Tips Mengajak Anak Rajin Ibadah, Pahami Dulu Dua Hal Ini

PERCIKANIMAN.ID – – Setiap orangtua pasti menginginkan anak-anaknya rajin dan tekun ibadah. Inilah salah satu ciri anak yang shalih dan shalihah. Namun orangtua terkadang kesulitan mengajak mereka demikian. Untuk itu coba perhatikan dua hal berikut ini,

 

 

  1. Karakter dan minat anak

Setiap manusia itu unik karena memiliki karakter dan minat yang khas pula. Cara pandang mereka terhadap praktik ibadah pun bisa sangat berbeda satu dan lainnya. Sebagian anak senang melakukan shalat karena merasakan manfaatnya, sehingga penanaman pemahaman tentang shalat dan ibadah lainnya bisa diawali dengan berdiskusi mengenai manfaatnya.

 

 

Anak lain mungkin memiliki minat pada sejarah, sehingga cerita mengenai sejarah turunnya perintah shalat bisa menjadi pintu masuk yang baik, untuk menumbuhkan keinginannya untuk shalat.

 

 

Dari sisi karakter, beberapa anak tidak suka diperintah. Semakin diperintah dan dipaksa, ia akan semakin menolak bahkan memberontak. Sementara anak lainnya, lebih suka dan tertarik jika melakukannya bersama-sama, seperti dengan teman atau keluarganya.

 

 

Anak dengan karakter ini akan melakukan apa pun yang dilakukan oleh teman-temannya. Jika orangtua mampu mengenali karakter dan minat anak, tentunya tidak sulit dan akan menyenangkan untuk mengajak mereka melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak biasa mereka lakukan, dan tentunya, tanpa perlu terjadi konflik.

 

 

Cara pendekatan yang disesuaikan dengan karakter dan minat anak tampaknya bisa menjadi kunci yang mempermudah munculnya motivasi internal dalam diri anak sehingga mau menjalankan ibadah dengan ikhlas, tanpa perlu dipaksa atau diperintah.

 

 

  1. Momen (waktu), kondisi, dan cara penyampaiannya.

 

“Kapan” dan dalam kondisi seperti apa orangtua menyampaikan aturan, atau mengingatkan anak beribadah, ternyata juga membawa pengaruh. Coba ingat-ingat, kapan biasanya kita menanyakan atau mengecek anak-anak soal ibadahnya (shalat dan mengajinya). Sebagian besar dilakukan sesaat setelah kita tiba di rumah, bukan?

 

Sesampainya di rumah, begitu pintu dibuka dan melihat wajah si sulung, tak jarang kita langsung menghujani mereka dengan serangkaian pertanyaan seperti peluru yang sudah sejak tadi ingin dimuntahkan tanpa kendali. “Sudah makan?

 

 

Sudah belajar? Ada pe-er? Sudah shalat ? Ngajinya sampai dimana…?” dan berbagai pertanyaan lain yang sejenis, tanpa kita melihat dan memperhatikan apa yang saat itu sedang dilakukannya, atau lebih jauh bagaimana perasaannya saat itu.

 

 

Jawaban yang kita dapatkan bisa merupakan jawaban yan kita inginkan, seperti ”Sudah, Bu!”. Padahal, tidak jarang jawaban tersebut hanyalah jawaban spontan sekenanya yang anak ucapkan bahkan tanpa menatap yang disusul dengan segera meninggalkan kita, sebelum ia harus mendengar omelan yang lain.

 

 

Jika jawaban yang keluar tidak sesuai yang kita harapkan, kita pun dengan otomasis mulai meluncurkan beragam nasihat, mengungkit kejadian serupa yang lalu, memperingatkan dengan ancaman, sampai memberikan label negatif yang pada akhirnya justru membentuk pribadi mereka menjadi persis seperti yang di-”label”-kan tersebut.

 

 

Cermati kembali kapan kita mengingatkan dan mengevaluasi kebiasaan ibadah yang sudah anak-anak lakukan sehingga apa yang sudah diupayakan tidak sia-sia. Kenali situasinya sehingga kita dapat menemukan momen yang tepat agar evaluasi mengenai ibadah sehari-hari ini tidak menjadi saat-saat yang dihindari oleh anak-anak yang justru akan mempersulit kita mengoreksi atau meningkatkan kualitasnya.

 

 

Selain waktu dan kondisi yang tepat, cara penyampaian pun tidak kalah penting. Banyak hal positif dan bertujuan baik, tetapi tidak dapat diterima dan tidak membawa dampak positif hanya karena penyampaian yang salah. Nada tinggi, pernyataan yang diulang-ulang, sikap menyerang atau bahkan “menuduh” kerap menutup pikiran anak yang justru memancing sikap penolakan dari mereka.

 

 

Cara berkisah, bergurau, mengamati langsung, atau merefleksikan pengalaman jauh lebih mudah diterima anak dibandingkan sekadar menceramahi. Gali pemahamannya dengan pertanyaan kritis yang akan mengajak anak untuk berpikir untuk mengasah kemampuannya dalam menalar. Selamat mencoba [ ]

Disarikan dari buku “GOLDEN PARENTING” karya Dr.Aam Amiruddin M.Si

5

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

860

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

 

(Visited 146 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment