Anak Sebagai Ujian, Begini Cara Menyikapinya

Assalamu’alaykum Pak Aam, saat ini saya sering bertanya pada diri saya, apakah saya bisa menjadi Ibu yang baik. Akhir-akhir ini pun itu menjadi tanda tanya besar karena saya merasa gagal mendidik anak saya. Anak laki-laki pertama saya berusia 10 tahun, kelakuannya sering membuat saya emosi dan selalu menguji kesabaran saya. Ia susah sekali untuk nurut, untuk solat dan belajar dan itu berpengaruh ke akademis sekolahnya yang pas-pasan. Berbeda betul dengan adiknya yang perempuan. Bagaimana cara mengendalikan emosi, dan apakah ciri anak yang dikatakan sebagai ujian itu? Bagaimana menyikapinya? (Iis via email)

 

 

Wa’alaykumsalam ww. Ibu Bapak dan saudara-saudara yang dirahmati Allah. Kalau kita lihat didalam Qur’an, anak itu memang ada tiga kemungkinan. Pertama, anak itu bisa jadi Zinatul Hayat (perhiasan dunia), maksudnya menjadi kebanggaan. Ada anak yang memang bikin bangga orang tua, di sekolah selalu berprestasi, selalu mendapat pujian dari orang banyak, orang tuanya selalu tersanjung dengan perilaku anaknya.

 

 

Kedua, ada juga anak yang menjadi Fitnatun (sumber penderitaan). Banyak orang tua yang sakit karena perilaku anak, banyak juga yang kecewa dengan perilaku anak. Dan yang ketiga ada anak yang Qurrata’ayun (penyejuk hati), nah ini kaitannya dengan masalah yang bersifat keagamaan. Jadi ketika kita punya anak yang sudah baligh itu sudah tidak usah disuruh lagi untuk solat, dia akan solat sendiri, shaumnya sudah rajin, tetapi prestasi duniawinya biasa-biasa saja. Tapi anak itu secara ukhrawi ia menyejukkan, nah itu namanya Qurrata’ayun.

 

 

Ada orang yang mempunyai anak dengan dua gelar, Zinatul Hayat dan Qurrata’ayun. Jadi ada anak yang sukses secara duniawi dan soleh secara ukhrawi. Bapak Ibu dan saudara semuanya, kita adalah anak bagi orang tua kita, berusahalah kita untuk memiliki dua gelar tersebut. Tapi kalaupun secara duniawi kita tidak bisa membanggakan orang tua, minimal kita ini bisa menjadi Qurrata’ayun (penyejuk hati orang tua).

 

 

Nah ibu diberi ujian kebaikan yaitu anak perempuan yang membanggakan, tapi anak yang laki-laki selalu bikin emosi, itu ibu memang diuji dengan penderitaan. Kalau ibu lihat surat Al-Anbiya ayat 35,

 

 

Setiap makhluk bernyawa akan merasakan mati. Kami akan mengujimu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.”

 

 

Hidup itu kadang tidak sesuai dengan yang kita inginkan, hidup itu seperti yang kita jalani. Kita inginnya anak itu lurus-lurus dan baik-baik saja, tapi kan hidup tak seperti yang kita inginkan. Nah tugas kita adalah ikhtiar, karena seperti dalam surat Al-Anbiya ayat 35 diatas, maknanya penting untuk kita renungkan.

 

 

Artinya ketika kita diuji dengan anak yang tidak soleh, justru harus menjadi bekal akhirat, begitupun jika diuji dengan anak yang soleh juga harus menjadi bekal akhirat. Di akhirat, kita tidak ditanya sukses atau tidak, tapi kita akan ditanya apakah kita berikhtiar atau tidak? Dalam mendidik anak yang dilihat adalah usaha dan ikhtiar kita.

 

 

Ibu mempunyai anak yang susah diatur, itu adalah batu ujian. Ibu jalani saja semuanya dan betapa banyak anak yang diusia 10 tahun mengesalkan tapi di usia 18 tahun ia membanggakan. Jadi anak itu jangan divonis buruk diawal, karena banyak juga anak yang setelah dewasa ia malah membanggakan orang tuanya.

 

 

Tugas kita sebagai orang tua adalah jangan berucap yang buruk. Kata Nabi, Allah tidak suka kepada orang tua yang suka melaknat anaknya. Melaknat anak itu seperti omongan yang mengandung keburukan. Walaupun kita kesal sama anak, jangan sampai keluar ucapan yang mengandung doa buruk. Yang harus kita perhatikan sebagai orang tua adalah lisan. Bila merujuk pada surat An-Nisa ayat 9,

 

 

Hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang meninggalkan keturunan yang lemah dibelakang mereka dan khawatir terhadap kesejahteraannya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan berbicara dengan tutur kata yang benar.”

 

 

Perhatikan kalimat, “berbicara dengan tutur kata yang benar”, jadi kalau anda kesal jangan sampai bicara anda melaknat. Lalu jika kita marah, berta’awuz lah, sambil anda kendalikan marahnya. Kalau ternyata anda masih marah, ambil wudhu.

 

 

BACA JUGA: Sumpah Ibu Pada Anaknya, Akankah Dikabul Allah?

 

 

Kalau sudah wudhu masih marah juga, coba anda solat, insya Allah kalau sudah solat, kecil kemungkinannya anda marah-marah. Jadi sebaiknya jika kita bicara pada anak itu diposisi kita sedang bagus, supaya tidak keluar kata-kata yang bersifat melaknat atau sekedar berkata buruk kepada anak. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat.

 

Nah, terkait dengan cara mendidik anak dan seputar kepengasuhan, Anda dan bapak ibu serta sahabat-sahabat sekalian bisa membaca buku saya yang berjudul “GOLDEN PARENTING “. Dalam buku ini ada tips mendidik anak sesuai yang diajarkan Rasul dan orang-orang shalih lainnya. Wallahu’alam bishshawab. [ ]

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

972

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

 

(Visited 556 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment