Agar Anak Taat Aturan, Lakukan 5 Hal Ini

 

 

PERCIKANIMAN.ID – – Mengapa ada anak yang bisa begitu saja nurut pada orangtua, tapi ada juga anak yang susah nurut? Mengapa ada anak yang saat orangtuanya berkata “tidak” atau menolak membelikan mainan atau es krim sekali saja, bahkan sambil senyum, ia tidak menangis, tidak teriak, dan tidak guling-guling? Mengapa ada anak yang bisa taat pada aturan yang telah dibuat, tapi ada juga anak yang tidak menaatinya?

 

Ada banyak orangtua yang mengeluh bahwa mereka sudah memberi aturan, tapi anak terus melanggar aturan tersebut.  Anak-anak yang tidak taat aturan setidaknya disebabkan beberapa faktor besar. Dan, jika Anda menginginkan anak taat aturan, atasi faktor-faktor penyebab tersebut.

 

  1. Aturannya berlebihan, terlalu tinggi, tidak sesuai usia anak

Contoh, melatih anak batita untuk membereskan mainan setelah bermain adalah positif. Tetapi, menetapkan aturan membereskan mainan sebagai kewajiban untuk anak batita adalah berlebihan.

 

Sebab, mereka belum dapat memahami abstraksi dari tanggung jawab karena konsep berpikir mereka masih konkret dan sederhana. Melatihnya boleh, tapi memaksanya untuk membereskan mainan sebagai sebuah aturan adalah berlebihan.

 

Hal lainnya, kadang, sebagian orangtua semakin sulit mengendalikan anak karena mereka berfokus pada perilaku anak, bukan pada kebutuhan anak. Saat anak rewel, sebagian orangtua berusaha mengatasinya dengan terus berkata, “Jangan rewel terus, dong”, bukan mencari penyebab anak rewel. Seharusnya, orangtua fokus pada kebutuhan anak yang tidak terpenuhi yang membuat dia jadi rewel.

 

  1. Tidak Melibatkan Anak

Ini hukum universal tentang pengambilan keputusan: Seseorang akan lebih berenergi jika dia melaksanakan keputusan yang dibuatnya sendiri. Seseorang akan sangat sulit memerangi keputusan yang dibuatnya sendiri.

 

Pun demikian dengan anak-anak. Pada saat anak sudah dapat diajak bicara, pengambilan keputusan mengenai batasan-batasan, aturan-aturan, serta konsekuensi yang terbaik adalah yang melibatkan anak di dalamnya. Bila dilibatkan, anak akan lebih bertenaga dan terpacu menaatinya. Anak akan malu jika tidak melakukannya. (Lihat Surat Aś-Śāffāt [37]

 

Misalnya Anda katakan, “Menyimpan handuk itu pada tempatnya. Jika tidak pada tempatnya, handuk bisa cepat kotor, lembab, dan akhirnya jamuran. Yang rugi kamu sendiri, kan? Coba kasih tahu Mama, apa yang ingin kamu lakukan agar kamu selalu ingat untuk menyimpan handuk pada tempatnya?”

 

Mengajak anak bicara tidak berarti kita menuruti semua yang anak inginkan. Mengajak anak bicara berarti membuka ruang ide dari anak yang rasional dan memudahkan penerimaan di pihak anak. Dengan mengajak anak bicara seperti contoh-contoh tersebut, Anda berarti mencari solusi-solusi konkret untuk menyelesaikan masalah-masalah perilaku anak sebelum mengedepankan hukuman-hukuman.

 

  1. Tidak disertai konsekuensi

Setiap aturan membutuhkan konsekuensi agar ditaati. Aturan tanpa konsekuensi bagaikan macan tanpa gigi. Aturan yang sudah dibuat, bila tanpa disertai konsekuensi, tidak akan punya kekuatan apa pun.

Misalnya, Anda membuat aturan anak hanya boleh nonton televisi selama 2 jam sehari. Nah, apakah Anda juga membuat konsekuensi jika anak melebihi batas yang sudah ditentukan? Jika tidak ada konsekuensi, apa yang akan orangtua lakukan jika anak melanggar?

Berbeda jika ada konsekuensi. Meski tidak otomatis membuatnya langsung taat (karena bergantung konsistensi orangtua), anak akan merasakan rugi jika mereka mencoba melanggarnya. Misalnya, “nonton televisi boleh, tetapi batasannya 2 jam”, itu aturan.

Bentuk konsekuensi dari aturan tersebut misalnya, “yang melanggar batasan, melebihi 1 menit saja dari waktu yang sudah ditentukan, maka hak nonton televisinya dicabut selama 2 hari”. Hal ini tentu akan lebih berdampak pada anak dibandingkan dengan aturan yang tidak memiliki konsekuensi sama sekali.

 

  1. Inkonsisten

Ketidakpercayaan akan menyulitkan seseorang untuk melaksanakan apa yang diminta (taat). Salah satu penyebab ketidakpercayaan adalah sikap inkosisten (tidak konsisten). Sayangnya, sikap ini nyata-nyata kerap dilakukan orangtua.

Jadi, bagaimana anak akan mempercayai dan mematuhi orangtua sementara perkataan orangtua sendiri tidak bisa dipegang? Perilaku tidak konsisten orangtua biasanya dimulai dari hal sepele.

Contohnya, anak ingin beli mainan di supermarket, tapi orangtua menolak membelikannya. Setelah ditolak, apakah anak akan langsung nurut begitu saja? Tidak, dong! Ia akan berusaha “berikhtiar” untuk mewujudkan keinginannya. Ikhtiar anak yang paling minimum adalah memasang muka cemberut, merengek, atau menangis.

Lalu, apa yang orangtua lakukan saat anak cemberut, merengek, atau menangis? Mungkin orangtua akan memberikan apa yang anak minta padahal tadi sudah menolaknya, “Ya, sudah sekarang boleh. Nanti lagi nggak boleh kayak gitu. Kalau nanti seperti itu lagi, Mama tinggal, lho!”

Dan, apakah dengan perkataan itu membuat anak tidak akan mengulanginya lagi? Dijamin 100 persen justru orangtua sendirilah yang mengundang anak untuk mengulanginya lagi, lagi, dan lagi.

Bahkan, pada lain waktu, saat orangtua berusaha konsisten, justru anak akan menambah “kualitas ikhtiar” untuk mewujudkan keinginannya. Yang dilakukan tidak hanya akan menangis, tetapi juga berteriak, melengking, selonjoran di lantai, guling-guling, melempar barang, atau memukul orangtua.

Dan, ketika sudah tidak tahan, akhirnya orangtua mengatasinyadengan dua jalan pintas; mencubit anak hingga berhenti atau memenuhi keinginan anak yang tadi sudah ditolaknya (lagi). Mencubit anak bisa berbahaya.

 

  1. Ketidaktegasan

Aturan dan batasan sudah disepakati, konsekuensi sudah disiapkan, dan orangtua pun tak pernah berbohong dan ingkar janji. Apakah anak langsung nurut begitu saja saat orangtua berusaha menghentikan perbuatan buruk anak melalui nasihat dan perkataan?

 

Modal besar agar anak-anak dapat taat aturan dan batasan-batasan terhadap nilai-nilai yang kita anut dalam keluarga adalah ketegasan. Tanpa ketegasan, aturan hanya semacam formalitas semata. Lihat saja peraturan daerah (perda). Banyak yang hanya sampai diputuskan, tapi berapa banyak aturan yang benarbenar ditegakkan?

 

Sebagai contoh, banyak kota besar di Indonesia yang punya perda larangan merokok di tempat umum. Silakan Anda tunjukkan kepada saya, kota mana yang berhasil melaksanakannya? Tidak ada.

 

Alasannya, karena tidak disediakannya perangkat untuk menegakkan perda tersebut yang menunjukkan tidak adanya ketegasan dari pemerintah daerah itu sendiri. Ketika tidak ada ketegasan, maka jangan harap masyarakat mau menaatinya. Saya sering menanyakan hal berikut kepada peserta seminar dan pelatihan yang saya helat dan sekarang akan saya tanyakan juga kepada Anda.

 

Menurut Anda, mayoritas masyarakat kita disiplin atau tidak dalam hal berlalu lintas, membuang sampah, atau perilaku-perilaku yang berhubungan dengan kepentingan publik lainnya? Saya tidak tahu pendapat Anda. Itu saya serahkan pada Anda. Yang jelas, ketika saya tanyakan ini kepada ribuan orang, hampir seluruhnya menjawab bahwa mayoritas orang Indonesia tidak disiplin!

 

Penyakit kebanyakan orangtua saat anak berbuat buruk adalah banyak ngomong dan akhirnya jadi banyak emosi. Padahal, ketegasan tidaklah sama dengan banyak ngomong. Memangnya, seberapa efektif omongan dan nasihat akan didengar anak agar menghentikan perbuatan buruk mereka?. [ ]

 

Disarikan dari buku “Mengajarkan Kemandirian kepada Anak” tulisan  Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari

5

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

980

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

 

(Visited 208 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment