Membangun Mahligai Rumah Tangga, Dari Sini Datangnya Cinta

PERCIKANIMAN.ID – – Ditilik dari sudut mana pun, cinta selalu menarik untuk dibahas. Sejarah mencatat bahwa sejumlah seniman, teolog, sampai filosof membicarakan cinta dari berbagai perspektifnya, baik dalam bentuk roman, puisi, maupun syair.

 

 

Bahkan, orang-orang menyebut mereka yang tidak tertarik membicarakan cinta sebagai orang yang berjalan dalam kegelapan.

 

Cinta memainkan peran yang urgen dalam kehidupan manusia. Ia merupakan landasan kehidupan perkawinan, pembentukan keluarga, dan pemeliharaan anak-anak.

 

Cinta juga sebagai landasan hubungan yang erat di antara manusia, pengikut yang kokoh dalam hubungan antara manusia dan Tuhannya, sehingga mendatangkan keikhlasan saat menyembah-Nya, mengikuti jalan-Nya, dan berpegang teguh pada syariat-Nya.

 

Cinta merupakan berkah yang dikaruniakan Allah Swt. kepada makhluknya, sebagaimana yang tercantum dalam ayat Al-Quran,

 

Telah ditanamkan pada manusia rasa indah dan cinta terhadap wanita, anak-anak, harta yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan lahan pertanian. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (Q.S. Ali Imran [3]: 14)

 

Memang tak dapat dipungkiri jika cinta merupakan fitrah dari Allah. Namun, bagaimanakah cara menindaklanjuti rasa cinta? Inilah yang menjadi masalah.

 

Apakah tindak lanjutnya berupa hubungan yang tak dibenarkan, misalnya aktivitas pacaran? Ataukah hubungan yang diridhai Allah Swt. dan berpahala, yakni khitbah lalu menikah?

 

Lalu, dari manakah datangnya cinta? Ia datang dari dua pintu, yaitu tatapan dan kekaguman. Melihat pinangan (calon istri) disunahkan dan dianjurkan oleh agama. Perhatikan keterangan berikut ini. Dari Jabir bin Abdillah r.a., Rasulullah Saw. bersabda,

 

Jika seseorang dari kamu hendak meminang seorang perempuan, kalau bisa, melihat lebih dahulu apa yang menjadi daya tarik untuk menikahinya maka hendaklah dilakukannya.” (H.R. Ahmad dan Abu Daud)

 

Berapa takaran cinta yang akurat? Rasulullah Saw. bersabda,

 

Cintailah kekasihmu sekadarnya (secukupnya/sewajarnya) sebab bisa jadi suatu saat dia menjadi musuhmu. Dan bencilah musuhmu sekadarnya, sebab bisa jadi suatu saat dia menjadi kekasihmu.” (H.R. Tirmidzi)

 

Bagaimanakah caranya agar cinta tidak menghantarkan raga ke dalam nista? Bimbinglah cinta dengan rambu-rambu Ilahi. Sabda Rasulullah,

 

Siapa yang cinta karena Allah Swt. dan benci karena Allah Swt. sungguh telah sempurna imannya.”

 

Cinta dalam rumah tangga akan mengantarkannya kepada keharmonisan yang panjang bahkan bukan sekedar berakhirnya dunia melainkan bersamanya hingga ke surga-Nya. Namun itu semua perlu dipupuk dan dijadikan landasan dalam meraih ridho-Nya. [ ]

 

Disarikan dari buku “ MEMBINGKAI SURGA DALAM RUMAH TANGGA “ karya Dr.Aam Amiruddin, M.Si

5

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

980

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

(Visited 343 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment