Cara Menyikapi Label Halal Yang Meragukan

0
187

Assalamualaikum, Pak Ustad. Saya pernah mendengar seorang mantan misionaris yang sekarang masuk Islam membongkar semua tata cara permutadan terhadap umat Islam yaitu dengan menghipnotis, memberikan uang, bahkan mencampurkan babi kedalam makanan. Dan ternyata tidak hanya satu makanan tetapi banyak makanan dari mulai makanan bayi sampai makanan orang dewasa. Namun label halalnya masih tercantum, Bagaimana menyikapinya Pak Ustad? Mohon pencerahannya. ( Diva via email)

 

iklan

 

 

Wa’alaykumsalam ww. Bapk ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Tentu kita patut prihatin dan waspada atas kabar tersebut. Namun kalau berbicara tentang makanan yang sudah jadi, makanan yang sudah ada di toko-toko, kita percaya saja pada apa yang dilakukan oleh majelis ulama dalam hal ini LPPOM MUI.

 

 

Ketika makanan yang benar-benar halal itu adalah yang sudah berlabel MUI maka sebaiknya kita percaya saja. Jadi kita tidak perlu bersuudzon terlalu jauh bahwa makanan yang berlabel halal pun masih mengandung babi. Menurut saya kita tidak boleh terlalu berlebihan.

 

 

Saya yakin majelis ulama masih memegang teguh pada amanah untuk memberikan sertifikat halal bukan kesembarang pada produsen makanan. Mereka mempunyai tenaga ahli untuk melihat pabriknya secara langsung, meneliti bahan-bahan makanan yang akhirnya mereka mengeluarkan label halal untuk makanan yang memang sudah diteliti oleh mereka.

 

 

Bahwa kemudian dilapangan ada perusahaan makanan yang nakal setelah mereka diperiksa kemudian dia memasukkan, ini diluar tanggung jawab kita, dan ini tidak akan mengurangi rasa keimanan kita. Menurut saya perusahaan yang seperti ini kecil, sangat kecil kemungkinannya. Karena mereka juga perlu menjaga reputasi produksinya. Apalagi perusahaan-perusahaan yang sudah ternama, mereka memanipulasi dengan cara makanan halal itu dicampurkan dengan bahan-bahan yang tidak halal.

 

 

Memang kita harus menghindari makanan haram itu sudah wajib, namun menurut hemat saya bukan berarti kita terlalu berlebihan bahkan sampai menaruh curiga tanpa dasar. Kita lihat saja kalau Anda mau membeli makanan atau ke restoran yang sudah ada label halal, Bismillah. Anda mau beli camilan, kalo sudah ada label halal, ya Bismillah saja.

 

 

Kemudian terkait dengan memurtadkan seseorang dengan cara menghipnotis. Orang kalau dihipnotis, dia tentu saja dibawah sadar. Sesuatu yang dia lakukan dibawah sadar tentu saja tidak dilakukan secara berulang-ulang. Ada orang yang terkena hipnotis, dia dimurtadkan itu seperti mimpi saja tapi tidak kemudian menjadi murtad.

 

 

Menurut hemat saya, kalau dia di hipnotis dan mengaku murtad dalam keadaan pengaruh hipnotis, itu tidak bisa dikatakan dia telah murtad. Karena dia sedang di bawah sadar dan segala perbuatannya atau pun ucapannya tidak bisa dihukumi.

 

 

Jadi itu, kita memang harus waspada terhadap segala sesuatu, tapi bukan berarti jadi paranoid atau ketakuatan yang berlebihan. Jadi paranoid, nah itu salah. Lihat makanan di toko jadi paranoid, lihat orang dijalan jadi paranoid takut dihipnotis.

 

 

Nah itu kan jadi salah, nanti kitanya jadi sakit dengan cara begitu. Kita harus bersikap wajar saja. sekalipun yang bilang itu seorang misionaris. Siapapun yang berbicara mau ustad, mau doktor, mau kyai, ya kita logis saja.

 

 

BACA JUGA: Orang Tua Menganggap Dirinya Selalu Benar, Bolehkah Menentangnya ?

 

 

Walaupun dia Ustad atau Ustadzah tapi ketika Dia sudah ngomongin orang, itu sama saja seperti Dia memakan bangkai saudaranya sendiri. Tidak seperti “dia kan ustad, dia kan ustadzah, dia kan misionaris yang sekarang jadi Ustad”, tetap saja ketika dia membicarakan orang lain tetap saja seperti yang Allah firman kan dalam surat Al-Hujuraat ayat 12:

 

 

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”

 

 

 

Ayat tersebut ditunjukkan kepada siapapun. Anda tidak usah tertipu dengan atribut dia sebagai Ustad atau Ustadzah. Kita lihat pembicaraannya masuk akal tidak, ngomongnya sesuai aturan agama tidak? Kalau tidak sesuai aturan agama, Dia bukan lagi Ustad atau Ustadzah. Itu sudah termasuk kedalam rujukkan Syaitan yang membawa pada keburukkan.

 

 

Nah itu saya katakan bahwa kita harus kritis. Kembali lagi ke permasalahan awal, ketika ada seorang misionaris yang telah bertaubat bilang bahwa “makanan ini mengandung babi, makanan itu mengandung babi” maka bisa dikatakan itu tidak logis jika memang makanan tersebut sudah berlabel halal. Karena MUI pasti berhati-hati dalam memberikan sertifikat halal pada makanan-makanan tertentu supaya tidak terjerumus terhadap yang haram.

 

 

 

Jadi, sekali lagi Saya tekankan bahwa kita harus belajar kritis dan logis, Ustad, Kyai ataupun orang yang bertobat tidak lepas dari salah, dia bisa menggosip, dia bisa memfitnah, dia bisa menyebarkan keburukkan. Makanya kita sebagai umat harus memahami secara kritis. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu’alam bishshawab. [ ]

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

863

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman