Tidak Sreg Acara Pengajian Dekat Rumah, Begini Sikap Kita

0
240

 

Assalamualaikum Pak Ustad, sebagian besar pengajian di dekat rumah melakukan sesuatu yang tidak sreg dengan saya? Bagaimana dengan pengajian seperti itu itu, apakah saya boleh tidak ikut. Mohon nasihatnya (Diah via e-mail)

iklan

 

 

 

Waalaikumsalam wr wb. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Sayangnya Anda tidak menyebutkan hal atau sebab apa Anda tidak sreg dengan kegiatan pengajian tersebut. Apakah menyangkut hal yang prinsip atau sekedar ritual atau kultur saja.

 

Namun menurut hemat saya, memang masing-masing daerah atau kadang masjid punya style sendiri untuk melakukan pengajian. Yang harus Anda lakukan adalah mendengarkan saja ceramah yang disampaikannya.  Atau misalnya begini, ketika sebelum memulai pengajian ada ritual-ritualnya dulu seperti shalawatan,Yasinan dan yang lainnya. Kalau Anda tidak berkenan, Anda tidah perlu ikutan dulu. Tapi begitu ada tausyiahnya ada ceramahnya baru Anda dengarkan. Karena pepatah,

 

“Undzur maa qoola walaa tandzur man qoola”

“Lihat apa yang disampaikan namun jangan lihat siapa yang menyampaikan.”

 

Artinya selama yang keluar dari lisannya itu kebenaran seandainya yang keluar dari lisannya itu mutiara, kita tidak perlu melihat siapa yang berbicara, yang penting apa yang disampaikannya penuh kebenaran, penuh pencerahan. Ini nasehat Ali bin Abi Thalib.

 

Misalnya saya tidak menyukai seseorang, tapi omongannya selalu benar, omongannya ilmunya banyak, bijak dan sebagainya. Ya sudah diambil omongan itu, urusan kelakuan buruknya itu urusan dia sama Allah SWT. Kita ambil baiknya saja.

 

Nah sekarang Anda tinggal di suatu daerah yang mungkin Islam nya juga terpengaruh dengan adat atau budaya disana, sehingga Anda kurang sreg, boleh tidak diikuti. Tapi kalau ada yang ceramah menyampaikan pesan-pesan kebaikan berdasarkan Alquran dan Hadits Nabi Saw yang shahih, Anda perlu dengarkan

 

 

“Alhikmahtu dhollatul mukmiin” kata Rasul Ilmu itu adalah sesuatu yang berharga bagi seorang mukmin, dari siapapun kita mendapatkannya.”

 

Contoh ada orang Ateis berbicara kepada Anda, “Sehebat apapun kita Sesukses apapun kita, pasti ada orang dibelakang kita yang membuat kita menjadi sukses seperti sekarang ini.” Kira-kira omongannya perlu diambil tidak? Ya perlu. Walaupun yang menyampaikan itu orang Ateis, jika memang benar yang diampaikannya. Kita ambil pelajaran.

 

 

Beda lagi ketika ada seorang Ustad atau Ustadzah, tapi dalam ceramahnya dia bilang seperti “Pokoknya Ibu Bapak, kalau ngaji disini saja , tidak perlu ke tempat yang lain. Ngaji sama saya saja dijamin benar Islam nya.” Ya Anda jangan denger omongan seperti itu. Itu omongan syaitan, karena syaitan itu selalu mengahalangi kita dalam kebaikan.  Makanya kembali lagi, Lihat apa yang disampaikannya bukan siapa yang menyampaikannya, seperti nasihat Ali bin Abi Thalib.

 

 

BACA JUGA: Membuat Komitmen Ketika Mengikuti Pengajian, Bolehkah?

 

 

Intinya selama yang disampaikan itu kebenaran berdasarkan Alquran dan Hadits Rasul, dengarkan dan ikuti tausyiahnya. Kalau sekedar ada tambahan sebelum atau pengajian yang sifatnya kultur saja bukan dari ibadah, Anda boleh tidak ikut.  Bangun dan jaga ukhuwah islamiyah, itu lebih utama dari pada Anda meninggalkan pengajian karena mungkin masalah pribadi saja.

 

 

Tetapi kalau yang disampaikan sudah menyimpang dari ajaran Islam, menafsirkan Alquran semaunya sendiri, membuat aturan atau syariat sendiri, menganggap orang Islam diluar jamaahnya sesat tanpa dalil yang shahih dan yang lainnya maka Anda boleh tidak ikut pengajian tersebut. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu’alam bishshawab. [ ]

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

980

 

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]animan.org  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman