Menikah Itu Dengan Orang Yang Dicintai, Ini Alasannya

berdua calon

PERCIKANIMAN.ID – – Sebelum memutuskan untuk menikah dan mengarungi samudra rumah tangga, biasanya seorang pria dan wanita saling mengenal terlebih dahulu. Diharapkan dengan saling mengenal dan memahami sifat dan karakter masing-masing akan timbul perasaan cinta.

 

 

Menikah harus saling mencintai. Artinya, harus ada dimensi yang disukai, dikagumi, atau dibanggakan dari orang yang dicintai. Menikah dengan landasan saling mencintai karena Allah Swt. akan melahirkan sikap yang penuh tanggung jawab di antara suami dan istri. Masing-masing akan memfasilitasi pasangannya menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.

 

 

Aplikasi dari mencintai adalah melalui kemampuan memerhatikan, mengamati secara empiris (ilmiah/proses), terencana, dan terstruktur terhadap yang dicintai, bersikap terbuka sehingga dapat saling berbagi visi dan misi kehidupan di antara keduanya. Nikah merupakan keputusan yang valid (rasional) dalam mentrasformasikan cinta.

 

 

Oleh karena itu, bersikap selektif dalam memilih pasangan hidup dengan dasar saling mencintai karena Allah Swt. yakni dengan menyamakan visi dan misi adalah sikap yang sangat tepat.

 

 

Dalam sebuah syairnya Rumi, seorang tokoh sufi dari Afghanistan mengatakan, “Cinta yang tumbuh atas dasar kebersamaan tidak akan menimbulkan rasa sesal di dunia dan di akhirat. Oleh karena itu, orang bercinta yang hatinya tidak tersentuh oleh kebersamaan akan mudah berkata, ‘Kalau saja saya tidak menjadikan si fulan sebagai kekasih, pasti tidak akan begini.’ Namun, orang yang mendasarkan cintanya kepada rasa kebersamaan, tidak akan merasakan perpisahan, permusuhan, penyesalan, dan celaan di antara mereka.”

 

 

Sesungguhnya rasa kebersamaan inilah yang telah menciptakan keimanan dalam diri sahabat Nabi Muhammad sehingga jiwa mereka tertambat kepada Rasulullah Saw. Rasa kebersamaan ini pula yang mempertebal keimanan orang Islam terdahulu. Banyak sekali pengaruh positif yang timbul dari rasa kebersamaan ini.

 

 

Dalam pengejawantahan cinta, perlu ada kejujuran yakni sikap terbuka dan realistis karena cinta memerlukan kepercayaan. Kepercayaan adalah modal dasar untuk sampai pada tahap cinta, yaitu mencintai karena Allah Swt. dengan cinta atas dasar iman, merasakan aman dan damai. Kedamaian dan keamanan adalah anugerah dari Allah Swt. Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw bersabda,

 

 

Paling kuat tali hubungan keimanan ialah cinta karena Allah Swt. dan benci karena Allah.” (H.R. Thabrani)

 

Kemudian dalam sebuah hadits yang lain Rasul juga bersabda, “Barangsiapa memberi karena Allah, menolak karena Allah, mencintai karena Allah, sempurnalah imannya.” (HR. Abu Daud)

 

 

Cinta tidak akan tunduk pada paksaan. Oleh karena itu, tidak dibenarkan undang-undang yang berupaya merekatkan istri kepada suaminya secara paksa. Jika pasangan itu tidak memiliki perasaan saling mencintai, berarti fondasi kehidupan rumah tangga akan roboh. Terlebih, jika ternyata sang suamilah yang membenci istrinya.

 

 

Hal ini sangat berbahaya karena pihak terpenting dalam hubungan tersebut adalah suami. Dia merupakan pemimpin dalam rumah tangga. Dalam sebuah pesannya seorang penyair menyampaikan,

 

 

“Pada dasarnya, prinsip-prinsip yang dibangun di atas cinta dan jalinan kasih sayang tidaklah mungkin ditegakkan dengan undang-undang secara paksa. Wanita bukanlah pelayan dan bukan pula buruh yang bisa terikat dengan undang-undang untuk tetap di tempat kerjanya karena paksaan sang majikan.”

 

 

BACA JUGA: Hukum Menikah Tanpa Cinta, Boleh atau Teralarang ?

 

 

Untuk itu, jangan menikahkan orang yang tidak saling mencintai atau yang memiliki cinta yang bertepuk sebelah tangan. Begitu pula jangan menikah dengan orang yang tidak dicintai atau menikah karena terpaksa. Sebab cinta tidak bisa dipaksakan dan tumbuh dari hati.

 

 

Jangan pula menikah karena “percobaan” untuk mencintai orang yang sebenarnya tidak dicintai. Dikhawatirkan, pernikahan tersebut tidak akan berjalan harmonis dan berlangsung lama. Jika cinta itu belum hadir, belajarlah untuk mencintainya sebelum menikah, bukan sebaliknya menikah dulu baru mulai belajar mencintainya. Sebab jika gagal mencintai akan lain ceritanya.  [ ]

 

Disarikan dari buku “Membingkai Surga Dalam Rumah Tangga”  karangan Dr.Aam Amiruddin,M.Si

5

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: norman

980

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

 

(Visited 393 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment