Bolehkah Wanita Membatalkan Khitbah ? Ini Penjelasannya

 

Assalamu’alaykum. Pak Aam,apakah wanita yang sudah dikhitbah atau dilamar boleh membatalkan? Mengingat calon ketahuan berakhlak buruk. Bagaimana caranya? Mohon nasihatnya. ( Nenden via fb)

 

 

 

 

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Sebelum seorang wanita dan laki-laki melangsungkan pernikahan, ada hal yang di sunnahkan oleh Rasulullah Saw, yaitu khitbah atau bahasa tren-nya dinamakan lamaran atau tunangan. Ada juga yang menyebutnya dengan istilah tukar cincin.

 

 

 

Khitbah atau lamaran sendiri adalah pernyataan resmi dari pihak keluarga pria terhadap wali atau keluarga wanita untuk dijadikan sebagai istri, atau sebaliknya, pernyataan resmi dari keluarga wanita terhadap keluarga pria untuk dijadikan sebagai suami.

 

 

Jika seorang perempuan sudah di khitbah, maka dia memiliki konsekwensi, yaitu wanita yang sudah dikhitbah tidak boleh menerima lamaran dari laki-laki lain, sebelum terjadi pembatalan dengan yang pertama. Rasulullah saw., bersabda,

 

“Orang mukmin satu dengan yang lainnya bersaudara, tidak boleh ia membeli barang yang dibeli saudaranya dan meminang pinangan saudaranya sebelum ia meninggalkannya (membatalkan pinangan).” (HR. Ahmad dan Muslim).

 

 

Kemudian timbul pertanyaan di masyarakat, bolehkah kita membatalkan khitbah atau tunangan (baik laki-laki maupun perempuan)? Dalam hal ini, tentu kita boleh membatalkan khitbah, apabila keduanya atau salah seorang dari keduanya tidak berminat untuk meneruskan ke jenjang pernikahan, dengan pertimbangan tidak ada kecocokan lagi diantara keduanya dan khawatir apabila diteruskan ke pernikahan akan menimbulkan banyak kemadharatan.

 

 

Selain itu, perempuan juga boleh menolak khitbah atau lamaran laki-laki yang tidak sesuai seleranya. Namun, dikalangan umat Islam ada yang berpendapat tidak boleh! dengan merujuk pada sabda Nabi Saw,

 

Apabila datang kepadamu seorang yang engkau sukai agama dan akhlaknya untuk mengkhitbah, maka terimalah! Kalau itu tidak engkau lakukan maka akan terjadi fitnah dan kerusakan besar di muka bumi”. (H.R. Tirmidzi).

 

 

Hadits ini seringkali dijadikan alasan oleh para lelaki untuk menjerat perempuan yang disukainya agar mau menerima lamarannya, walaupun perempuan tersebut kurang “sreg”.

 

 

Sesungguhnya peringatan hadits ini kalau dibaca dalam konteks yang utuh, bukan ditujukan kepada perempuan, namun ditujukan kepada wali perempuan. Maksudnya, seorang wali harus menjadikan faktor akhlak dan keshalehan sebagai pertimbangan utama dalam menentukan jodoh untuk anaknya. Sementara perempuannya itu sendiri diberi kebebasan untuk menerima atau menolak lamaran siapapun, baik yang melamar itu “santri” ataupun “preman”.

 

 

Jadi sekali lagi Anda boleh membatalkan khitbah atau tunangan sekiranya ada hal yang membuat Anda ragu atau tidak mantap lagi untuk membina rumah tangga dengannya. Apalagi Anda tahu bahwa calon Anda tersebut mempunyai akhlak yang buruk atau tercela sehingga Anda khawatir nantinya dia tidak bisa menjadi suami,ayah dari anak-anak yang baik dan tidak membimbing keluarga.

 

 

Caranya bagaimana? Anda bisa sampaikan kepada orangtua Anda alasan-alasannya bahwa ternyata calon Anda akhlaknya buruk atau tidak baik. Lalu orangtua Anda menyampaikan kepada orangtua calon Anda. Tentunya dalam menyampaikan harus sopan,santun,ramah,baik-baik dan tidak merendahkan atau menjatuhkan martabatnya. Insya Allah mereka juga akan paham.

 

 

Menikah atau jodoh itu antara takdir dan ikhtiar atau pilihan. Dianggap takdir sekiranya dia awalnya diketahui baik dan shalih namun dalam perjalanannya mungkin setelah 5 tahun atau 10 tahun menikah, ia berubah menjadi berakhlak buruk. Nah, inikan tidak bisa diduga sebelumnnya (unpredicable).

 

 

Namun jika sejak awal Anda sudah tahu bahwa calon Anda berakhlak buruk kemudian Anda tetap melanjutkan ke pernikahan.Kemudian dalam perjalanannya semakin parah yang akhirnya bercerai maka ini bukan semata-mata takdir. Sebab sejak awal Anda sudah diberi pilihan atau sudah tahu, mau terus atau batal sehingga perjalanan rumah tangga Anda sudah bisa diprediksi (predicable).

 

 

 

Jadi sekali lagi menikah atau berumahtangga itu antara takdir dan ikhtiar. Tentu dua-duanya harus ditempuh dengan penuh kesabaran dan keikhlasan dalam menerimanya. Sekiranya jodoh kita ditakdirkan dengan orang baik dan shalih maka bersyukurlah dan berikhtirakan untuk merawat dan menjaga keshalihan itu hingga akhir hayat.

 

 

Namun sekiranya sebaliknya jodoh kita kurang shalih seperti yang diharapkan maka bersabarlah menerimanya sambil terus berikhtiar untuk memperbaiki menjadi lebih baik. Semoga Allah memberikan  hidayah-Nya dan menuntunnya kejalan yang diridhoi-Nya. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat.

 

 

 

Nah, terkait dengan pembahasan persiapan pernikahan dan permasalahannya berikut solusinya, Anda dan mojang bujang sekalian bisa baca buku saya yang berjudul “MENGAPA MENUNDA MENIKAH?“. Insya Allah ada pembahasan yang lebih detail berikut solusinya dengan dalil yang shahih. Wallahu a’lam bishawab.

 

5

 

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

890

 

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

(Visited 122 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment