Idul Adha 2018 Berbeda Dengan Arab Saudi, Kapan Puasa Arafahnya ?

Assalamu’alaykum. Pak Aam, sebagaimana yang kita ketahui sepertinya tahun ini pelaksanaan Idul Adha akan berbeda dengan Arab Saudi. Bagiamana sebaiknya untuk puasa (shaum) Arafahnya, ikut Saudi atau Pemerintah Indonesia yang berbeda satu hari? Mohon penjelasannya ( Isnayatun via fb)

 

 

 

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Memang benar nampaknya pelaksanaan Idul Adha 2018 ini akan berbeda satu hari antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Arab Saudi. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama (Kemenag) yang telah menggelar sidang isbat akhir pekan lalu menetapkan bahwa Idhul Adha akan jatuh pada hari Rabu (22/8/2018).

 

 

Sementara Pemerintah Kerajaan Arab Saudi menetapkan bahwa Idul Adha akan jatuh pada hari Selasa (21/8/2018) sebab menurut perhitungan mereka, wukuf di Arafah akan berlangsung pada 9 Dzulhijjah yang bertepatan dengan Senin (20/8/2018). Ini jelas ada perbedaan satu hari dengan yang di Indonesia.

 

 

Lalu kapan shaum Arafahnya ?. Perlu diketahui bahwa diperkirakan di Arab Saudi akan memulai ibadah pada 8 Dzulhijjah atau Ahad, (19/8/2018) dan wukuf akan berlangsung pada 9 Dzulhijjah atau Senin (20/8/2018).

 

 

Sementara di Indonesia menurut kalender dan ketetapan pemerintah melalui keputusan sidang isbat Kemenag  wukuf  akan berlangsung 9 Dzulhijjah atau hari Selasa (21/8/2018).

 

 

Patokan untuk melakukan shaum Arafah itu adalah tanggal 9 Dzulhijjah sehingga menurut hemat saya, Anda yang berada di Indonesia sesuaikan dengan tanggal dimana kita berada. Di Indonesia tanggal 9 Dzulhijjah jatuh pada hari Selasa maka Anda puasa Arafahnya pada tanggal tersebut.

 

 

Dalam hadits yang dijadikan rujukan atau dalil tentang puasa baik Ramadhan atau juga Arafah adalah hadits dari Ibnu ‘Umar ra, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

 

Jika kalian melihat hilal, maka berpuasalah. Jika kalian melihatnya lagi, maka berhari rayalah. Jika hilal tertutup, maka genapkanlah (bulan Sya’ban menjadi 30 hari).” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari dan Muslim ).

 

 

Menurut para ulama hadits bahwa hilal yang dimaksud adalah hilal di negeri masing-masing yang jadi patokan atau ukurannya. Inilah yang dimaksud perintah hadits tersebut. Jadi dalil bahwa hilal di negera Indonesia tidak mesti sama dengan hilal di Kerajaan Saudi Arabia, maka hilal lokal itulah yang berlaku atau menjadikan rujukan.

 

 

BACA JUGA: Hukum Qurban Atas Nama Orangtua Yang Sudah Meninggal

 

Jadi tidak mengapa berbeda dengan yang di Arab Saudi. Hal ini dikarenakan ada perbedaan penanggalannya dimana dalam menetapkan tanggal 1 Dzulhijjah pemerintah Arab Saudi jatuh pada hari Ahad (12/8/2018) atau Sabtu sore (11/8/2018) sudah terlihat hilal atau bulan baru. Sementara di Indonesia hilal atau bulan baru, baru terlihat keesokan harinya atau Ahad sore (12/8/2018).

 

 

Ini sebenarnya fenomena biasa, sebab antara Indonesia dan Arab Saudi mempunyai berbedaan waktu. Dengan demikian hilal bulan baru lebih dulu terlihat di Arab Saudi. Jadi menurut hemat saya berbedaan Idul Adha atau khususnya puasa (shaum) Arafah ini tidak perlu diperdebatkan apa lagi saling menyalahkan. Tidak perlu, menyalahkan yang lain dan membenarkan kelompoknya atau ormasnya. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu’alam bishshawab. [ ]

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

980

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

 

(Visited 3,034 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment