Tips Jaga Psikologis Anak Pasca Perceraian

 

PERCIKANIMAN.ID – – Cerai, atau, perceraian, adalah sebuah kata yang paling tidak diinginkan oleh pasangan suami istri. Tidak ada satu pun pasangan yang menikah berakhir dengan perceraian, sebab tujuan menikah adalah membangun rumah tangga hingga tua.

 

 

Namun badai rumah tangga dalam mengarungi samudra bersama terkadang tidak dapat diselesaikan dengan sekedar berdamai. Untuk itu perceraian menjadi pilihan sulit sekaligus pahit yang harus ditempuh suami istri.

 

 

Memang sebuah keluarga memang bukan perkara mudah. Tidak jarang banyak pasangan suami-istri memutuskan untuk bercerai di tengah jalan. Namun sayangnya, mereka kurang memikirkan dampak buruk yang dialami oleh anak-anaknya.

 

 

Oleh karena itu, ketika sudah bercerai bukan berarti Anda harus bermusuhan dengan mantan pasangan terus-menerus. Pasalnya, anak Anda tetap membutuhkan kasih sayang dari kedua orangtuanya. Lantas, bagaimana menjaga hubungan baik itu supaya psikologis anak tidak goyah?

 

 

Psikolog Sani Budiantini membeberkan jawabannya. Setiap pasangan harus terus berkomunikasi dan tetap rukun. Meski Anda berdua sudah tidak tinggal satu atap setiap harinya.

 

 

“Yang pasti pasangan suami-istri yang sudah bercerai menyikapinya harus soft landing. Lihat kondisi anak dan tetap rukun,” ujarnya.

 

 

Dia mengingatkan, agar mantan pasangan tidak boleh saling menjelekkan sifat satu sama lain hanya karena egois. Pasti kalau Anda melakukan hal ini, dampaknya bikin anak mudah depresi dan putus asa.

 

 

Atau terlebih lagi, ada rasa benci dan dendam karena merasa dikhianati. Janganlah tunjukkan sikap itu kepada anak, sebab dia tidak mengerti fakta dari kasus perceraian orangtuanya.

 

 

“Agar tidak membenci atau menjelekkan satu dengan yang lain, sering saja bertemu paling tidak seminggu sekali. Itu jelas demi anak dan jangan dibatas-batasi,” tutur Sani.

 

 

Ketika anak merindukan sosok ayah atau ibunya, buat dialog terbuka dengan anak. Misalnya mengajaknya makan bersama di restoran favorit, pergi jalan-jalan ke mal, liburan bareng-bareng, atau momen sederhana lainnya seperti jemput anak di sekolah bersamaan.

 

 

“Sering-seringlah bangun kegiatan bersama supaya anak tidak putus komunikasi dengan ayah atau ibunya,” simpul dia. [ ]

 

Sumber: okezone.com

5

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

970

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

(Visited 75 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment