam realitasnya, tidak sedikit manusia yang menghalalkan segala cara demi harta. Ibadah pun terlalaikan, bahkan persahabatan dan persaudaraan pun retak gara-gara harta. Nah, inilah yang dilarang Islam. Hati-hati, harta itu ujian. Jangan sampai harta melalaikan kita untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

 

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Jangan berbuat begitu! Kelak, kamu akan mengetahui akibat perbuatanmu itu. Janganlah berbuat begitu! Kelak, kamu akan mengetahui. Sekali-kali tidak! Sekiranya kamu mengetahui dengan pasti, niscaya kamu benar-benar akan melihat Neraka Jahim, kemudian kamu benar-benar akan melihatnya dengan mata kepala sendiri, kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan yang diterima ketika di dunia.” ( Q.S. At-Takašur [102]: 1-8).

 

 

  1. Harta sebagai perhiasan dunia

Mencintai harta adalah bagian dari fi trah manusia karena harta merupakan perhiasan dunia. Hal yang terindah adalah apabila kita mampu menjadikan perhiasan dunia sebagai sarana taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Swt.

Telah ditanamkan pada manusia rasa indah dan cinta terhadap wanita, anak-anak, harta yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan lahan pertanian. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.“ ( Q.S. Āli ‘Imrān [3]: 14).

 

 

Kita dianjurkan untuk menggunakan harta secara proporsional, yakni tidak pelit namun juga tidak boros alias bersikap pertengahan.

 

 

“…Janganlah menghambur-hamburkan hartamu secara boros. Sesungguhnya, para pemboros itu adalah saudara setan dan setan sangat ingkar kepada Tuhannya.” (Q.S. Al-Isrā’ [17]: 26-27).

 

 

Orangorang yang tidak berlebihan apabila menginfakkan harta dan juga tidak kikir. Mereka ada di antara keduanya secara wajar.” (Q.S. Al-Furqān [25]: 67).

 

Demikianlah tiga karakter harta: harta sebagai titipan Allah Swt., harta sebagai ujian, dan harta sebagai perhiasan dunia. Usahakan agar kita tidak terperdaya oleh harta, karena itu Allah Swt. mengingatkan pada ayat 5-7 surat Al Lail ini,

 

Barang siapa memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala terbaik, maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kebahagiaan”.

 

 

Jadi harta mana yang sudah kita maknai? . [ ]

5

Disarikan dari buku “ TAFSIR KONTEMPORER “ karya Dr.Aam Amiruddin, MSi

 

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

860

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

(Visited 153 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment