Syarat Sah Sholat Jum’at, Haruskah Berjumlah 40 Orang?

Assalamu’alaykum Pak Aam, saya sholat Jum’at di satu daerah yang kebetulan masjidnya kecil dan jamaahnya kurang dari 40 orang. Saya melakukan sholat Jum’at seperti biasa. Yang saya tanyakan apakah dalam sholat Jum’at adzannya dua kali? Ketika adzan pertama, orang-orang berdiri melakukan sholat, sedangkan saya tidak karena saya biasa hanya melakukan sholat tahiyat masjid dan dengan satu kali adzan. Lalu ketika selesai sholat Jum’at, khotib dan jamaah lainnya berdiri untuk sholat lagi 4 rakaat. Saya tidak mengikutinya, setelah selesai saya menanyakan, jawabannya untuk melengkapi jamaah yang kurang dari 40 orang. Apakah betul jamaah kurang dari 40 orang harus sholat 4 rakaat lagi? Mohon penjelasannya. (Pambudi via email)

 

 

 

Wa’alaykumsalam ww. Bapak Ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Pertama kita harus lihat bahwa adzan untuk Shalat Jum’at itu tidak berbeda dengan adzan untuk Shalat Dzuhur. Sebagaimana yang kita tahu zdzan Dzuhur itu hanya satu kali, maka adzan untuk shalat Jum’at pun demikian yakni cukup sekali saja.

 

 

 

Di zaman khalifah Utsman itu memang pernah diadakan untuk shalat Jumat adzannya sebanyak dua kali.  Tujuannya agar orang-orang yang masih beraktivitas di pasar segera bersiap-siap dan jarak antara adzan pertama dan kedua itu jauh atau tidak berdekatan sehingga ada waktu orang-orang di rumah atau di pasar untuk bergegas pergi ke masjid.

 

 

Nah yang kebanyakan di kita, setelah adzan pertama, orang-orang shalat 2 rakaat lalu adzan lagi. Sepengetahuan saya hal tersebut tidak ada contohnya dari Rasul. Jika ingin adzan dua kali, kasusnya seperti zaman Utsman yang saya ceritakan diatas. Jadi jedanya atau jarak antara adzan yang pertama dengan yang kedua agak lama.

 

 

Jadi adzan Jum’at itu sesungguhnya cuma satu kali. Tentu saya mengatakan seperti ini tanpa mengurangi rasa hormat saya pada orang-orang yang adzan dua kali. Tetap kita hargai dan hormati dan shalat Jumatnya sah.

 

 

Kemudian setelah selesai adzan pertama, anda tidak ikut sholat, itu memang tidak perlu karena anda sudah sholat Tahiyatul masjid. Dalam hadist dikatakan, “Jika kamu masuk masjid sebaiknya kamu sholat dua rakaat jangan duduk dulu”, dengan demikian yang anda lakukan sesungguhnya sudah benar.

 

 

Karena kalau kita Jumatan itu cukup tahiyatul masjid atau bisa juga sholat intidhor yaitu sholat menunggu khatib naik mimbar. Jadi sembari menunggu khatib naik mimbar daripada Anda tidur atau ngobrol, Anda bisa sholat intidhor tersebut.

 

 

Lalu selesai salam sholat Jum’at, dilanjut sholat 4 rakaat seperti dzuhur untuk memenuhi jumlah jamaah, apa betul seperti itu? Sebenarnya tidak mesti seperti itu. Sholat Jum’at itu yang penting ada imam dan makmum, berarti dengan hanya 2 orang saja sholat Jum’at itu sah tidak harus 40 orang. Rasulullah pada saat pertama kali melakukan sholat Jum’at itu tidak berjumlah 40 orang. Tentu yang wajib itu sholat Jum’at harus berjamaah.

 

 

Shalat Jum’at itu adalah kewajiban setiap muslim dengan berjamaah kecuali atau tidak diwajibkan atas 4 orang yaitu budak, wanita, anak kecil dan orang yang sedang sakit.” (HR. Abu Daud)

 

 

Jadi dua orang pun sudah termasuk berjamaah, maka boleh sholat Jum’at dengan 3 atau 10 orang. Tentu saja lebih banyak jamaah itu lebih baik. Kemudian tidak perlu lagi sholat 4 rakaat setelah sholat Jum’at dalam rangka melengkapi jumlah jamaah yang kurang.

 

 

BACA JUGA: Adzan Shalat Jumat, Sekali atau Dua Kali ?

 

 

Kesimpulannya, sholat Jum’at itu dalilnya bukan harus berjumlah 40 orang tapi sholat Jum’at itu harus berjamaah. Yang namanya berjamaah itu ada imam dan ada makmum maka sudah bisa disebut berjamaah. Suatu saat saya ditanya, seseorang yang bersekolah di luar negeri.

 

 

Jadi di kampusnya itu hanya ada 3 orang yang muslim lalu mereka bertanya, bagaimana jika ingin melaksanakan sholat Jum’at, karena mereka tidak mungkin datang ke masjid yang jaraknya hingga 200 km yang mengadakan Jumatan. Saya katakan, sholat berjamaah saja Anda bertiga dengan niat sholat Jum’at. Bagaimana dengan khutbahnya? Tidak khutbah pun tidak apa-apa. Memang salah satu rukun shalat Jumat itu ada khutbahnya, namun sekiranya dalam keadaan darurat maka boleh tidak ada khutbah namun bukan karena disengaja dan sengaja ditiadakan. Sekiranya bisa atau ada waktu untuk khutbah tentu lebih afdhol atau utama.

 

 

 

Dalam kondisi kedaruratan sholat Jum’at nya sah. Sama halnya dengan orang yang terlambat datang ke masjid untuk sholat Jum’at sehingga ia tidak mendengarkan khutbah Jum’at, itu tidak apa-apa. Yang tidak boleh itu menyengaja untuk tidak mendengar khutbah Jum’at. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat.

 

 

Nah, terkait pembahasan bab shalat ini lebih detail berikut dalilnya, Anda, bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian bisa membaca buku saya yang berjudul “SUDAH BENARKAH SHALATKU?“. Didalamnya ada pembahasan bab praktik shalat berikut contoh-contohnya. Wallahu’alam bishawab. [ ]

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

875

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

(Visited 304 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment