Cinta Dalam Rumah Tangga Mulai Rapuh ? Ini yang Harus Ditempuh

Oleh: Ust.Aam Amiruddin*

 

 

PERCIKANIMAN.ID – – Sehebat , sesubur dan sekuat apa pun akar sebuah pohon atau tanaman maka ketika tidak disiram air atau terkena hujan, lambat laun ia akan layu juga.Demikian cinta dalam rumah tangga antara suami dan istri.  Tidak selamanya cinta bersemi dalam diri pasangan suami istri terus subur dan berbunga seperti saat pertama saling mencinta hingga berumah tangga. Ada kalanya, salah satu atau keduanya mengalami kebosanan dan kejenuhan.

 

 

Ya, rasa tersebut bisa saja mengalami pasang surut, bahkan mungkin layu apabila tidak dirawat dan diperhatikan. Karenanya, kita berkewajiban menjaga dan merawat cinta dan kasih tersebut agar tidak sampai layu, apalagi mati.

 

 

Sebagai  seorang muslim meyakini bahwa menikah adalah ibadah, maka sudah seharusnya suami istri berlomba mewujudkan samara dan saling membahagiakan. Saling menunjukkan kehangatan tanpa ada sekat pembatas. Saling rindu kala beberapa jam saja tak bertemu. Saling mendukung kala melangkah.

 

 

Saling menginspirasi dalam kebaikan. Saling memotivasi untuk bermanfaat bagi orang lain. Saling menguatkan kala badai menerpa. Bukan sebaliknya, saling melemahkan, membenci, memudarkan semangat bahkan mencaci dan mengeluarkan kata-kata buruk.

 

 

Dua orang ilmuwan, Dr. Conell Kwan dan Dr. Malvin Condore, menilai bahwa sangat logis dan manusiawi jika seseorang mengalami titik jenuh dan kebosanan dalam hidupnya. Masa-masa penuh gelora cinta dan rindu yang tidak tertahankan sebelum nikah dan beberapa saat setelah menikah, lambat laun akan berkurang tensinya meski tidak total tergerus dari dada mereka.

 

 

Ketika hilang kerinduan dan kehangatan istri, seorang suami sebenarnya bisa melakukan introspeksi total. Mencari penyebab dibaliknya. Apakah karena istri yang memperturutkan perasaan dan hawa nafsu, ataukah  justru sikap suami yang berubah dan membuat resah istri.

 

 

Bisa jadi seorang suami telah melakukan pelanggaran komitmen bersama, hingga mengganggu hati istri. Seorang suami yang baik tentu bisa ” membaca” sang istri meski hanya sekedar dari bahasa tubuh dan tatapan mata. Rasulullah pernah bersabda,

 

 

Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya terhadap istri-istrinya.” (HR. Tirmidzi).

 

 

Bagaimana caranya? Sebagai seorang muslim, kita memiliki role model yang semua perilakunya harus kita contoh, termasuk dalam menjaga bara cinta dan kasih pasangan suami-istri agar tetap menyala. Ya, beliau adalah Muhammad, Rasulullah Saw. Selain seorang nabi, beliau juga seorang suami yang begitu romantis.

 

 

Dalam beberapa hadits dikisahkan bahwa hubungan Rasulullah Saw. dengan istri-istrinya dipenuhi dengan kelembutan. Beliau tidur satu selimut, mandi berdua, mencium istrinya sekalipun dalam keadaan berpuasa, serta bercumbu rayu sekalipun dalam keadaan haid.

 

 

Hal ini tercantum dalam sebuah hadits dari Ummu Salamah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, “Rasulullah mencium (istrinya) dalam keadaan beliau berpuasa.”

 

 

Bahkan, Ummu Salamah bercerita kepada Zainab, putrinya, bahwa Rasulullah Saw. menciumnya dalam keadaan berpuasa dan dia pernah mandi bersama bersama Rasulullah Saw. dalam keadaan junub.

 

 

Bukan hanya itu, Rasulullah Saw. pun sering menyenangkan istrinya dengan cara minum dan makan dari peralatan (makan) bekas istrinya seperti yang diceritakan oleh Siti Aisyah r.a. dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.

 

 

Itulah cara Rasulullah Saw. dalam merawat cinta kepada para istrinya. Meski terlihat sederhana, hal tersebut patut dicontoh untuk menggelorakan kembali atau menjaga cinta dan kasih sayang kita kepada pasangan.

 

Salah satu cara lain dalam mengembalikan perasaan cinta diantara suami dan istri adalah dengan berjalan berdua mengenang sejenak nostalgia diawal pernikahan dulu. Datangi tempat yang dulu pernah Anda datangi berdua dan nikmati kembali suasana romantisnya. Kenanglah sejenak bahwa ditempat itu dulu Anda berdua begitu bahagianya.

 

Untuk kegiatan ini, Anda harus rela meninggalkan anak-anak sejenak di rumah atau di rumah neneknya. Nikmati waktu seharian hanya berdua saja. Kemudian rasakan getaran cinta seperti saat awal Anda bertemu dan kini buah cinta Anda tersebut telah tumbuh dan bermekaran menjelma anak-anak yang shalih dan shalihah. Karenanya rawatlah cinta itu agar tidak terus rapuh hingga lapuh.

 

*Disarikan dari buku “MENGAPA MENUNDA NIKAH? “ karya Dr.Aam Amiruddin,M.Si

 

Nah,  sebagai informasi, bagi sahabat-sahabat, ikhwan akhwat dan mojang bujang sekalian khususnya yang hendak menikah atau merencanakan akan menikah, Anda dapat mengikuti acara pelatihan atau seminar pra nikah yang bertema “ INSYA ALLAH SAYA SIAP MENIKAHtanggal Sabtu, 29 September 2018 ini.

 

Selama sehari Anda akan belajar tentang persiapan menikah, tips memilih pasangan, mengetahui hak dan kewajiban suami istri, cara menyelesaikan problematika rumah tangga dan berbagai hal lainnya.

 

Selain saya juga ada dari kalangan psikolog dan motivator dan perencana keuangan keluarga (financial planner) sehingga materinya insya Allah akan lengkap.  Semoga, nanti setelah mojang bujang mengikuti pelatihan ini dapat ilmu dan kemantapan dalam mengarungi rumah tangga serta menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan penuh rahmah. Wallahu A’lam bishsawab. [ ]

 

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

780

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

 

(Visited 891 times, 2 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment